Monday, 26 October 2015

Kopi Luwak Sumedang Tembus Pasar Jepang

Warga Sedang Memilah Biji Kopi Hasil Fermentasi Luwak
Image By : Sumedang Ekspres
Siapa tidak mengenal kopi luwak, jenis seduhan kopi yang menggunakan biji kopi dari sisa kotoran luwak/musang ini menjadi primadona karena rasanya yang sangat nikmat. Namun, keberadaannya yang cukup langka menjadikan jenis kopi ini mempunyai harga yang terbilang fantastis. Karenanya, hanya pecinta kopi berkocek tebal saja yang bisa menikmati kenikmatan kopi nomor satu ini.

Daerah yang terkenal dengan kopi luwaknya antara lain adalah  Gayo (Aceh), Sidikalang, Desa Janji Maria (Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawa), Kota Pagaralam, Semende (Kabupaten Muara Enim), dan Liwa (Kabupaten Lampung Barat), namun, siapa mengira Kabupaten Sumedang, tepatnya di Kecamatan Rancakalong  juga bisa memproduksi kopi yang paling dicari pecinta kopi ini.

Petani dan pengolah kopi luwak di Kecamatan Rancakalong salah satunya adalah Sulaeman, warga Dusun Citangku, Desa Nagarawangi, Kecamatan Rancakalong. Sekarang, ia merupakan salah satu petani kopi luwak yang cukup sukses mengembangkan usahanya, bahkan, kopi luwak produksinya selain dinikmati di dalam negeri juga telah diekspor ke Jepang. Ya, kopi luwak Sumedang juga bisa menembus pasar Jepang.

Sekarang ini, Sulaeman dan petani kopi luwak lainnya bahkan cukup kesulitan melayani permintaan pasar, baik dari dalam negeri, maupun permintaan dari luar negeri, salah satunya adalah Jepang seperti yang tadi telah disebutkan. Tidak jarang, karena banyaknya permintaan, Sulaeman dan petani lainnya sampai tidak bisa memenuhi pesanan.

“Jujur saja, saat ini kami justru belum bisa memenuhi kebutuhan pasar, terutama pesanan dari Jepang, begitu pula kafe-kafe di tanah air. Karena, saat ini hasil produksi kopi luwak masih terbatas. Mudah-mudahan ke depan permintaan pengusaha asal Jepang itu mampu kami penuhi,” tutur Sulaeman.

Kopi luwak Rancakalong ini digemari sampai ke luar negeri karena memiliki rasa yang khas dan berbeda. Itu karena, biji kopi yang difermentasikan dalam saluran pencernaan luwaknya merupakan biji kopi dengan kualitas terbaik. Kualitas biji kopi terbaik itu semakin meningkat setelah luwak memakannya dan difermentasikan dalam pencernaannya.

Kopi luwak yang dihasilkan biasanya kira-kira adalah 40% dari total kopi yang diberikan sebagai pakan. Misal, dari 20 kilogram kopi mentah yang diberikan kepada luwak untuk dimakan, akan menghasilkan kurang lebih 8 kilogram kopi luwak. Setelah dibersihkan maka didapatkan kopi yang berbentuk kopi basah. 

Dalam tahap pengolahannya menjadi kopi bubuk, beratnya akan kembali mengalami penyusutan. Sebagai gambaran, setelah kopi basah dikupas, akan menghasilkan kopi kering, bila ada 4 kilogram kopi basah, maka akan didapatkan 2 kilogram kopi kering. Kopi kering ini kemudian akan dijemur dan dikupas lagi menjadi butiran kopi.

Ya, barulah setelah butiran kopi dijemur dan benar-benar kering, kopi dipanggang (roasting) dan digiling menjadi bubuk. Oleh karenanya dari total berat kopi yang diberikan sebagai pakan, akan mengalami beberapa kali penyusutan berat. Tapi, itu tentu tidak menjadi masalah mengingat kopi luwak walau sedikit memiliki harga selangit, dimana setiap 100 gramnya bisa mencapai harga Rp 100 ribu. Sementara kemasan kopinya dibuat sedemikian rupa agar menarik. 

Memang, dalam menggeluti usahanya, petani kopi luwak yang telah menggeluti usahanya bertahun-tahun lamanya ini tidak langsung sukses seperti sekarang, ia pernah mengalami jatuh bangun karena persaingan dengan beragam jenis kopi lokal maupun impor yang menjadi pesaingnya dalam memasarkan produk kopi luwak. Menurut Sulaeman, ia dan para petani kopi luwak lainnya sudah mulai menanam kopi sekaligus beternak careuh (luwak) sejak 2006, dan baru berhasil di tahun 2015 ini setelah tahun-tahun sebelumnya usahanya mengalami pasang surut.

"Kalau dulu, bahkan banyak stok kopi luwak yang tidak terjual dalam setiap panennya," pungkasnya.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

8 komentar

Keunikan dari kopi luwak justru dari produksinya yang terbatas. Karena mengandalkaan secara alami dari fermantasi hewan luwak. Kalau sampai produksinya melimoah justru curiga, itu benar-benar kopi luwak atau hanya sekedar kopi.

wwaaaaa... makin mantap .. smpe tembus pasar jepang ...hehe

wah berita yang menggembirakan sekaligus membanggakan nie kang bisa ampe tembus pasar Jepang, keren banget deh :)

Wahh menarik sekali bisnis kopi luwak ya, pasarnya masih terbuka lebar

Tapi belum ada di tempatnya mas Fiu ya :D


EmoticonEmoticon