Thursday, 19 May 2016

Mengenang Deddy 'Doa Restu' Dores

Deddy Dores. Image By senggang.republika.co.id
Mengenang Deddy 'Doa Restu' Dores - Siapa tak mengenal Deddy Dores, seniman dengan nama asli Dedi Suriadi, lahir di Surabaya 28 November 1950 dan meninggal di Tangerang Selatan 17 Mei 2016 lalu pada umur 65 tahun, merupakan penyanyi dan pencipta lagu legendaris Indonesia. Karya-karya fenomenalnya tak pernah ditinggal pecinta musik di negeri ini, yang dengannya, kini tembang-tembang ciptaannya itu akan membawa kenangan tersendiri ketika didengar kembali.

Deddy Dores, sang maestro memang tidak lahir dan dibesarkan di Sumedang, tapi darah Sumedang tetap mengalir dalam dirinya, itu pula yang membuatnya pernah berpikir untuk maju menjadi calon bupati Sumedang pada pemilihan yang akan datang (2018). Untuk mengenang beliau, berikut admin rangkum perjalanan hidup Deddy Dores dari beberapa sumber, semoga dapat menginspirasi kita semua.

  • Kakek dan Neneknya di Sumedang
VIVA.co.id – Jenazah Deddy Dores telah dimakamkan di TPU Poponclot, Desa Cijeler, Situraja, Sumedang, Jawa Barat, Rabu, 18 Mei 2016. Meskipun merupakan tempat pemakaman umum, sejumlah anggota keluarga besar almarhum dikebumikan di makam tersebut.

Suasana makamnya begitu rindang. Di kompleks pemakaman itu, kakek dan nenek almarhum juga dikebumikan.

"Setelah dimakamkan di makam keluarga, rencananya malam ini keluarga akan mengadakan tahlilan di Kopo, Bandung, kediaman almarhum," kata Agnes Hellyawati, anak pertama Deddy, di Sumedang, Jawa Barat, Rabu, 18 Mei 2016.

Agnes pun sempat bercerita mengapa ayahnya dimakamkan di Sumedang Jawa Barat.

"Kemarin sempat tanya om Yoni (saudara kandung Deddy Dores) mau dimakamin dimana, gimana kalau di Sumedang, saya langsung iyain, padahal biasanya saya suka mikir-mikir," kata Agnes lagi.

Sebelumnya, saat proses pemakaman berlangsung, keluarga terlihat tak bisa menahan tangis. Masyarakat Sumedang juga tak bisa menutupi kesedihan. Mereka ikut mengantar pencipta lagu dan penyanyi pop lawas ini ke tempat peristirahatan terakhir.

Jenazah Deddy tiba di Sumedang pukul 11.00 WIB dengan ambulans dari Jakarta. Kedatangan Deddy langsung disambut ratusan warga Sumedang yang sudah menunggu. Jenazah langsung dimandikan dan disalatkan. Setelah itu diantar ke pemakaman. (life.viva.co.id - Deddy Dores kembali bersama kakek-neneknya di Sumedang)

  •  Deddy Dores Bukanlah Nama Sebenarnya, Ini Kisahnya
TEMPO.CO, Bandung - Siapa yang tidak kenal nama Deddy Dores? Musikus kawakan kelahiran 20 Oktober 1950 dan tutup usia pada Rabu, 18 Mei 2016, ini mampu melejitkan nama Nike Ardila (almarhumah) sebagai lady rocker Indonesia. Tapi nama panjang Deddy sebenarnya bukanlah Dores. Nama aslinya adalah Dedi Suriadi dan Dores sendiri ternyata memiliki arti.

Menurut Dodi Permana, salah satu sahabat karib Deddy Dores, yang memilih nama Dores adalah pemandu bakat Deni Sabri (almarhum), orang yang berjasa mengangkat karier Deddy Dores.

"Waktu itu, Deni Sabri (wartawan majalah Aktuil) mengajak Deddy Dores dari Surabaya untuk diorbitkan di Jakarta," kata Dodi kepada Tempo, Rabu, 18 Mei 2016.

Saat akan dibawa ke Jakarta, ujar Dodi, Deddy meminta Deni Sabri mengantarnya ke rumah ibunya. Di sanalah nama Dores muncul. “Dores” sendiri memiliki kepanjangan “Doa Restu”.

"Deddy minta diantar ke ibunya dulu untuk meminta doa restu, maka Deni Sabri pun memberi julukan ‘Dores’, yang artinya doa restu," ucapnya. Doa restu dari sang ibu tidak sia-sia. Doa itu mengiringi kesuksesan Deddy Dores menjadi orang yang dikenal di seluruh Indonesia.

Sahabat Deddy Dores lain, Buky Wikagoe, yang juga kakak Nicky Astria, menambahkan, Deddy Dores merupakan musikus andal yang serba bisa. Selain terkenal karena petikan gitarnya, Deddy ternyata pernah menjadi keyboardist band rock legendaris Indonesia, God Bless.

"Pernah ditawarin main di God Bless sebentar. Jadi Deddy itu bisa ‘makan’ apa pun permintaan dari produser: bisa dan selalu bisa. Ini kelebihan dia: sangat multitalenta. Bahkan, kalau rekaman, dia sering mengisi musik sendiri," katanya.

Nama Deddy Dores kini tinggal kenangan yang tetap abadi di hati para penikmat karyanya. Menurut Buky, dunia musik Indonesia sangat kehilangan sosok seniman yang memiliki bakat luar biasa seperti Deddy Dores.

"Terakhir ketemu dia hanya bilang, ‘Yang penting kita jangan berhenti berkarya’. Dan saya yakin royalti karyanya akan terus mengalir. Mudah-mudahan jadi warisan bermanfaat untuk anak-cucunya," ucapnya. (m.tempo.co - Deddy Dores Bukanlah Nama Sebenarnya)

  • Biografi Deddy Dores
Anak muda sekarang tahu nama Deddy Dores barangkali hanya dari lagu-lagu tema cinta, dengan progresi chord sederhana. Bahkan jika saja ratusan lagu karya Deddy pada 10 tahun terakhir ini dihilangkan liriknya, niscaya akan ditemui struktur melodi yang 'seragam'. Pernah seorang penyanyi perempuan jelita mencoba menyanyikan 3 lagu Deddy Dores dalam gaya medley, “Eh, masuknya mulus bener, karena melodi dasarnya sama. Dia seperti hanya membawakan satu lagu dipanjangin, tapi liriknya beda,“ ujar musikus sahabat Deddy yang ogah disebut namanya.

Mau tak mau, Deddy Dores ujungnya menjadi pesaing terdepan dari nama-nama yang pernah tenar sebagai penemu 'warna tema cinta' pencipta lagu pop Indonesia, setara dengan Rinto Harahap, Pance Pondaag dan Obbie Messakh. Tapi, tatkala 3 nama di depan telah surut pamornya, Deddy Dores tetap berada di depan, bahkan banyak orang menyebut Deddy Dores adalah tallentscout penyanyi pop (terutama) perempuan yang paling awet bertahan.

Namanya kondang sejak Deddy Dores men-direct penyanyi jelita almarhuman Nike Ardilla, lewat album Seberkas Sinar (1990), yang khabarnya terjual 300.000 copies. Tahun 1992, Nike melepas album Bintang Kehidupan, masih dengan motor penggerak Deddy Dores. Astaga, album ini terjual 2 juta keping. Album terakhir Nike Sandiwara Cinta dari data terakhir setelah meninggalnya Nike tahun 1995, terjual 2 juta keping juga.

Di tangan Deddy Dores, Nike memang menjadi pop star untuk 6 album. Deddy berhasil mencetak mega bintang baru di musik pop (pakai unsur rock sedikit), dengan formula lirik cinta yang manis, melodi standar dan keharusan lain: penyanyinya cantik. Formula inilah yang melanjutkan pengembaraan Deddy Dores di peta musik pop negeri ini.

Lagu tema cinta, penyanyi jelita. Jika ada penyanyi laki-laki yang membawakan lagu karyanya, paling banter bernama Deddy Dores juga. 

“Saya memang mengawali terjun ke musik pop lewat rekaman suara saya sendiri,“ ujar Deddy. 

Pekerjaan itu dilakukannya pada tahun 1971, pada saat koceknya krisis karena grup Rhapsodia yang dibangunnya, belum menghasilkan dana bagus untuk menopang hidupnya. Album solo Hilangnya Seorang Gadis, cukup dikenal khalayak pop waktu itu. Deddy baru membuat album pop lagi pada tahun 1978, kali ini berduet dengan Lilian.

“Album-album pop yang saya buat pada tahun 70-an sebenarnya hanya sebagai selingan. Semacam relaksasi di tengah kegiatan saya manggung dengan Rhapsodia, God Bless dan Giant Step. Saya benar-benar cari duit di musik pop sejak ketemu Nike pada tahun 1989, dan tahun 90 merekam Seberkas Sinar itu,“ pembelaan Deddy.

Superkid, Rhapsodia & God Bless

Bagaimana awal mula Deddy menerjuni musik pop?

'Sulit sekali, karena dunia pop ini sangat njomplang dibanding kebiasaan saya manggung dengan atribut rock. Waktu itu dengan sadar saya masuki dunia penciptaan lagu-lagu cengeng. Waktu itu banyak pula kritik datang ke saya, saya melacurkan diri. Tapi bagaimana pun juga, saya perlu hidup. Orang nggak bisa tahu apa saja kebutuhan saya,“ ujar Deddy dengan ekspresi datar

“Tapi, biarlah saya main musik yang begini dulu, setelah posisi saya kuat, baru saya akan kembali ke idealis saya. Seperti sekarang ini, saya sedang menyiapkan produksi sendiri, merekam album Superkid. Ini band kebanggaan saya, yang dibangun Denny Sabri dengan formasi trio: Deddy Stanzah, Jelly Tobing dan saya. Rekaman ini mau laku atau nggak, saya nggak peduli. Yang penting, di sinilah Superkid berekspresi, dan rekaman ini benar-benar idealisme saya sendiri, dibantu kawan-kawan dari Superkid, “ tambah Deddy.

Rekaman Superkid itu menurut rencana mulai dibuat Maret 2000 ini. Band format 3 pemain ini dibangun tahun 75, sempat melakukan tour Indonesia, dengan kiblat musiknya ke Rolling Stones. Stanzah sebagai vokalis memang banyak dapat influence dari Mick Jagger. Deddy Dores pada posisi keyboard dan gitar, Deddy Stanzah pada bas dan Jelly untuk drums. Formasi ini amat mirip dengan AKA Group, cuma AKA ( Arthur Kaunang, Ucok Harahap, Syech Abidin dan Soenata Tanjung ) banyak memainkan lagu-lagu ELP, bukan Stones.

Superkid tewas pada tahun 1978, menghasilkan lagu hit 'Gadis Bergelang Emas'. Vakumnya Superkid banyak diduga karena miss-management. Entah versi kang Denny Sabri sebagai manajernya. Sebelum itu, Deddy Dores membangun grup Rhapsodia (1969-1972), yang sempat berganti nama dengan Freedom of Rhapsodia. Di tengah inilah, Deddy membuat solo album pop Hilangnya Seorang Gadis (1971). Pada tahun 1974, Deddy Dores masuk formasi God Bless, dengan formasi Ludwin LeMans (gitar), Achmad Albar (vokal). (Hitam Putih Deddy Dores - Biografi Deddy Dores)

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.


EmoticonEmoticon