Friday, 7 August 2015

Situs Prabu Guru Aji Putih

Situs Prabu Guru Aji Putih
Paramitha Rusady dan Ully Sigar Rusady (kiri, tengah) serta para Budayawan
di Situs Prabu Guru Aji Putih. Image by pikiran-rakyat.com
Mengutip kata-kata Budayawan Ully Sigar Rusady (kakak dari Paramitha Rusady) yang menyebutkan bahwa "Budi yang luhur tidak lupa leluhur," maka sudah sepantasnya putra daerah, selain mempelajari sejarah bangsa dan negaranya, juga mempelajari sejarah daerahnya, yang juga berarti selain mempelajari para pahlawan dan pendiri bangsanya, juga mempelajari para pahlawan dan pendiri daerahnya.

Hal itu sudah tertanam kuat di sebagian besar masyarakat Sumedang sekarang, sebagai contoh bisa dilihat ihwal yang berkaitan dengan pembangunan Waduk Jatigede, yang dipastikan akan merendam situs/makam pendiri daerah, dalam hal ini Kabupaten Sumedang. Masyarakat Sunda dan Sumedang pada umumnya, khususnya masyarakat adat Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja (tempat situs terancam digenang berada), tetap bersikukuh menolak penggenangan/pemindahan situs makam leluhur Sumedang, yaitu Prabu Guru Aji Putih di Kampung Babakan, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja.

Sebagaimana diketahui, Prabu Guru Aji Putih/Prabu Aji Putih/Haji Purwa Sumedang adalah salah satu keturunan dari Wretikandayun (Kerajaan Galuh) yang mendirikan kerajaan Tembong Agung, yang dikemudian hari Kerajaan Tembong Agung bermetamorfosis menjadi kerajaan Himbar Buana, dan terakhir berubah menjadi Kerajaan Sumedang Larang, untuk selanjutnya Kerajaan Sumedang Larang berubah menjadi Kabupaten Sumedang.

Jika ditarik benang merah sejarah, itu berarti Kerajaan Tembong Agung merupakan cikal bakal Kabupaten Sumedang sekarang, dimana Prabu Guru Aji Putih menjadi tokoh sentralnya. Tidak akan ada Kerajaan Tembong Agung jika tidak ada Prabu Guru Aji Putih, tidak akan ada Kabupaten Sumedang jika tidak ada Prabu Guru Aji Putih. Dengan demikian, situs Prabu Guru Aji Putih menjadi semacam situs monumental bagi Sumedang khususnya, dan Jawa Barat umumnya. Keberadaannya pun sudah dibukukan kedalam bagian dari situs bersejarah tingkat nasional dengan nama “Situs Sunda Agung Aji Putih”.

Karena hal tersebutlah, penggenangan Waduk Jatigede mendapat penolakan keras dari sebagian  masyarakat Sumedang dan masyarakat Sunda yang mengerti sejarah, karena areal situs/makam Prabu Guru Aji Putih berada dalam area genangan waduk. Apabila Waduk Jatigede jadi digenang, makam karuhun orang Sumedang dan cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang itu sudah pasti akan digenang dan menghilang. Begitupun jika situs itu dipindah ke tempat lain, tidak akan memiliki nilai sejarah karena yang namanya situs sudah pasti ia terikat dengan tempatnya berada. Jika itu semua dilakukan, Sumedang akan kehilangan saksi bisu sejarah dan jati dirinya. 

Selain situs Prabu Guru Aji Putih, di tempat yang sama terdapat dua makam bersejarah lainnya, yakni makam Resi Agung dan Ratu Inten Nawang Wulan. Dimana semuanya mempunyai keterkaitan dalam sejarah perkembangan bumi Parahyangan, yang menjadi bagian dari Republik Indonesia sekarang. Prabu Guru Aji Putih juga bergelar Haji Purwa Sumedang, karena dirinya telah memeluk agama Islam dan merupakan orang Sumedang pertama yang menunaikan ibadah haji. Prabu Guru Aji Putih mempunyai empat anak yaitu Batara Kusumah alias Batara Tuntang Buana alias Prabu Tadjimalela, Sakawayana alias Aji Saka, Haris Darma, dan terakhir Jagat Buana alias Langlang Buana. Pada masanya, Batara Tuntang Buana alias Prabu Tadjimalela sang anak sulung meneruskan kekuasan Prabu Guru Aji Putih di Kerajaan Tembong Agung.

Pada prinsipnya, masyarakat, budayawan, termasuk juga pemerhati lingkungan tidak sedikitpun menentang pembangunan dan penggenangan Waduk Jatigede yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat. Namun, semua meminta agar area situs pendiri Sumedang tidak diganggu dan dirusak (digenangi), itu semata-mata karena kepedulian dan kewajiban untuk memelihara warisan sejarah dan budaya. Bahkan, Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) yang meliputi 120 keraton, sudah mengirim surat kepada Presiden Jokowi untuk memperhatikan situs-situs yang ada di daerah genangan tersebut.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

9 komentar

Gimana solusinya itu kalao Waduk Jatigede menggenangi situs ya

ya itu kang, belum ada titik temu dan kesamaan pemikiran antara pemerintah, warga, dan pihak2 terkait lainnya tentang cara penyelamatan situs ini

oh dilema juga ya disatu sisi ada situs yang harus dilestarikan sementara mungkin waduk tuntutan pembangunan. Semoga ada jalan keluar dan situs Prabu Guru Aji tetap berdiri ditempatnya

This comment has been removed by the author.

Bener juga kata Mbak Ani, kayak buah simalakama dong... disatu sisi pembangunan waduk jatigede memang sangat penting dan harus dilakukan demi untuk kesejahteraan rakyat jangka panjang, karena dengan adanya waduk diharapkan para petani tidak lagi kesulitan dalam hal pengairan sawah-sawahnya. Tapi disisi lain, situs prabu guru aji putih merupakan situs yang bersejarah dan merupakan warisan kebudayaan... Yah semoga aja dapat menemukan titik temu yang saling menguntungkan kang toh kesemuanya juga untuk kepentingan warga juga :)

This comment has been removed by the author.

aamiin kang, iya begiitulah, mudah2an ada jalan keluar yang terbaik..

sebaiknya mah dipindah ath.kan itu situs tokoh smd.ingat yang wafat itu kan jasadnya.logisnya,bilamana seseorang rumahnya/jasadnya direndam gmn kira2..itupun klo mo direndam.klo tidak mah yah syukur alhamdulillah,orang smd masih bisa liht makam leluhurnya...


EmoticonEmoticon