Sunday, 11 September 2016

Mak Yayah Sang Tabib Cacing

Mak Yayah di kediamannya, bersama beberapa gelas jus cacing 
yang sudah dihabiskan pasien, juga yang siap dibawa pulang
Mak Yayah Sang Tabib Cacing Sumedang - Cacing, apa yang pertama terlintas di pikiran sobat ketika mendengar nama binatang yang satu ini? Geli? Kenyal? Kotor? Itu tidak sepenuhnya salah, karena rasanya memang itulah gambaran yang paling umum. Tapi sudah bukan rahasia juga, cacing, binatang yang tak pernah berhenti menggeliat ini juga seringkali dijadikan obat alternatif bagi banyak penyakit. Ia dipercaya bisa mengobati berbagai keluhan kesehatan.

Untuk pengobatan alternatif, banyak yang mencoba mengolahnya sendiri, ada juga yang membuka “praktek” pengobatan menggunakan binatang yang sepintas tak memiliki tangan, kaki, mata, dan anggota tubuh lainnya ini. Di Sumedang sendiri, ada yang serupa. Di daerah Gending, terdapat seorang (katakanlah) Tabib yang menggunakan cacing sebagai media pengobatannya. Mak Yayah, begitulah ia biasa dipanggil, beralamat di Jalan Gending No. 18 yang sangat dekat dengan lapangan parkir Gending Futsal, mengaku telah lama membuka praktek pengobatan yang terbilang unik tersebut.

“Emak juga tidak ingat persisnya kapan (memulai praktek pengobatan), tapi kalau tidak salah sih dari sekitar tahun 90-an, jauh sebelum krismon,” Ujarnya. Ibu paruh baya berusia 59 tahun itu mengatakan, sejak saat itu sampai sekarang, selalu ada saja orang yang datang ke rumahnya untuk melakukan pengobatan.

“Tiap hari Alhamdulillah ada saja, paling lama kosong dua hari,” Katanya sembari menerangkan bahwa ia mendapat keahlian pengobatan unik itu dari kakeknya, seperti ilmu yang diwariskan.

Menurutnya, selama ini di Sumedang bukan satu dua yang coba meniru cara pengobatannya, tapi semua gagal. “Alhamdulillah mungkin masih rejeki saya,” Ujarnya sambil menerangkan bahwa ada wirid-wirid tertentu yang selalu ia amalkan untuk menjaga khasiat jus cacingnya.

Mak Yayah menerangkan, banyak penyakit yang bisa diobati menggunakan cacing (seperti yang dipraktekannya), sebut saja lambung, panas, tifus, radang tenggorokan, kolesterol, wasir, sampai diabetes. Cara mengolahnya pun sederhana, dimana cacing segar dihaluskan dan dicampur bersama rempah-rempah untuk menghilangkan bau amisnya.

“Bentuk obatnya sendiri nantinya jadi seperti jus, dijamin tidak pahit atau amis karena ditambah rempah-rempah dan madu,” Terangnya.

Jus cacing buatan Mak Yayah ini tidak bisa didiamkan terlalu lama, kebanyakan mereka yang berobat meminumnya di tempat, adapun jika dibawa pulang, ia hanya bisa bertahan kira-kira 10 jam (pagi-malam) jika disimpan di lemari pendingin. Sejauh ini, menurut pengakuannya, sudah banyak yang merasakan manfaat dari jus cacingnya, dimana mereka yang berobat bukan hanya datang dari Sumedang saja, tapi juga dari Majalengka hingga Bandung, dimana kebanyakan tahu tentang praktek pengobatannya melalui berita dari mulut ke mulut.

Mak Yayah yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu menjelaskan, bahwa cacing yang digunakan dalam pengobatannya adalah cacing kalung yang berukuran besar. Ia juga menegaskan, cacing yang digunakan dijamin bersih dan segar sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

“Tentu cacingnya segar karena tangkapan langsung dari alam. Cara mengolahnya pun seapik mungkin (sehingga dijamin bersih). Cacing yang dipakai (sebelum diolah) harus mulus dan utuh, tidak boleh luka apalagi putus,” Terangnya.

Untuk satu gelas jus cacing, Mak Yayah mematok harga Rp. 30.000. Harga itu dirasa tidak terlalu mahal karena mencari cacingnya pun sulit. Menurutnya, cacing-cacing yang dipakai sama sekali tidak bisa dipelihara atau disimpan terlalu lama. Sehingga untuk stok cacingnya, setiap tiga hari sekali ia minta tolong pada seseorang untuk mencarikan cacing di sawah-sawah dan di tempat-tempat lainnya.

“Ya tentu saja dengan imbalan (menyuruh seseorang mencari cacing). Dalam tiga hari, satu ember cacing Alhamdulillah selalu habis,” Ujarnya. Ia juga menambahkan, jika akan meminum jus cacingnya harus ada jeda sekitar dua jam jika sebelumnya telah meminum obat-obatan kimia.

Ia mengisahkan, mereka yang datang tidak hanya dari itikad sendiri, tapi banyak juga yang dirujuk, atau diarahkan langsung dari rumah sakit tempat pasien pernah dirawat sebelumnya. Hal tersebut diamini oleh salah satu pasien Mak Yayah, Neng, yang kebetulan sedang berkunjung/berobat ke rumah Mak Yayah.

“Iya, saya kemarin bolak-balik dirawat di RS karena tifus dan harus terus check up. Kemarin, ada salah satu petugas kesehatan di RS yang menyarankan datang kesini, jadi mungkin pengobatan Mak Yayah ini memang recomended,” Ucap Neng sambil menyeruput jus cacingnya, wajah pucat pasi masih terlihat jelas di wajah ibu asal Sukatali itu.

“Kalau memang begitu ya Alhamdulillah, berarti terpakai dan (ilmu ini) memang berguna. Semoga yang datang ke sini lekas menemukan kesembuhan,” Pungkas Mak Yayah.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.


EmoticonEmoticon