Tuesday, 31 May 2016

Tentang Seni Reak

Seni Reak
Seni Reak. Image By facebook Mek'x Putra Medal Saluyu
Apa yang pertama kali sobat rasa setelah melihat foto seseorang mengenakan sejenis “topeng” di atas? seram? atau minimal berkata, “ini topeng apa ya? bentuk dan rupanya tidak biasa,”. Jika iya, berarti kita sama, itu yang admin rasakan ketika pertama kali melihat seseorang memakainya dulu.

Ya, topeng berbentuk singa berambut hitam, disambung dengan “kostum” dari karung goni yang menelan hampir seluruh tubuh si pemakai, agak seram juga bagi yang pertama melihatnya. Apalagi rahang sang singa menganga dengan mata yang terus membelalak. Dalam pertunjukannya, si pemakai kostum melenggak-lenggok kesana kemari membuka tutup rahang singanya, terkadang mereka seperti trance, tidak menyadari apa yang dilakukannya.

Dalam pertunjukan? maksudnya? apa ini sebuah kesenian? jawabannya adalah, ya. Seni Reak namanya, adalah kesenian yang dapat dijumpai di beberapa daerah tatar Sunda seperti Bandung, Karawang, Subang, Sumedang, dan sekitarnya. Biasanya, seni ini dipentaskan pada sebuah pesta yang mengundang keramaian seperti khitanan, syukuran panen, pernikahan, sampai 17 Agustusan. Dalam prakteknya, biasa dimainkan oleh mereka yang sudah sepuh atau dewasa.

Di tanah Pasundan kesenian ini relatif mudah dijumpai, pegiat seninya ada hampir di setiap Kabupaten. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa seni tradisional yang telah menyebar hampir ke seluruh pelosok Jawa Barat ini awalnya berasal dari Sumedang, tepatnya dari Kecamatan Rancakalong.

Ya, Seni Reak, sebuah seni yang mengawinkan seni reog, angklung, kendang pencak, seni tari, dan seni topeng ini berasal dari Rancakalong, Sumedang. Adapun sekarang seni reak bisa ada di berbagai daerah, adalah dulunya dibawa oleh mereka warga Rancakalong yang mengembara, dan menetap di daerah pengembaraan mereka.

Dulunya, konon Seni Reak ini diciptakan untuk menarik perhatian anak-anak yang sudah masuk usia khitan. Diharapkan dengan kemeriahan pementasan seni ini, anak-anak yang takut dikhitan/sunat bersedia melakoni kewajiban yang harus dilalui seorang lelaki menuju usia balighnya itu.

Dengan iring-iringan bunyi dari seperangkat instrument etnik Sunda, itu menciptakan kemeriahan yang diharapkan bisa menyingkirkan rasa takut. Digelar di tempat terbuka, dan diarak berkeliling menyusuri jalan-jalan desa dengan berbagai tabuhannya (mirip-mirip dengan Kesenian Kuda Renggong), anak mana yang tidak terhibur dengan itu?

Meski demikian, sejak kapan kesenian ini ada, sampai sekarang masih menjadi perbincangan. Sebagian menyebutkan Seni Reak ini peninggalan dari masa kerajaan Pajajaran, ada pula yang menyebut kesenian ini mulai muncul pada masa kerajaan Sumedang Larang. 

Pendapat yang kedua diperkuat argumen bahwa kesenian Sunda ini seperti kental sekali mendapat pengaruh budaya Pajang dan Mataram, pada masa Sumedang Larang lah daerah Sunda begitu intens berinteraksi dengan kedua daerah itu, baik dalam hal politik maupun budaya. Lalu, ada pula yang menyebutkan bahwa kesenian ini muncul pada masa penjajahan Belanda, sebagai bentuk kritik masyarakat para priyayi yang pro pada pemerintahan kolonial Belanda. 

Tapi jika dihubungkan dengan awal mula kenapa seni ini dibuat, yaitu untuk menghibur mereka yang akan/sudah di khitan, banyak yang mengamini folklore atau cerita rakyat bahwa Seni Reak ini mulai ada pada masa Prabu Kiansantang. Pada cerita rakyat itu disebutkan, pada abad ke 12 putera dari Prabu Siliwangi itu bermaksud untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat.

Pada prosesnya, Kiansantang menemui kendala saat mendakwahkan kewajiban sunat/khitan pada setiap laki-laki, kebanyakan dari anak-anak merasa takut dengan itu. Ikut memikirkan apa yang menjadi kendala Kinasantang dalam dakwahnya, agar anak-anak tidak takut dikhitan, sesepuh di Sumedang akhirnya menciptakan suatu kesenian yang mengundang keramaian, yang diharapkan bisa menghibur pengantin sunat. Kesenian itulah yang sekarang dikenal dengan Seni Reak.

Penggunaan kata “reak” dalam seni ini juga memunculkan banyak pendapat. Sebagian mengatakan “reak” berasal dari kata “reog”, mirip dengan nama kesenian dari Jawa Timur, terutama Reog Ponorogo, keduanya pun sama menggunakan topeng sebagai salah satu media seninya.  Sebagian lagi menyatakan bahwa “reak” berasal dari kata “leak”, yakni salah satu simbol kekuatan jahat dalam tradisi Hindu-Bali, yang menyimbolkan Batara Kala atau ogoh-ogoh, ini pun sama, menggunakan topeng sebagai media seninya. Adapun Reak maupun Reog, menurut sebagian pandangan berasal dari kata Arab “riyyuq” yang artinya “bagus/sempurna di akhir” atau khusnul khatimah.

Ada pula yang menyebutkan, hirup-pikuk serta sorak-sorai dari pemain dan penonton saat digelarnya seni inilah yang menjadikannya dinamakan Seni Reak, diambil dari kata hirup-pikuk, atau sorak-sorai gemuruh tetabuhan dalam bahasa Sunda yaitu : “susurakan atau eak-eakan”, sehingga jadilah kesenian yang hiruk-pikuk dan bergemuruh karena sorak-sorai ini menjadi “Seni Reak”.

Dan yang kerap menjadi pertanyaan juga adalah, kenapa singa? kenapa singa yang dipilih sebagai ilustrasi pada topeng Seni Reak ini? di wilayah Sunda kan tidak ada binatang berupa singa? Dengan pertanyaan itu, dapat dipastikan bahwa singa merupakan “pemodelan” import. Sebagian menyebutkan bahwa singa muncul sebagai bentuk pengaruh dari tradisi Cina yang sudah masuk ke Nusantara sejak lama. Ada pula yang menyebut, kenapa singa? karena singa dianggap sebagai binatang yang kuat, raja hutan, dengan demikian Seni Reak secara simbolik memiliki makna pengendalian kekuatan yang mewujud keindahan dan keluwesan (dalam gerak tari dan iringan musik).

*dihimpun dari berbagai sumber

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

2 komentar

mantappp, lanjut terus kang jerry #ilovesmd


EmoticonEmoticon