Monday, 6 June 2016

Asal Mula Nama Desa Jatihurip

Kantor Kepala Desa Jatihurip, Sumedang Utara
Kantor Kepala Desa Jatihurip, Sumedang Utara
Desa Jatihurip merupakan salah satu desa di Sumedang yang secara administratif masuk dalam lingkup Kecamatan Sumedang Utara, dengan kantor kepala desa beralamat di Jalan Desa Jatihurip no.72, desa ini berada sangat dekat dengan pusat kota Sumedang. Jatihurip, kira-kira kenapa ya desa ini dinamakan "Jatihurip"? Selalu ada cerita di balik setiap nama, bukan begitu?

Ternyata, memang ada cerita rakyat dibalik terbentuknya nama desa tersebut, ya, langsung saja kita simak cerita turun temurun asal mula nama Desa Jatihurip berikut ini.

Asal Mula Nama Desa Jatihurip

Sebelum ada nama Jatihurip, dulunya, daerah dimana desa Jatihurip sekarang berada merupakan hutan belantara. Hutan tersebut banyak ditumbuhi semak dan berbagai macam jenis pohon, mulai dari yang berukuran kecil, hingga yang besar. Di antara pohon-pohon yang ada, pohon bambu dan pohon jati adalah yang paling banyak jumlahnya.

Meski masih berupa hutan belantara, ada satu keluarga yang berani tinggal mengasing di hutan tersebut. Keluarga itu beranggotakan kakek nenek beserta cucu-cucunya. Sudah cukup lama mereka tinggal di hutan yang banyak ditumbuhi pohon bambu dan jati itu, merasa nyaman mereka walau tinggal dalam rumah bilik/gubuk.

Pada suatu hari, sang cucu yang bungsu pergi masuk lebih dalam ke belantara untuk mencari kayu bakar. Di sebuah tempat di hutan itu, ia melihat pohon jati yang amat besar dan amat tinggi, takjub ia melihatnya. Walau ragu dan takut karena pohon itu teramat besar, dengan jenggot yang merumbai, gagah dengan cabang-cabang kokoh dan akar-akar yang kuat menyembul dari tanah, ia coba mendekatinya, Benar saja, bulu kuduknya berdiri meski baru beberapa langkah saja mendekati.

Bergegas pulang ia, langkah cepatnya hampir terbirit, langsung ditemuinya sang kakak. Dengan tersengal, ia bercerita pada si cikal tentang apa yang dilihatnya tadi di dalam hutan. Setelah mendengarkan dengan seksama, tanpa berani mendatanginya langsung, si cikal setuju dengan apa yang diceritakan adiknya, bahwa pohon itu angker, menyeramkan.

Sedang asyik keduanya berbincang tentang keangkeran yang ada, kakek neneknya datang menghampiri, hingga sampailah cerita si bungsu di telinga kedua sepuh itu. Ternyata bukan hanya sang kakak, mereka pun, kakek neneknya, mengamini cerita si bungsu. Tak ada dari mereka yang berani mendekati pohon jati yang dimaksud.

Tidak lama setelah cerita itu jadi santapan bersama, ada gempa besar terjadi. Bumi seperti bergoyang karenanya, kerusakan pun melanda hutan itu, banyak pohon yang tak lagi bisa tegak berdiri. Dahan-dahan yang patah, akar-akar yang tercerabut, terlihat di sana-sini. Untunglah gubuk keluarga itu aman, tak tertimpa pohon yang runtuh, pun tak tersambar retakan tanah.

Selesai gempa, kakek nenek dan cucu-cucunya itu penasaran, bagaimana nasibnya pohon jati yang angker itu? bergegas mereka mencarinya ke dalam belantara yang tak lagi utuh. Dan benar saja, sesuai dugaan, pohon jati yang besar dan tinggi itu tumbang, dahan-dahan kokohnya berserak, tak kuat ia melawan ganasnya alam, gempa itu begitu hebat.

Waktu terus berlalu sejak saat itu, hari berganti mingu, minggu berganti bulan, keluarga itu tetap menjalankan keseharian mereka di hutan yang mereka tinggali. Alam begitu lambat memulihkan lukanya, pohon-pohon hijau yang tumbang tak bisa berganti seketika.

Si bungsu dan kakaknya harus tetap mengumpulkan kayu bakar, tiap hari mereka menyusuri hutan seperti biasa. Hingga pada suatu waktu, beberapa bulan setelah terjadinya gempa tempo hari, mereka kembali sampai ke tempat dimana pohon jati angker itu berada, yang dulu mereka saksikan sendiri pohon itu telah rubuh dihantam gempa.

Tapi kali ini mata mereka terbelalak, banyak tunas-tunas kecil dengan pucuknya yang rimbun tumbuh dari sisa batang dan akar jati yang masih menancap kedalam tanah. Itu akan jadi penerus pohon jati yang hilang lantak dilibas ganasnya gempa. Alam yang lambat memulihkan luka tak terlihat di tempat itu.

Karena hal itu lah, tempat pohon jati angker yang rubuh itu berada dikemudian hari dikenal dengan nama "Jatihurip", yang berasal dari kata Jati (pohon jati) dan hurip yang berarti hidup, tempat dimana pohon jati bisa tumbuh dengan mudah.

Narasumber : Sesepuh desa, Ibu Enar (04 Desember 1937)
*digubah dari liesganesti.blogspot.com

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

2 komentar

setiap desa memang punya cerita asal muasal berdirinya, seperti halnya desa gunung anyar yg saya tinggali sekarang, mas. :D

salam dari surabaya

Salam juga mas :D
Iya mas, rata-rata seperti itu ya...
saya tebak deh, ceritanya tentang gunung yang baru berdiri kan? *jangan dijitak kalau salah


EmoticonEmoticon