Thursday, 24 September 2015

Melihat Dari Dekat Kerusakan Infrastrukur Jalan dan Kebutuhan Air di Kecamatan Surian

Ilustrasi :  Kerusakan infrastruktur jalan di Kecamatan Surian belum tersesntuh perbaikan seperti
di daerah Sumedang lainnya
*Kerusakan jalan menahun memperlambat perkembangan ekonomi dan kesehatan warga

Kerusakan infrastruktur jalan bukan merupakan hal aneh di Kabupaten Sumedang, banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah tonase kendaraan yang melebihi batas. Namun demikian, kerusakan jalan tersebut bukan berarti tanpa perbaikan, perbaikan senantiasa dilakukan di beberapa titik yang dianggap penting. Sayangnya, perbaikan yang dilakukan dirasa tidak merata, bahkan ada daerah yang infrasrtuktur jalannya belum diperbaiki bertahun-tahun lamanya, seperti di Kecamatan Surian. Kecamatan Surian adalah kecamatan yang berada di ujung Sumedang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Subang dan Kabupaten Indramayu. Bagaimana keadaan jalan di Kecamatan Surian sekarang dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan warga? berikut ulasannya ;

Warga Kecamatan Surian (bahkan) sudah lelah untuk mengeluh, itulah kalimat pertama yang terlontar dari mulut Sekretaris Kecamatan Surian, H. Ade ketika admin bertanya tentang kerusakan infrastruktur jalan di Kecamatan Surian. Bagaimana tidak, sudah bertahun-tahun lamanya infrastruktur jalan di tempat tersebut tidak dibangun/diperbaiki. Ade memperkirakan, sudah dua puluh tahun lamanya masyarakat Kecamatan Surian mendambakan jalan yang leucir, yang bagus, dan mempermudah aktifitas warga.

Ade mengatakan, kerusakan jalan di Kecamatan Surian sangat berpengaruh di berbagai lini, yang paling mencolok adalah di bidang ekonomi dan kesehatan. Dengan kondisi jalan yang rusak berat, perputaran uang tidak berjalan dengan baik di Kecamatan Surian, banyaknya, aliran uang dari Surian keluar ke Kabupaten lain yaitu ke Subang dan Indramayu.

“Untuk belanja keperluan sehari-hari ke kota (Sumedang) itu jaraknya empat puluh tujuh kilometer dengan keadaan jalan yang hancur lebur,  sedangkan ke Subang itu jaraknya hanya dua belas kilometer saja, dengan keadaan jalan yang relatif lebih bagus. Jelas warga Surian lebih memilih belanja ke Subang,” kata Ade.

Masih kata Ade, karena itu pula investor yang hendak menanamkan modalnya di Kecamatan Surian banyak yang mundur. Dengan itu, warga Kecamatan Surian semakin sulit memperoleh kemudahan dalam berbagai hal. 

“Contohlah minimarket, kalau ada (di Surian) kan cukup membantu warga dalam memenuhii kebutuhannya sehari-hari. Sebetulnya banyak yang berminat membangunnya di sini, tapi mengurungkan niatnya ketika melihat kondisi jalan disini  99% rusak berat,” ujar Ade.

Menurutnya, hal yang sama juga terjadi di bidang kesehatan, warga yang sakit cukup parah dan memerlukan penanganan lebih, banyak yang memilih berobat ke Subang daripada ke Sumedang kota.

“Padahal penanganan kesehatan di (RSUD) Sumedang itu kan katanya relatif lebih bagus daripada di tempat lain, tapi warga Surian tidak bisa terfasilitasi untuk itu karena keadaan jalan yang rusak berat. Akan sangat memprihatinkan kalau (di Surian) sampai ada yang sakit malam-malam dan memerlukan perawatan lebih,” jelas Ade.

Untuk itu, Ade berharap pihak terkait lebih memperhatikan keadaan jalan di Kecamatan Surian. Karena warga Kecamatan Surian juga masih warga Kabupaten Sumedang.

“Bagi warga yang awam dan yang tidak sabar, banyak yang berkata bagaimana kalau kita pindah saja ke kabupaten sebelah, ini sinyal kekecewaan. Jadi, tolong lah diperbaiki secara merata (infrastruktur jalannya), kasihan warga,” pungkas Ade.

**********

Selain persoalan kerusakan infrastruktur jalan, beberapa desa di Kecamatan Surian juga seringkali mengalami kesulitan air bersih, itu diperparah dengan rusaknya akses jalan, dengan rusaknya akses jalan, warga semakin kesulitan untuk mencari air layak konsumsi, seperti yang dialami oleh warga Dusun Ciri, Desa Surian. Berikut petikan perbincangan admin dengan Kepala Dusun Ciri, Ara Kuswara ;

Warga Dusun Ciri, Desa Surian, Kecamatan Surian sampai saat ini masih kesulitan memperoleh air bersih. Sumber-sumber mata air di daerah tersebut berada jauh lebih rendah dari ketinggian desa. Lokasi desa yang berada di ketinggian tersebut menjadikannya sulit memperoleh suplai air bersih.

Kepala Dusun Ciri, Desa Surian, Ara Kuswara mengatakan kesulitan air bersih  di Desa Surian sudah berlangsung cukup lama. Sebagai sebuah kebutuhan pokok, kesulitan air bersih di Desa Surian dirasa cukup memprihatinkan. 

“Kadang untuk mengeluh pun kita sudah merasa lelah, sudah terlalu lama (mengharap ketersediaan air bersih),” kata Ara ketika berbincang dengan admin.

Ara menambahkan, dulu memang pernah dilakukan pemasangan paralon dan lain-lain (pipanisasi). Total jarak yang sudah dilalui pipanisasi tersebut sejauh tiga puluh meter dari gunung di Kecamatan Tanjungmedar.

“Tapi sampai sekarang pengerjaannya mandek, tidak pernah selesai,” tambah Ara.

Ara menjelaskan, mandek yang dimaksud olehnya adalah pipa yang telah  terpasang mudah rusak karena keadaan alam, sehingga harus terus diperbaharui, dan itu tidak dilakukan. Ketika pipa sudah terpasang dengan baik pun, warga tetap kesulitan memperoleh suplai air.

“Air yang keluar sedikit sekali, mungkin karena jarak tempuh air yang terlalu jauh dan terjadi kebocoran paralon disana-sini,” jelas Ara.

Ara melanjutkan, kebocoran sampai terputusnya jalur paralon memang kerap terjadi. Kerusakan akibat patah/terputusnya paralon tersebut biasanya diperbaiki dengan cara disambung kembali, tambal sulam, tapi itu pun tidak tahan lama.

“Tidak berselang lama biasanya rusak lagi karena tergerus longsor, jalur pipa memang rawan longsor,” ujar Ara.

Karena itu, untuk keperluan sehari-hari,  warga terpaksa mengambil air dari sumber mata air kecil yang berada jauh di bawah desa. Warga mengambil air dengan menggunakan ember secara bergantian.

“Itu jalan kaki turun jauh ke bawah, lalu naik lagi, tidak bisa menggunakan sepeda motor karena medan jalannya sulit. Rasanya seperti di tahun 80’an saja,” keluhnya.

Untuk itu, Ara berharap pihak berwenang bisa segera mengatasi permasalahan tersebut. Karena ketersediaan air bersih akan berpengaruh langsung pada kesejahteraan dan kualitas kesehatan penduduk desa.

“Mudah-mudahan ada perhatian  (dari pemerintah) sehingga masalah ini bisa cepat diatasi,” pungkas Ara.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

2 komentar

inilah sosok negeri kita pak..
sedih juga lihatnya..

Iya pak, pembangunan dirasa belum merata...bahkan untuk daerah yang terhitung dekat dengan Ibukota Provinsi dan juga Ibukota Indonesia


EmoticonEmoticon