Tuesday, 10 November 2015

Asal Mula Nama Talun & Panyingkiran

Suasana di Daerah Panyingkiran, Sumedang
Image By : instagram @fotosumedang
Talun dan Panyingkiran, adalah nama salah satu daerah di kawasan Sumedang kota. Jalan Talun, menjadi penanda bahwa daerah disekitaran jalan tersebut merupakan daerah atau blok yang termasuk dalam kawasan daerah Talun. Sementara Panyingkiran, tempatnya tidak begitu jauh dari kawasan yang sekarang menjadi kawasan Induk Pusat Pemerintahan (IPP) Kabupaten Sumedang.

Sama dengan nama beberapa tempat di Sumedang seperti Jalan Pagar Betis, konon, nama Talun dan Panyingkiran sendiri mempunyai cerita dan sejarah yang masih ada sangkut pautnya dengan masa-masa perjuangan kemerdekaan di Republik Indonesia ini. Berikut asal mula nama Talun dan Panyingkiran, Sumedang.

Asal Mula Nama Talun dan Panyingkiran

Ketika jaman peperangan dulu, di Sumedang terdapat satu Batalyon pasukan yang bernama Batalyon Sebelas April, nama Batalyon tersebut sekarang dijadikan nama sebuah jalan di Sumedang, jalan Sebelas April. Ketika itu, karena satu dan lain hal seperti kehabisan amunisi senjata, tentara-tentara yang tergabung dalam Batalyon Sebelas April mencari tempat bersembunyi dari penjajah, Ketika itu kemerdekaan Republik Indonesia telah diproklamirkan, tapi Sumedang masih berada dalam cengkeraman penjajah.

Mulanya, markas tentara Sebelas April berada di daerah yang sekarang menjadi daerah (jalan) Prabu Geusan Ulun, tapi markas tersebut hancur tak tersisa ketika penjajah menemukannya, mereka mengebom dan meluluh lantakkan markas itu. Saat itu merupakan saat-saat paling genting dan membuat tentara Sebelas April terjepit, mereka bingung harus menghindar kemana lagi, karena hampir semua daerah dikepung penjajah sementara prajurit satu demi satu telah gugur.

Atas inisiatif Letnan Warsono saat itu, diusulkan  agar pasukan dikomando menyingkir kesebuah daerah, daerah tersebutlah yang sekarang bernama "Panyingkiran". Tapi ternyata, ada salah satu pasukan Batalyon yang berkhianat dan memberitahu pasukan penjajah mengenai tempat persembunyian baru yang mereka tempati itu. Akibatnya, diceritakan tempat persembunyian tentara Sebelas April itu berhasil dilacak oleh penjajah, penjajah kembali menyerang dan berusaha menghancurkan markas persembunyian sama seperti sebelelumnya, karena mereka ingin sepenuhnya menguasai Sumedang.

Melihat itu, melihat pasukan Batalyon semakin tersudut karena tempat persembunyiannya berhasil dilacak, Letnan Warsono hampir menyerah pada keadaan, karena tempat itu adalah tempat terakhir yang masih bisa dipakai untuk berlindung, pikirnya. Tapi mereka masih berusaha mencari tempat lain, mereka kembali berpindah.

Di tengah kebingungannya, Letnan Warsono bertemu dengan salah seorang penduduk yang merupakan Kyai setempat, Kyai itu memberitahunya bahwa masih ada tempat yang aman yang bisa dipakai untuk tempat berlindung dan beristirahat, tempat itu bernama daerah Nalun, Batalyon Sebelas April yang tersisa sepakat untuk menuju ke tempat itu, dan benar saja, di tempat itu mereka bisa berlindung. Nalun sendiri artinya adalah berkumpul. Nama Nalun tersebut sedari dulu diubah pengucapannya oleh warga pribumi menjadi "Talun", yang berarti tempat berkumpul, yaitu tempat berkumpulnya bala tentara Sebelas April.

Narasumber : Bp. Entis - Talun, Sumedang Utara
*digubah dari liesganesti.blogspot.com

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

10 komentar

sumedang mmg bnyk kisah2 uniknya yah ,,,hehe

Talun dan Panyingkiran memang merupakan wilayah yang banyak menyimpan sejarah terutama perjuangan Pangeran Sumedang.
maka jika kemudian talun dan panyingkiran di beri namaa seperti itu ya...begitu lah

wah bagus mas info nya, jadi lebih ngerti daerah sumedang saya walaupun belum pernah kesana hhhh :D

Ngomongin apa sih ini kita teh? iya kang, begitulah, hhe


EmoticonEmoticon