Wednesday, 25 November 2015

Antara Taman Endog, Teori Big Bang, dan Wawacan Endog Sapatalang

Tugu Taman Endog, Sumedang
Tugu Taman Endog, Sumedang
Taman Endog, atau Taman Telur jika diartikan dalam Bahasa Indonesia, merupakan salah satu Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di pusat kota Sumedang. Taman yang dibangun sekitar tahun 1990-an oleh Pemkab Sumedang ini, di tengah tamannya terdapat tugu berbentuk telur raksasa yang di bawahnya disangga oleh dua tangan, itulah kenapa taman ini disebut dengan "Taman Endog".

Taman Endog ini menjadi penanda pertigaan menuju daerah kabuyutan yang ada di Sumedang, yaitu Kabuyutan Cipaku, Darmaraja. Sayangnya, kabuyutan ini berada di area genangan Waduk Jatigede yang sudah mulai digenangi Agustus 2015 kemarin, otomatis, salah satu kabuyutan yang ada di tanah Sunda ini akan tergenang, dan menghilang dari pandangan mata.

Tidak banyak yang mengetahui, bahwa pembangunan Taman Endog atau Taman Telur ini diilhami oleh wawacan Endog Sapatalang, wawacan Endog Sapatalang sendiri tertulis dalam buku Cipaku. Wawacan (cerita) Endog Sapatalang, yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Cerita Telur Satu Rangkaian ini menurut seorang sesepuh yang bernama Ki Wangsa, menceritakan tentang proses penciptaan alam semesta.

Penciptaan alam semesta oleh Tuhan ini, dimulai dari sesuatu yang sekarang disebut dengan cahaya. Dalam wawacan itu diceritakan, cahaya tersebut membentuk asap tebal yang menggumpal sampai mengeras, menyerupai telur, dan terbentuklah "calon" alam semesta. Ya, karena Alam semesta yang ada itu ibarat telur yang pecah dan berserak, sebagian menjadi langit, dan sebagian menjadi bumi. Air yang berada dalam telur disebut alam Tirta, merah telurnya disebut alam Marcapada (alam dunia yang tampak), putih telurnya menjadi alam Mayapada (alam jin), selaput tipis pembungkus putih telur disebut alam Wa'dah (ghaib), dan selaput paling tipis yang menempel di kulit telur adalah alam Surya Laya (alam Rahyang, alam dewa-dewi, atau malaikat dalam versi Islam). Telurnya sendiri ibarat alam hakekat yang tidak bisa diukur atau dicapai oleh keterbatasan akal dan pikiran manusia.

Dengan kata lain, dalam wawacan ini diceritakan Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala isinya dari cahaya yang memadat, yang kemudian pecah menyebar ibarat telur yang pecah berserak, serakan telur itu  kemudian menjadi matahari, bulan, planet, gugusan bintang yang membentuk galaxy, black hole, dan begitu banyak lagi rahasia alam yang belum terungkap. Dimana dalam penciptaan itu, Tuhan menganugerahkan kehidupan pada tempat-tempat yang dipilih, seperti pada planet bumi ini misalnya, Tuhan menciptakan makhluk hidup berupa manusia, hewan, dan tumbuhan. Dalam wawacan Endog Sapatalang, proses penciptaan alam semesta dilakukan dalam 15 hari 15 malam.

Wawacan Endog Sapatalang ini merupakan wawacan atau cerita yang memuat kearifan lokal suatu daerah, yang tentu saja hampir sama dengan sebagian besar cerita daerah lain yang hanya berkembang dan diketahui dalam skup kecil, skala kedaerahan. Bahkan, tidak mustahil orang Sumedang sendiri banyak yang belum tahu tentang wawacan Endog Sapatalang ini.

Tapi sobat, apakah sobat merasa familiar dengan cerita yang ada dalam wawacan Endog Sapatalang tentang penciptaan alam semesta di atas? Ya, wawacan Endog Sapatalang ini sangat mirip dengan teori Big Bang yang dicetuskan oleh ilmuwan barat bernama Edwin Hubble. Atau mungkin justru sebaliknya, teori Big Bang Edwin Hubble-lah yang mirip dengan wawacan Endog Sapatalang dari Cipaku Sumedang, karena wawacan itu sudah ada jauh sebelum Hubble mengemukakan teori Big Bang-nya.

Secara sederhana, Teori Big Bang, yang berati ledakan dahsyat atau dentuman besar dalam kosmologi adalah salah satu teori ilmu pengetahuan yang menjelaskan tentang awal mula terjadinya alam semesta. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari kondisi awal yang super padat dan panas, kondisi tersebut berlangsung sampai kemudian terjadi ledakan besar, hasil dari ledakan tersebut kemudian mengembang, dan menciptakan sistem tata surya yang ada sekarang.

Dan dikutip dari Wikipedia, ledakan dahsyat atau dentuman besar (Big Bang) merupakan sebuah peristiwa yang menyebabkan pembentukan alam semesta berdasarkan kajian kosmologi mengenai bentuk awal dan perkembangan alam semesta. Berdasarkan pemodelan ledakan ini, alam semesta, awalnya dalam keadaan sangat panas dan padat, mengembang secara terus menerus hingga hari ini.

Jika dilihat sekilas dengan tidak mengurai kenapa Teori Big Bang itu bisa terbentuk, wawacan Endog Sapatalang terlihat mempunyai pola cerita sama persis dengan teori Big Bang yang dikemukakan oleh Edwin Hubble itu, perbedaannya hanya terletak pada ilustrasi yang digunakan. Dengan demikian, apakah Edwin Hubble pernah datang ke Cipaku Sumedang untuk menghayati wawacan Endog Sapatalang sebelum mengemukakan teori Big Bang-nya? Entahlah.

Atau, apakah leluhur Sunda umumnya dan leluhur Sumedang di Cipaku khususnya telah menguasai ilmu kosmologi jauh sebelum orang-orang barat menelitinya? Karena, rasanya mustahil kalimat-kalimat yang menyusun wawacan Endog Sapatalang itu hanya kalimat rekaan asal jadi yang berdasarkan imajinasi saja, pasti ada pengamatan, penelitian, dan kontemplasi di balik lahirnya wawacan Endog Sapatalang itu. Tapi tentu, ilustrasi yang dipakai dalam wawacan atau cerita itu hanya menggunakan bahasa-bahasa sederhana, yang dimengerti dan mudah diterima banyak orang sesuai zamannya. Wallahu'alam

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.


EmoticonEmoticon