Monday, 31 October 2016

Mitos Lulut, Ulat Pembawa Keberuntungan

ulat lulut emas
Ulat Lulut Emas
Mitos Lulut, Ulat Pembawa Keberuntungan - Lulut, apa diantara sobat ada yang pernah melihat binatang ini? Sepintas rupanya seperti ulat, ulat jengkal tepatnya, tapi ukuran tubuhnya relatif lebih kecil, mirip belatung. Berdasar pengalaman mereka yang pernah melihat, lulut biasanya muncul pagi hari ketika udara sedang dingin-dinginnya di musim penghujan. Ia biasanya muncul di kebun-kebun, hutan, atau pekarangan rumah yang lembab dan penuh tumbuhan.

Berdasar dari itu, melihat dari bentuk tubuhnya pula, binatang ini sepertinya memang menyukai habitat lembab, gembur, dan basah. Karenanya seiring banyaknya lahan yang beralih fungsi menjadi rumah, jalan, dan lain sebagainya, lulut juga semakin jarang terlihat. Bahkan mereka orang-orang yang termasuk usia sepuh pun mengaku hanya pernah sekali dua kali saja melihatnya. Itu pertanda bahwa binatang yang selalu muncul bergerombol ini memang sudah semakin langka.

Ya, lulut selalu muncul dalam koloni, diperkiran satu gerombol bisa mencapai jumlah ribuan ekor lulut. Entah darimana asalnya tapi ketika mereka menapaki sebuah area, mereka selalu jalan bergerombol seperti mengikuti satu pemimpin. Jika, terusik sedikit saja, mereka akan langsung berpencar seperti rombongan pasukan yang membubarkan diri. Lulut konon terdiri dari dua jenis, yaitu lulut hitam dan lulut emas.

Di tatar Sunda umumnya dan Sumedang khususnya, lulut emas sangat lekat dengan sebuah kepercayaan, dimana kepercayaan tersebut muncul dari kearifan lokal daerah setempat. Kepercayaan yang juga berbalut mitos tentang binatang ini diantaranya adalah sebagai pembawa keberuntungan, Ya, lulut didaulat sebagai binatang pembawa hoki!

Orang tua dulu menyebut, mana saja pekarangan atau kebun yang dilewati binatang ini, akan membawa rejeki. Adapun jika yang dilewati gerombolan lulut tersebut adalah pekarangan rumah seorang pedagang, maka usahanya akan laris manis, dimana pembeli akan berduyun membeli seperti rupa lulut yang selalu berduyun dan bergerombol. Karenannya, siapa saja yang melihat binatang ini sangat-sangat dilarang untuk membunuhnya, pamali!
Segerombol Ulat Lulut Emas
Segerombol Ulat Lulut Emas
Tapi benarkah demikian? Benarkah lulut membawa hoki? Benarkah siapa saja yang melihat dan tidak membunuhnya akan diliputi keberuntungan hidup? Entahlah. Tapi sepintas dari larangan yang disebut orang tua jaman dulu itu terlihat, bahwa dilarang keras untuk membunuh binatang ini. Tentu, itu berdasar pada kasih sayang pada sesama makhluk hidup, manusia akan dicap sangat jahat di alam langit jika berani membunuh ribuan makhluk yang sama sekali tak mengganggu ini.

Mungkin, pesan itulah yang sebenarnya ingin disampaikan. Adapun "membawa keberuntungan" adalah bumbu yang disesuaikan dengan zamannya. Lagipula memang suatu keberuntungan, jika terhindar dari dosa membunuh ribuan makhluk yang sama sekali tak mengganggu.

Sepintas memang sangat mudah membasmi segerombol lulut karena binatang ini bergerak relatif lambat. Disiram bensin dan dibakar pun mereka yang ribuan jumlahnya akan langsung habis. Atau datangkan ayam ke lokasi kemunculannya, mereka akan langsung habis dimakan. Bukan apa-apa, dorongan untuk membunuh makhluk ini biasanya sangat besar, mengingat rupanya yang menjijikkan bagi sebagian orang dan membuat bergidik. Jadi larangan untuk membunuh lulut, semata-mata hanya untuk melindungi keberadaannya, agar tetap lestari. Karena sekecil apapun makhluk pasti punya andil dalam menjaga keseimbangan ekosistem, apalagi lulut sudah jarang bisa ditemui, termasuk langka.

Sayangnya, banyak yang salah kaprah mengartikan anjuran dan pamali dari karuhun terkait larangan membunuh lulut ini. Dilarang membunuh lulut memang dilaksanakan, tapi embel-embel "akan membawa hoki" membuat sisi tamak manusia terlihat. Seperti misal, lulut yang muncul memang tidak dibunuh, tapi diambil dan disimpan dalam sebuah wadah untuk kemudian dipelihara, diberi pakan. Bukankah itu tetap menyalahi apa-apa yang dianjurkan? Karena sejatinya dilarang untuk membunuh lulut adalah agar binatang ini tidak punah dan bisa berkembang biak di alam bebas.

Lulut, meski sekilas tampak menjijikkan tapi mereka tidak mengganggu. Mereka akan hilang beberapa saat setelah kemunculannya. Gerombolan binatang ini akan raib dengan sendirinya tanpa harus diusir-usir. Adapun jejak yang ditinggalkan biasanya dalah berupa tapak basah berupa lendir yang mudah mengering, mirip tapak keong atau bekicot.

Sekian, semoga bermanfaat.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

2 komentar

Beruntung bagi yang suka mancing,,, pakan bagus tuh...

Yeh, kan gak boleh dibunuh ulatnya Mang


EmoticonEmoticon