Saturday, 28 May 2016

Curug Buhud, Niagaranya Sumedang

Curug Buhud, Niagara-nya Sumedang
Curug Buhud, Niagara-nya Sumedang. Image by instagram @mtma_sumedang
Selamat pagi, siang, sore, malam para pecinta alam. Niagara, mendengar nama itu pasti terbayang di benak kita air terjun berukuran besar yang sangat indah, bukan begitu, sobat? Jika iya, tidak mengherankan, air terjun super lebar di perbatasan internasional antara Amerika Serikat dengan Kanada itu memang jadi air terjun paling populer di dunia.

Dan berbicara tentang Niagara, kita ketahui bersama bahwa di negara kita, di Indonesia, meski ukuran air terjunnya lebih kecil, cukup banyak yang mempunyai kemiripan dengan Niagara dari segi ciri khasnya, yaitu curahan airnya yang melebar. Sebut saja salah satunya adalah air terjun Gentongan di Bondowoso. Bagaimana dengan Sumedang? Jarang diketahui khalayak bahwa ternyata Sumedang juga mempunyai air terjun yang serupa dengan itu, dengan Niagara.

Ya, kali ini admin ingin mengajak sobat semua untuk mengeksplorasi salah satu air terjun di Kabupaten Sumedang yang mirip-mirip air terjun Niagara, katakanlah Niagara mini, yang keberadaannya belum diketahui banyak orang, belum dikelola, serta belum dimaksimalkan sebagai daya tarik wisata. Penasaran? Lanjut saja membaca ya.

Curug Buhud, begitulah air terjun ini biasa disebut (ada juga yang menyebutnya Curug Buud dan Curug Cikandung). Curug (air terjun) yang berada di Desa Sukatani, Kecamatan Tanjungmedar ini secara tampilan sangat berbeda dari curug-curug kebanyakan, yaitu melebar, persis seperti air terjun Niagara. Dengan lebar keseluruhan lebih dari tiga puluh meter, itu terlihat cukup besar dan lapang, bahkan berpuluh-puluh orang bisa saja berfoto ria di atas air terjunnya jika mau.

Dengan tinggi sekitar enam meter dan bebatuan yang memudahkan di pinggirannya, memungkinkan kita untuk bisa naik ke puncak air terjun dimana air mulai tercurah. Itu tentu menyuguhkan kesan berbeda, karena biasanya kita (jika ingin berfoto) hanya bisa berfoto di dasar air terjun, di kolam yang terbentuk oleh curahan air, bukan begitu? Itu sebabnya admin katakan curug ini berbeda.

Asyiknya lagi, meski seringkali airnya keruh, Curug Buhud ini 100% masih alami, dan tentu saja tidak dipungut retribusi jika ingin mengagumi keindahannya. Airnya yang tercurah deras tentu akan memanjakan siapa saja yang mengunjunginya. 

Masih alami? Tidak dipungut bayaran? Wah, jangan-jangan tempatnya berada di tengah hutan?! Jangan dulu berpikiran kesitu, sobat. Jangan bayangkan kita akan berlelah-lelah jalan berjam-jam seperti jika akan mengunjungi Curug Sabuk, Curug Ciwalur, dan curug-curug tengah hutan lainnya di Sumedang, karena curug ini relatif lebih mudah dijangkau.

Tempat dimana air terjun ini berada tidak jauh dari pusat desa, dan berada dekat dengan pemukiman penduduk. Jika akan berkunjung ke tempat ini, mudah saja, di Desa Sukatani kita tinggal mencari SD Sukatani, itu yang jadi patokan.

Sebelum dan sesudah SD dimaksud kita akan menjumpai cukup banyak kebun milik warga, dimana di salah satu kebun warga itu ada jalan menuju Curug Buhud ini. Sebelum SD (ruas kiri jalan), ada jalan menurun di salah satu titik di kebun warga itu, kita tinggal menuruni jalan tersebut, dan dalam beberapa menit kita akan sampai ke curug ini. Mudah bukan? 

Bagaimana, sobat? Tertarik untuk mengunjungi Curug Buhud di Desa Sukatani, Kecamatan Tanjungmedar? Jika iya bolehlah langsung dijajal, tapi jangan lupa sopan santun pada alam dan penduduk sekitar, jangan dirusak dan dikotori. Kita jaga bersama keindahan alam Sumedang ini sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan pemilik semesta alam. Jangan corat-coret, jangan buang sampah sembarangan, kalaulah tak mau dibilang kampungan.

*special thanks to instagram @naradipa15

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.


EmoticonEmoticon