Sunday, 9 October 2016

Tentang Keunikan, Tradisi, & Pamali di Dusun Malandang

Menuju Dusun Malandang Buahdua
Pertigaan menuju Dusun Malandang di pusat Kecamatan Buahdua
Dusun Malandang, adalah nama salah satu daerah yang terletak di Kecamatan Buahdua, tepatnya di perbatasan antara Desa Buahdua dengan Desa Gendereh, Sumedang. Di Kabupaten Sumedang, nama daerah ini telah ada jauh sebelum nama dusun/desa lainnya ada, dimana menurut tokoh setempat, kemunculan nama "Malandang" untuk dusun tersebut sejaman dengan masa kerajaan. Atau dengan kata lain, nama "Malandang" sudah ada sejak jaman kerajaan Sumedang Larang, tepatnya ketika berada dalam pengaruh kesultanan Mataram.

Nama Malandang untuk dusun tersebut, dinisbatkan untuk menghormati salah seorang karuhun atau nenek moyang daerah setempat yang bernama Buyut Malandang. Rd. Agus Salam, adalah seseorang dibalik nama tersebut, Buyut Malandang sendiri merupakan sebutan penghormatan untuk beliau. Rd Agus Salam merupakan kepala Cutak yang membawahi daerah Buahdua pada masa Mataram. Kenapa Rd. Agus Salam kemudian mendapat panggilan hormat Buyut Malandang? Bisa dibaca di artikel berikut ;


Sebagai salah satu daerah buhun yang telah ada sebelum dusun atau desa lainnya dibuka, Dusun Malandang sangat kental akan budaya dan tradisi, yang masih kuat dipegang hingga saat ini. Sebut saja salah satunya adalah tradisi ngikis. Tradisi ngikis adalah sebuah kegiatan yang dilakukan satu tahun sekali, tepatnya menjelang kedatangan bulan Ramadhan.

Dalam prakteknya, tradisi ngikis adalah kegiatan "bebersih" makam atau situs Buyut Malandang.

"Bebersih saja, murni bebersih tidak ada ritual-ritual tertentu yang dilakukan. Kegiatannya seperti mencabuti rumput liar, mengganti pagar situs yang terbuat dari bambu, dan lain-lain. Intinya agar situs tetap bersih dan terawat," begitu penuturan Ede, salah satu penduduk asli Dusun Malandang yang kini menetap di dusun tetangga.

Menurut Ede, itu penting sebagai salah satu upaya agar situs tetap lestari, dan memberikan kenyamanan pada mereka yang berziarah.

"Karena yang berziarah kesini itu kontinyu, selalu ada. Utamanya pada bulan Mulud, dan malam Jumat kliwon," ujarnya.

Ede menambahkan, mereka yang berziarah ke situs Buyut Malandang tidak hanya dari Sumedang, tapi juga dari daerah lain.

"Dari luar kota juga banyak, terutama dari Jawa," rincinya.

Edeh mengungkapkan, dari obrolan-obrolan dengan para peziarah yang berasal dari Jawa. Terungkap silsilah bahwa mereka juga mengakui Buyut Malandang sebagai sesepuh.

Situs Buyut Malandang
Kartaman, Plh Sekdes Desa Buahdua, di Situs Buyut Malandang,
Dusun Malandang, Desa Buahdua, Kecamatan Buahdua
"Mereka bilang, Buyut Malandang juga adalah sepuh (orang tua) juga sekaligus sesepuh mereka. Itu sebabnya banyak yang ziarah kemari. Tapi cerita persisnya (silsilah Buyut Malandang sebagai sesepuh mereka) saya juga tidak tahu," jelasnya.

Tradisi ngikis dilakukan oleh seluruh penduduk Dusun Malandang. Yang unik, Dusun Malandang sendiri dari mulai berdiri sampai sekarang dihuni oleh tidak lebih dari 40 KK. Tidak pernah lebih dari itu. Itu berlangsung selama ratusan tahun.

"Jadi umpama ada satu keluarga baru tinggal di dusun tersebut, secara otomatis, tanpa paksaan, akan ada keluarga lain yang keluar/pindah. Dan itu penyebabnya alami tanpa direka-reka apalagi dipaksa. Misal ikut saudara, atau ada pekerjaan yang mengharuskan pindah," jelas Ede sambil mencontohkan, bahwa dirinya sendiri dan keluarga termasuk yang "tereleminasi" dari Dusun Malandang dan kini tinggal di dusun sebelah.

Menurut pengakuannya, sampai saat ini tidak ada yang tahu kenapa bisa demikian, yaitu kenapa penduduk Dusun Malandang tidak pernah bisa lebih dari 40 KK. Karena setelah generasi berganti, berita turun menurun penyebab keunikan itu tak pernah terwariskan secara lisan.

"Sampai orang tua saya pun tidak tahu kenapa bisa demikian. Mereka yang tahu jalan cerita dan asal muasal keunikan itu sudah pada meninggal," ungkapnya.

Berkaitan dengan situs Buyut Malandang pula, ada beberapa pamali yang tidak boleh dilanggar oleh penduduk. Pamali yang pertama, adalah tidak boleh menangkap monyet yang berkeliaran di sekitar area situs. Jika itu dilanggar, si pelanggar akan tertimpa musibah seperti sakit kulit "gimpa".

"Itu pernah ada yang melanggar, dan kejadian, tidak lama setelah itu kulit gimpa dan gatal, rupa-rupanya seperti terbakar. Dan setelah monyet dikembalikan (dilepas kembali di area situs), penyakit itu juga ikut hilang," jelas Ede.

Sementara pamali yang kedua, adalah tidak boleh menyebut "salam" untuk nama salah satu bumbu dapur, bumbu yang dimaksud adalah daun salam. Sebagai gantinya, penduduk menyebutnya dengan daun kopo.

"Hal tersebut dimaksudkan untuk sopan santun, menghormati Buyut Malandang dimana nama aslinya mengandung kata salam, Rd. Agus Salam. Dengan menyebut kata "salam" dianggap sama dengan menyebut nama orang tua secara langsung, tidak sopan," pungkas Ede.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.


EmoticonEmoticon