Thursday, 27 October 2016

Monumen Long March Siliwangi & Sumedang Sebagai Jogja Ke 2

Monumen Long March Siliwangi di Darongdong Buahdua
Monumen Long March Siliwangi di Darongdong Buahdua
Antara Monumen Long March Siliwangi & Sumedang Sebagai Jogja Ke Dua – Darongdong, adalah nama sebuah tempat di Desa Buahdua, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Selintas, tidak ada yang menonjol dari dusun yang berlokasi tidak jauh dari kantor Camat Buahdua ini, dimana pemandangan khas desa tersaji sejauh mata memandang.

Kecamatan Buahdua sendiri merupakan salah satu kecamatan yang berjarak cukup jauh dari pusat kota Sumedang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Indramayu. Dari ilustrasi tersebut tentu sobat bisa bayangkan, tentang bagaimana Darongdong sebagai suatu daerah yang berada di perbatasan wilayah.

Tapi tahukah sobat, Darongdong yang termasuk wilayah “pasisian” Sumedang tersebut mempunyai temali sejarah yang kuat dengan sebuah daerah istimewa di negara ini, Jogjakarta. Dan tentu, juga menjadi bagian tak terpisahkan dari mewujudnya Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan. Saking kuatnya ikatan sejarah yang ada, dulu Sumedang mendapat julukan Jogja ke dua dalam bingkai negara NKRI.

Bahkan untuk mengenang peristiwa tersebut, di Darongdong dibangun sebuah monumen yang sangat megah seperti monumen Bandung Lautan Api. Namun karena berada di pelosok desa, kemegahan monumen tersebut terlihat kontras dengan suasana sekitarnya. Dan karena kurang terekspose monumen yang ada jadi terasa kurang monumental, seperti julukan Sumedang sebagai Jogja ke 2, tak banyak yang tahu tentang hal tersebut.

Lalu bagaimana ceritanya, bagaimana sejarahnya Sumedang bisa disebut sebagai Jogja ke dua? Kenapa pula Darongdong berperan penting dalam keutuhan Indonesia sebagai negara kesatuan? Berikut akan coba admin ceritakan kembali sejarah dibalik itu semua, dari beberapa litelatur yang admin baca ;

***

Kita tentu sudah mengetahui, bahwa secara gampangnya, negara Indonesia dulunya dibentuk oleh daerah-daerah, kerajaan-kerajaan, yang memutuskan untuk bersatu dan membentuk sebuah negara baru karena memiliki pengalaman yang sama, dijajah Belanda. Atau dengan kata lain NKRI terbentuk dari daerah jajahan Belanda yang menyatukan diri, dan menghilangkan sekat-sekat kedaerahan. Itu tercantum dalam Sumpah Pemuda.
Tapi dalam perjalanannya, bentuk negara Indonesia sempat berubah menjadi negara Serikat yaitu Republik Indonesia Serikat (RIS). Dalam Republik Indonesia Serikat, Republik Indonesia hanya menjadi salah satu negara bagian, yang beribukota di Jogjakarta. Saat itu, 90% daerah Indonesia lain kembali jatuh ke tangan Belanda dalam bentuk negara boneka. Hanya RI yang beribukota di Yogyakarta lah yang benar-benar berdaulat.

Perubahan bentuk negara tersebut merupakan buah dari perjanjian Renville (17 Januari 1948) yang sangat merugikan Indonesia. Dikutip dari wikipedia, isi perjanjian tersebut secara garis besar adalah ;
  1. Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia. (Ada pula sumber yang menyebutkan wilayah Republik Indonesia meliputi Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Kedu, Madiun, sebagian keresidenan Semarang, Pekalongan, Tegal bagian selatan dan Banyumas)
  2. Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dengan daerah pendudukan Belanda
  3. TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan Jawa Barat dan Jawa Timur.

Dengan ditandatanganinya Perjanjian Renville yang merupakan kelanjutan dari perselisihan (Indonesia - Belanda) atas Perjanjian Linggarjati tersebut, wilayah Republik Indonesia jauh menyusut dari yang asalnya membentang dari Sabang sampai Merauke. Dan sesuai point ke 3, pasukan bersenjata RI yaitu TNI yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Timur (yang saat itu bukan lagi bagian dari Republik Indonesia) harus ditarik ke negara bagian Republik Indonesia (Jogja dan sekitarnya).

Namun belum lama perjanjian Renville berjalan, pihak Belanda melakukan pelanggaran dengan menyerang Yogyakarta. Serangan ini dikenal dengan Agresi Militer Belanda II. Peristiwa ini kemudian menyulut perlawanan, pasukan bersenjata RI kembali pulang ke daerahnya untuk menduduki kantong-kantong perlawanan di daerah (termasuk Jawa Barat).

Atas intruksi Panglima Besar angkatan bersenjata, mereka yang hijrah ke Jogja kembali pulang ke daerah yang ditinggalkan. Salah satunya pointnya adalah sebagai bentuk perlawanan atas pelanggaran perjanjian. Dari sini lahirlah gerakan Long March Siliwangi, yaitu peristiwa pindahnya Tentara Nasional Indonesia dari Jawa Tengah dan Yogyakarta ke Jawa Barat pada 4 Februari 1949.

Ya, pecahnya Agresi Militer II menjadi pintu gerbang pasukan asal Jawa barat untuk kembali ke daerah asalnya. Peristiwa ini sangat bersejarah, dimana dalam Long March Siliwangi seluruh personel berjalan kaki menuju daerah asal untuk menancapkan kembali Merah Putih di bumi pertiwi, bersama istri dan anak-anaknya. Kenapa dengan istri dan anak-anaknya? Sebab pada saat TNI hijrah ke Jogja, mau tak mau istri dan anak harus menyusul karena satu dan lain hal.

Long March Siliwangi dilaksanakan banyak Brigade dengan menempuh berbagai rute. Dan, Long March Siliwangi Brigade XIII yang dipimpin Kolonel Sadikin sukses mencapai daerah yang telah ditentukan, Buahdua Sumedang. Tapi sudah bukan rahasia, di perjalanan banyak sekali anggota Long March yang gugur karena berbagai sebab. Tidak sedikit pula anggota Long March (TNI) yang kehilangan anggota keluarganya. Mulai dari medan yang ekstrim, jebakan musuh, pemberontakan, semua menghilangkan banyak nyawa dari mereka.

Hingga pada akhirnya, pada tanggal 10 November 1949, bertempat di lapang Darongdong yang ketika itu masih berupa sawah atau tegalan, dilakukan Upacara Kemerdekaan Penyematan Bintang Gerilya, pada tentara Siliwangi yang hijrah dari Jogjakarta ke Buahdua. Itu pertama kalinya dilakukan Republik Indonesia setelah kurang lebih 5 tahun bergelut dalam revolusi fisik. Turut hadir dalam peristiwa tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono IX serta komandan tertinggi Terotorium III Pasukan Siliwangi, Kolonel Sadikin.

***
Monumen Longmarch Siliwangi Darongdong buahdua
Peresmian Monumen Long March Siliwangi di Darongdong Buahdua
Karena rentetan peristiwa tersebutlah, Buahdua khususnya, dan Sumedang umumnya mendapat julukan Jogja dua. Dimana setelah revolusi berakhir, Indonesia kembali dalam bentuk negara kesatuan. Hingga saat ini, Napak Tilas Siliwangi yang dihadiri kalangan sipil dan militer dari berbagai kesatuan rutin dilakukan di tempat tersebut setiap tahunnya.

Monumen Long March Siliwangi begitu megah, dengan relief-relief mengisah perjuangan dan perlawanan atas penjajah pada dinding-dindingnya. Adapun teks yang tertera pada bagian tengahnya adalah sebagai berikut ;

Esa Hilang Dua Terbilang
Siliwangi Abdi Abadi Ampera

Amanat Panglima Besar Sudirman Tahun 1946
Tentara kita jangan sekali-kali menyerah kepada siapapun juga yang akan menjajah dan menindas kita kembali

Amanat Panglima Besar Sudirman Tahun 1949
Satu-satunya milik nasional Republik Indonesia yang masih tetap utuh tidak berubah-ubah meskipun harus menghadapi segala macam soal dan perubahan adalah TNI

Prinsip pejuang
Lebih baik mati berkalang tanah daripada menghianati perjuangan Bangsa Indonesia

Para pahlawan yang gugur

Mayor Abdulrahman Natakusumah
Komandan Batalyon II/Tarumanegara

Kapten Edi Soemadipradja
Komandan Kompi II Batalyon II Tarumanegara

Sersan Sobur

Kopral Karna

Sersan Roni

Prajurit Saleh

Sersan Darsono

Sersan Dahlan
Anak Buah kapten Rivai

Soemawidjadja
Kepala Desa Cibubuan

Tirta
Masyarakat Dusun Lencang Cibubuan

Suwita
Pemuda Dusun Sampora – Cibubuan

Dan para pahlawan tak dikenal

Sekian, semoga bermanfaat. Mohon dikoreksi jika terdapat kesalahan pada alur sejarah di atas.
Monumen Longmarch Siliwangi Darongdong buahdua
Monumen Long March Siliwangi di Darongdong Buahdua Dengan Landscape Gunung Tampomas

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

2 komentar

Benar-benar megah, ini ibarat meonumen jogja kembalinya orang sumedang.
Begitu beratnya TNI menjaga dan mempertahankan kemerdekaan negara kita ya ? Semboyannya bikin merinding saja.

Bukan hanya orang Sumedang mas, tapi Divisi Siliwangi...
Hiya dan pastinya kita harus bisa menjaganya


EmoticonEmoticon