Thursday, 8 October 2015

Cerita Buhaya Putih Dan Keuyeup Bodas

Admin WS di Daerah Bakal Genangan Waduk Jatigede, Tahun 2009
Admin WS di Daerah Bakal Genangan Waduk Jatigede, Tahun 2009
Foto di atas merupakan foto admin ketika berkunjung ke daerah bakal genangan waduk Jatigede tahun 2009, tentu, foto di atas diambil jauh sebelum Waduk Jatigede ditenggelamkan, waduknya sendiri baru mulai ditenggelamkan awal Agustus 2015 lalu. Bisa dilihat, bukit-bukit yang nampak pada foto di atas akan hilang ditenggelamkan air dam, dan bahkan mungkin sekarang telah hilang tenggelam dalam luapan air Sungai Cimanuk.

Semenjak Waduk Jatigede akan dan (sekarang) telah digenangi, cerita turun-temurun yang berkaitan dengan bendungan inipun kembali diperdengarkan, seperti cerita berikut ini dari Ki Wangsa (54), warga Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja, Kab. Sumedang, Jawa Barat. Cerita ini dipublikasi oleh Balai Pelestari Nilai Budaya Bandung dalam buku “Inventarisasi Sejarah Lokal, Mitos & Cerita Rakyat Jatigedé di Kanupaten Sumedang.” (Agus Heryana dkk.). Berikut cerita tentang Buhaya Putih dan Keuyeup Bodas yang sekarang sering diperdengarkan kembali ;

Buhaya Putih dan Keuyeup Bodas

Sejak jaman apa, Sungai Cimanuk dihuni oleh Buaya Putih dan Keuyeup Bodas, makhluk raksasa penjelmaan jin. Mungkin makhluk raksasa ini muncul pada jaman entah berantah. Kedua makhluk raksasa itu memiliki pengikutnya yang cukup banyak, hidup berada di sungai tetapi tidak pernah akur. Karena Buaya Putih tamak dan ingin menguasai sepanjang hulu sungai sampai Muara Sélong pantai utara Indramayu. Wadyabalad Keuyeup Bodas gerah setelah Buaya Putih memproklamirkan diri sebagai penguasa sungai, kemudian berseru kepada seluruh pengikutnya agar membuat danau raksasa dengan membendung Sungai Cimanuk.

Di danau ini, Buaya Putih akan menghabiskan hari-hari berbulan madu bersama putri dari Ratu Penguasa Pantai Utara. Seluruh pengikutnya, mulai dari kura-kura, biawak, komunitas ikan melaksanakan perintah Sang Penguasa sungai itu. Kecuali komunitas Keuyeup Bodas termasuk kepiting dan makhluk-makhluk kecil lainnya menentang rencana pembuatan bendungan raksasa tersebut. Sehingga menjadi sasaran kemarahan Raja Sungai yang sedang dimabuk asmara.

Buaya Putih berseru kepada seluruh panglimanya, agar membunuh Keuyeup Bodas dan seluruh pengikutnya, dengan mengerahkan ribuan pasukannya. Namun tak satupun wadyabalad Keuyeup Bodas dapat ditangkap, rupanya sebelum pasukan Buaya Putih menyerbu, mereka sudah lebih dulu bersembunyi di tempat yang aman. Sehingga menganggap pasukan Keuyeup Bodas mengungsi ke tempat lain. Maka dengan tenang wadyabalad Buaya Putih berbondong-bondong ke daerah Sanghyang Tikoro. Disanalah mereka menyatukan kekuatan, kemudian menghancurkan tebing-tebing sungai kiri dan kanan. Sanghyang Tikoro longsor. Bongkahan batu dan tanah menutup aliran sungai terjadilah banjir.

Keuyeup Bodas menyerukan kepada ribuan prajuritnya agar menjebolkan penyangga air, karena akan mengancam keselamatan manusia. Seketika airpun surut, membuat Buaya Putih marah. Ia tahu gelagat buruk itu tindakan Keuyeup Bodas, maka menyerukan kepada seluruh pengikutnya agar menyerbu pasukan Keuyeup Bodas. Seruan itu ditentang oleh panglima perangnya, karena membasmi Keuyeup Bodas bukan pekerjaan mudah. Menaklukan mereka harus dengan cara rékaperdaya (réka=akal, perdaya=sempurna). 

Dengan akal yang sempurna mereka akan bertekuk lutut. Akhirnya Buaya Putih menyerukan damai. Tetapi seruan itu tidak ditanggapi oleh Raja Keuyeup, membuat Buaya Putih marah besar. Akhirnya bertarung, Keuyeup Bodas berhasil dirobohkan. Buaya Putih bersumpah, Selama bernyawa tetap akan membendung walungan Cimanuk.

“Seandainya aku mati, rohku akan masuk ke dalam haté pengangung negara dan suatu saat orang-orang bule berdatangan di Cinambo, mereka adalah wakil-wakilku yang akan membendung walungan.”

Keuyeup Bodas menimpalinya, “Silakan, asal bisa!” Jawabannya pendek, membuat Buaya Putih murka. Pada saat hendak membunuh tiba-tiba Keuyeup Bodas berganti wujud menjadi gumpalan cahaya putih melesat ke angkasa. Buaya Putih terkejut, kemudian menggerakkan badannya seketika berubah wujud menjadi gumpalan cahaya merah melesat ke angkasa mengejar cahaya putih. 

*cerita dari destinasianews.com

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

6 komentar

buaya putih dengan keuyeup bodas pastinya beda cuman warnanya doang yang sama ya kang.
Jatigede sebagian sudah tergenang sekarang mah ya kang, ada temen lagi bikin jalan raya ayeuna teh di ditu.

Mirip cerita di daerah sulawsi ya? legenda yang begitu membumi. Penuh misteri.

percaya - gak percaya sih..tapi emang mahluk yang kayak gituan emang ada,,, jin kan bisa berubah jadi bentuk yang mereka inginkan.... :D

Iya kang, sudah tergenang sebagian dan sudah rame pengunjung setiap hari...kapan atuh urang kaditu, jangan terlalu betah di Istana Negara.
Putih dan Bodas pastinya sama, identik dengan suci, atau bisa juga identik dengan lelembut hhe

Iya mas, begitulah. Misteri dalam ramalan, ramalan dalam misteri

Iya mas, makhluk jadi-jadian tea :D


EmoticonEmoticon