Monday, 14 December 2015

Cerita Rakyat Seputar Kecamatan Situraja

pemandangan perbatasan citepok situraja
Pemandangan Air Sungai Berwarna Hijau Dan Bebatuan Mirip Green Canyon
di Perbatasan Desa Sukatali Situraja & Desa Citepok Paseh. Image By :
instagram @orestsurya
Situraja, adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sumedang yang pusat Kecamatannya terletak sekitar 14 kilometer ke arah timur dari ibu kota Kabupaten Sumedang. Kecamatan ini melahirkan beberapa tokoh penting di kancah nasional seperti diantaranya saja Rd. Umar Wirahadikusumah (mantan Wapres RI Ke-4), RHA Wiriadinata (mantan Wagub DKI Jakarta 1967-1977), Popong Otje Djundjunan (anggota DPR RI), serta Dra. Ir. Hj. Eni Sumarni, M.Kes (anggota DPD RI).

Untuk potensi ekonomi, Kecamatan Situraja mempunyai beberapa unggulan, seperti diantaranya Sawo Sukatali dari Desa Sukatali, serta Desa Situraja Utara dan Desa Ambit sebagai lahan penanaman kacang tanah Situraja DM1, yang merupakan varietas unggul, itu terbukti dengan adanya kerja sama dengan PT. Garuda Food, sementara desa lainnya yaitu Cijati dan Desa Bangbayang sebagai penghasil sapu ijuk dan sapu uyun.  Desa lain yang memiliki potensi diantaranya saja adalah Desa Bangbayang sebagai penghasil gula aren, serta Desa Cikadu dengan potensi perikanannya dan industri rumahan berupa pembuatan makanan ringan opak dan kolontong. (wikipedia)

Dan seperti daerah-daerah di tanah Sunda pada umumnya dan Sumedang pada khususnya yang memiliki banyak cerita rakyat, demikian pula dengan Kecamatan Situraja ini. Ada beberapa cerita rakyat di kecamatan Situraja yang bahkan salah satu diantaranya berkaitan langsung dengan potensi di kecamatan tersebut seperti cerita rakyat tentang sawo Sukatali. Berikut cerita-cerita rakyat di seputar Kecamatan Situraja.


Asal Mula Nama Situraja

Dikisahkan, pada suatu hari, raja di sebuah kerajaan yang berada di Sumedang ingin melakukan kegiatan yang telah digemarinya sejak lama, memancing. Untuk itu, raja tersebut memerintahkan patih-patihnya agar segera menyiapkan danau (situ dalam bahasa Sunda) agar dirinya bisa segera melaksanakan keinginannya.

Singkat cerita, patih-patihnya itu telah berhasil menyiapkan situ atau danau yang diinginkan raja untuk menyalurkan hobinya. Setelah semuanya siap, raja dan patih-patihnya itu berangkat ke danau yang dimaksud untuk memancing.

Setelah tiba di lokasi, raja segera melaksanakan keinginannya untuk memancing, patih-patihnya pun ikut dalam kegiatan itu. Tidak lama berselang setelah raja melempar tali kailnya ke arah danau, kail milik raja langsung disambar oleh ikan yang sangat besar, saking besarnya, raja sepertinya tidak kuat menahan tarikan dari si ikan.

Raja yang mulanya terlihat senang, langsung panik ketika menyadari ikan yanag menyambar tali kailnya itu menarik pancingnya begitu kuat. Sang raja tidak mampu menguasai tarikan ikan itu, bahkan setelah ia dibantu patih-patihnya. Selang beberapa saat saja, raja jatuh dan terseret-seret ke tengah danau, sampai akhirnya ia menghilang di kedalaman danau itu.

Melihat kejadian yang sangat cepat itu, patih dan dayang-dayangnya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa memandangi riak air di danau tempat rajanya tenggelam. Dari situlah, danau tersebut diberi nama Situraja (danau raja), yang sekarang menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Sumedang, Kecamatan Situraja.

****

Cerita Sambal Pamulihan & Mangga Cikubang

Pada zaman dahulu, dikisahkan daerah Situraja kedatangan seorang tamu yang merupakan pangeran dari sebuah kerajaan di Sumedang, kerajaan Sumedang Larang. Pangeran itu berkunjung dengan maksud melihat secara langsung kehidupan rakyatnya, khususnya melihat kehidupan masyarakat di Kampung Cikubang. Dalam perjalanannya, Pangeran terlebih dahulu singgah di kampung Pamulihan untuk beristirahat.

Di kampung Pamulihan itu, Pangeran dijamu oleh masyarakat yang sangat menghormatinya. Ketika itu, Pangeran disuguhi sambal dan berbagai lalapan yang sangat disukai orang-orang sunda pada umumnya. Ketika menyantap sambal itu, terlontar perkataan dari mulut sang Pangeran "ini sambalnya enak sekali,". Dan, sampai sekarang, di Sumedang sambal Pamulihan memang dikenal mempunyai rasa yang enak.

Setelah menerima jamuan tersebut, Pangeran bersama patihnya melanjutkan perjalanan ke kampung yang akan mereka tuju, kampung Cikubang. Sesampainya di kampung Cikubang, Pangeran melihat ada seorang petani sedang berada di sekitar pohon mangga miliknya, dan terjadilah dialog diantara mereka.

Sang Pangeran bertanya : "Sedang apa pak ?".
Petani itu menjawab ; "Sedang mengambil mangga,"

Setelah itu, Pangeran bermaksud ingin menycipi mangga yang sudah dipetik oleh si petani. Tapi, ternyata si petani sama sekali tidak menghormati sang Pangeran yang ada di hadapannya, petani yang dikenal pelit itu menolak permintaan sang Pangeran, ia tidak mengizinkan sang Pangeran untuk menyicipi mangga miliknya.

Melihat kelakuan petani itu, sang Pangeran tidak marah, ia hanya berkata "Mangga di sini mah, luarnya bagus, tapi di dalamnya banyak ulatnya,". Dan seperti kejadian sebelumnya, ucapan sang pangeran pun menjadi kenyataan, sampai sekarang mangga dari Cikubang Sumedang memang dikenal bagus tampilan luarnya, tapi buahnya memiliki kualitas yang jelek.

 ****

Di kalangan masyarakat Sunda, ada ungkapan "Saciduh Metu Saucap Nyata" yang artinya kurang lebih apa-apa yang diucapkan akan menjadi kenyataan, biasanya ungkapan ini dialamatkan pada ucapan bangsawan, tokoh-tokoh, ataupun orang-orang yang dianggap soleh atau dituakan yang mempunyai pengaruh kuat di kalangan masyarakat.

Kejadian demi kejadian dalam cerita tentang sambal pamulihan dan mangga Cikubang di atas, sama persis seperti yang pernah admin ceritakan dalam artikel berjudul Manis Legit Sawo Sukatali, yang juga masih bercerita seputar cerita rakyat di kecamatan Situraja, yang menceritakan sawo sukatali menjadi manis dan memiliki kualitas yang bagus setelah sang pangeran berkata demikian.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.


EmoticonEmoticon