Friday, 2 October 2015

Asal Mula Nama Jalan Pagar Betis

Pemandangan di Desa Cipancar, Jalan Pagar Betis
Jalan Pagar Betis adalah nama salah satu jalan yang berada di sekitaran Sumedang kota, ia berada hanya beberapa meter saja dari alun-alun kota Sumedang. Jalan ini membentang dari Kelurahan Cipameungpeuk sampai ke batas akhir Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan. Sobat pasti ada yang sedikit heran dengan nama jalan ini, karena nama jalannya sedikit unik yaitu "Pagar Betis" yang bisa diartikan sebagai penjagaan yang ketat, yang juga menyangkut kewaspadaan dan perlawanan. 

Ternyata ada sejarah dibalik penamaan jalan tersebut menjadi Jalan Pagar Betis, dimana sejarahnya tidak jauh dari arti pagar betis itu sendiri. Berikut asal mula nama Jalan Pagar Betis ;

Asal Mula Jalan Pagar Betis

Jaman dulu, jaman pemberontakan DI (Darul Islam), daerah Cipameungpeuk dan sekitarnya pernah diserbu oleh kelompok pemberontak tersebut. DI sendiri dikenal sebagai kelompok atau gerombolan yang sering merampok atau menjarah harta benda milik warga. Gerombolan ini awalnya berasal dari daerah Garut.

Saat itu, masyarakat yang daerahnya diserbu dan dijajah oleh gerombolan DI hidupnya sangat sengsara, termasuk warga di daerah Cipameungpeuk dan sekitarnya yang juga diserbu gerombolan DI. Apa saja yang mereka punya akan dirampas oleh gerombolan tersebut, mulai dari beras, pakaian, hingga hewan peliharaan dirampas habis sampai warga tidak mempunyai apa-apa. Kelompok ini terkenal bengis, mereka tak segan menyiksa dan membakar rumah siapapun yang berani melawan mereka.

Mereka akan semakin beringas jika mendapati seseorang yang memakai atau mempunyai baju berwarna hijau atau loreng, orang itu akan langsung digorok, dihabisi. Ini bukan dongeng, ini merupakan riwayat sejarah bangsa Indonesia yang sangat getir. Memang memalukan gerombolan ini berlindung dibalik nama Islam, karena Islam sama sekali tidak mengajarkan perilaku yang kejam seperti yang dipraktekkan DI, sebagai muslim tentu kita tidak akan ridho nama Islam tercoreng karena kebiadaban DI.

Semakin lama, warga semakin sengsara dan marah terhadap perilaku gerombolan itu. Lalu, pada saat-saat yang pas, ketika kelompok DI lengah, warga berinisiatif mengadakan gerakan pagar betis sebagai perlawanan dan juga pertahanan terhadap gerombolan itu. Gerakan pagar betis ini mempunyai anggota yang sangat banyak, mencapai ribuan, yang terdiri dari lelaki baik muda maupun tua. Sementara perempuan, tidak diizinkan mengkuti gerakan tersebut.

DI yang telah bercokol di daerah itu kemudian dihadang oleh benteng perlawanan yang dinamakan pagar betis tersebut. Semenjak saat itu, gerombolan DI dilawan oleh ribuan warga dengan gerakan pagar betisnya. Cara perlawanan itu ternyata sangat efektif, taktik yang sangat jitu, DI akhirnya menyerah dan mengaku kalah, dan mereka pun akhirnya pulang ketempat asalnya di Garut.

Sekarang, nama gerakan pagar betis diabadikan dalam nama jalan, Jalan Pagar Betis, untuk mengingat perjuangan para pejuang jaman dulu yang sangat berjasa dalam melawan dan mengusir gerombolan

Narasumber : Sesepuh, Bp. Yaya (1903) - Dusun Ciawi, Gunasari
*digubah dari liesganesti.blogspot.com

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

6 komentar

kisah persatuan dan kesatuan warga Desa Cipameungpeuk yang wajib dikenang dan di tandai dengan sebuah prasasti agar perjuangan warga mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan atas DI menjadi inspirasi semangat pemuda yang sedemikian penting sebagai pagar betis keluarganya kalau sekarang mah

komentar ngga niat tah, baca judulnya wungkul pulak.

Begitulah kang, seperti kebanyakan blogger :)

iya kang begitu kira-kira lah :D

Dulu 1960 semasa masih SMP di Bandung suatu ketika mangkir dari latihan baris berbaris di halaman kantor Padi Sentra di Jl Jakarta. Besoknya langsung dipanggil dari sekolah SMP St Gabriel lalu disidang singkat dan tanpa mau mendengar alasan tak ikut PBB karena ada latihan drama sekolah. Langsung kudu naik truk lalu dibawa ke gunung Manglayang harus ikut aksi pager betis selama 3 hari Untung hari Minggu dan semalam aku make celana panjang memakai topi jungle bertutup telinga dan berjaket kulit buat ngoboy malam minggu di Cicadas. Kalau tidak aku bisa mati beku karena hawa gunung Manglayang lagi dingin mana banyak angin berhembus. Untung disediakan goreng daging buat penghangat badan jangan sampai masuk angin. Selepas kewajiban aku malah minta diperpanjang selama seminggu karena senang saat mendengar letusan senjata meski aku langsung tiarap sampai terkencing. Sungguh satu pengalaman unik di umur 16 yang tak terlupakan. Hehe suka tertawa sendiri kalau ingat celotehan tukar pengalaman para tentara menempa diri sendiri. Alhamdulillah.


EmoticonEmoticon