Monday, 27 July 2015

Sasakala Desa Marongge

Bapak Ahmad, salah satu pengurus Situs Marongge menunjukkan makam Nyai Gabug,
seorang prajurit perempuan Mataram yang tinggal hingga wafat di Marongge

*Menelusuri Sejarah dan Kisah Dibalik Pelet Marongge

Mendengar kata “Marongge”, sebagian besar orang pasti akan teringat pada sesuatu yang bersifat mistis yaitu  “pelet”, ya, siapa tidak mengenal Pelet Marongge, pelet yang konon membuat nama Marongge dan Sumedang terkenal hingga ke berbagai daerah di Indonesia. Bagi sebagian orang, pelet marongge dipercaya sangat ampuh untuk mewujudkan maksud dan tujuannya. Namun ternyata, kisah awal mula munculnya pelet marongge sendiri tidak ada sangkut pautnya dengan pelet dan hal-hal berbau mistis lainnya. Bagaimana kisahnya ? berikut ulasannya :

Jarang yang mengetahui, bahwa kisah sejarah dibalik munculnya pelet marongge berkaitan dengan ekspansi atau perluasan wilayah Kesultanan Mataram Jogjakarta. Pada masa jayanya, Kesultanan Mataram berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan besar di tanah Jawa, termasuk Sumedang Larang. Pelet marongge sendiri mulai muncul pasca Kesultanan Mataram hendak menaklukkan Kerajaan Panjalu di daerah Ciamis sekarang.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang pengurus Situs Marongge, Ahmad, di Dusun Marongge, Desa Marongge, Kecamatan Tomo. Dirinya menuturkan bahwa pelet marongge mulai dikenal setelah wafatnya empat prajurit perempuan dari Mataram di Desa Marongge, empat prajurit perempuan tersebut sebelumnya mengemban misi menaklukan Kerajaan Panjalu.

“Keempat prajurit perempuan tersebut bernama Nyai Gabug, Setayu, Naibah, dan Naidah. Mereka gagal melaksanakan misinya menaklukkan Kerajaan Panjalu, sehingga memilih tidak kembali ke Mataram dan tinggal di sebuah desa yang sekarang bernama Desa Marongge ini. Mereka memilih tidak kembali karena hukuman bagi mereka yang gagal melaksanakan misi adalah hukuman mati,” tutur Ahmad.

Ahmad melanjutkan, keempat prajurit wanita ini konon mempunyai paras yang sangat cantik, sehingga siapapun yang berjumpa dengan mereka akan langsung jatuh hati. Tidak hanya manusia, bahkan kecantikan dan pesonanya bisa menggerakkan benda mati.

“Kalau menurut cerita rakyat yang diceritakan turun menurun, bahkan kukuk (sejenis buah labuh) pun terpesona pada kecantikan Nyai Gabug, sehingga kukuk yang telah dihanyutkan ke hilir sungai pun kembali lagi ke hulu ketika Nyai Gabug memanggilnya,” jelasnya.

Karena kecantikan dan pesonanya itulah, setelah Nyai Gabug beserta ketiga saudaranya meninggal, banyak orang berkunjung ke makamnya untuk meminta keberkahan dalam hal pesona diri, sehingga lambat laun lahirlah pelet marongge.

“Karena pesonanya itulah dikemudian hari lahir pelet marongge. Itu pun mulanya lahir dari kepercayaan orang-orang yang menghendakinya (meminta berkah pesona) dan bukan berasal dari ajaran Nyai Gabug,” tambah Ahmad.

Sekarang ini, makam Nyai gabug beserta ketiga saudaranya sudah termasuk kedalam situs/cagar budaya yang dilindungi Undang-undang. Oleh karena itu, Ahmad berharap ada perhatian dari yang berwenang pada pemeliharaan dan penataan situs.

“Kita kan ngamumule, memelihara peninggalan sejarah, jadi mohon ada perhatian lebih dari pemerintah dalam hal penataan dan pemeliharaan situs disini. Terlebih pengunjung yang datang kesini sangat banyak setiap bulannya, jadi rentan (terjadi kerusakan) pada sarana dan prasarananya juga,” pungkasnya.

*****

*Berikut adalah cerita rakyat tentang awal mula nama Desa Marongge

Sasakala Desa Marongge

Pada jaman dahulu, tersebutlah ada seorang wanita yang sedang mengalami patah hati, Nyai Gabug namanya. Ia patah hati karena seorang lelaki. Untuk mengobati dan melupakan sakit hatinya, Nyai Gabug mengembara bersama tiga orang adiknya, Setayu, Naibah, dan Naidah.

Tidak ada yang tahu pria mana yang telah membuat Nyai Gabug patah hati. Siapapun tidak akan percaya Nyai Gabug harus mengalami sakit hati seperti itu, karena Nyai Gabug mempunyai paras yang sangat cantik yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Siapapun yang berjumpa dengannya, baik lelaki ataupun perempuan, akan langsung menyukainya, dan bagi lelaki tentu ingin memperistrinya.

Diceritakan, Nyai Gabug dan tiga adiknya tiba di suatu bukit di ujung sebuah desa, untuk selanjutnya ia membuka lahan dan mendirikan tempat tinggal disitu. Berita tentang tinggalnya Nyai Gabug di tempat tersebut sangat cepat menyebar dari mulut ke mulut, akhirnya tersebarlah berita bahwa ada empat wanita cantik yang tinggal di sebuah bukit di ujung desa.

Banyak yang penasaran dan mendatangi tempat empat wanita itu berada, dan ternyata benar saja, di tempat itu tinggal empat orang wanita yang kecantikannya tiada tandingannya. Dan tidak jauh dari dugaan, akhirnya banyak lelaki yang jatuh hati dan coba meraih simpati adik-adik Nyai Gabug.

Nyai gabug sendiri mendidik dan mewanti-wanti pada adik-adiknya supaya tidak gampang tergoda oleh rayuan lelaki, utamanya mereka harus berkaca pada apa yang telah dialami oleh dirinya. Ketiga adiknya itu menuruti apa yang telah dinasehatkan kepadanya, mereka memegang teguh amanat sang kakak, dan berjanji tidak akan tergoda oleh lelaki sebelum sang kakak  memberikan restu.

Hingga pada akhirnya, berita tentang kecantikan Nyai Gabug dan ketiga adiknya sampai ke telinga Raja Gubangkala. Berita itu membuatnya penasaran dan ingin mendatanginya sendiri, lain dari biasanya, Raja Gubangkala pergi dari keraton sendiri dan tidak mewakilkan pada siapapun.

Singkat cerita, Raja Gubangkala tiba di bukit yang dimaksud, yaitu tempat tinggal Nyai Gabug dan ketiga adiknya. Dan benar saja, begitu bertemu dan beradu tatap dengan Nyai Gabug, Raja Gubangkala langsung jatuh hati dan ingin memperistrinya, saat itu juga Raja Gubangkala melamar Nyai Gabug untuk dijadikan permaisuri di kerajaannya.

Nyai Gabug tidak serta merta menerima lamaran tersebut, dirinya memberikan syarat pada Raja Gubangkala, yang jika syarat tersebut bisa dipenuhi, baru dirinya mau diperistri oleh Raja Gubangkala. Syarat yang diajukan adalah, Raja Gubangkala harus bisa mengembalikan kukuk (sejenis buah labuh) yang sudah dihanyutkan ke hilir, agar kembali pada tempat asalnya dihanyutkan. Raja Gubangkala kaget mendengar syarat tersebut, itu hal yang mustahil pikirnya.

Namun syarat tersebut coba disanggupinya, karena dirinya pun bukan orang sembarangan dan memiliki kesaktian. Namun apa daya, dengan kesaktiannya pun dirinya tidak bisa memanggil kembali kukuk yang telah dihanyutkan ke hilir, kukuk terus hanyut dan tak kembali.

Sementara, ketika Nyai Gabug mempraktekkan hal yang sama, yaitu memanggil kembali kukuk yang telah dihanyutkan, ia bisa melakukannya, kukuk yang telah hanyut ke hilir berbalik arah ke hulu setelah Nyai Gabug memanggilnya. Itu mengisyaratkan kedigdayaan ilmu Nyai Gabug dan  bukti bahwa kecantikannya memikat siapa saja, bukan hanya manusia, bahkan kukuk yang merupakan benda mati pun tertarik dan takluk pada kecantikan Nyai Gabug.

Melihat itu, Raja Gubangkala menyerah dan mengurungkan niatnya untuk memperistri Nyai Gabug, karena dirinya telah melihat sendiri Nyai Gabug bukan wanita sembarangan dan memiliki kesaktian serta pesona yang luar biasa. Semenjak saat itu pula, tidak ada yang berani mendekati Nyai Gabug beserta tiga adiknya, karena merasa mustahil akan bisa mengabulkan syaratnya, syarat serupa yang pernah diberikan pada Raja Gubangkala.

Selang beberapa lama dari kejadian tersebut, Nyai Gabug sakit parah sampai tidak sadarkan diri. Ketiga adiknya seketika kaget dan merasa khawatir. Tapi tidak berselang lama dari itu, Nyai Setayu menerima ilafat  harus mencari getah buah kilaja muning untuk menyembuhkan Nyai Gabug, untuk selanjutnya getah tersebut harus dioleskan pada bibirnya. Ternyata benar saja, Nyai Gabug sembuh seketika setelah bibirnya diolesi getah kilaja muning. Setelah Nyai Gabug sadar dan membuka matanya, dirinya memerintahkan tiga adiknya untuk segera menggali tanah dan membuat sebuah lubang, ketiga adiknya pun menyanggupinya.

Setelah selesai menggali lubang, Nyai Gabug masuk ke dalam lubang tersebut dan memerintahkan ketiga adiknya untuk segera menutup lubang itu dengan menggunakan rengge (ranting). Setelah lubang tertutupi rengge dengan sempurna, Setayu, Naibah, dan Naidah kaget, karena dari sela-sela ranting ada cahaya berkelebatan seperti merong (melihat/menyorot) pada ketiganya. Semenjak saat itu, tempat itu dinamakan Marongge, yang merupakan gabungan dari kata merong dan rengge.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

15 komentar

keren kang cerita legendanya.. saya baru denger cerita ini ,,, :D

Baru tau ada pelet marongge, kayak nya udah ngak musim lagi nich pelet memelet. atau masih ngetrend yaa ??? haha

Baru tau sama ceritanya. Lumayan buat bahan dongeng buat ponakan

Marongge sebuah wilayah yang berada hanya 7 km dari Desa Cilembu, tahun 90 an saya sering maen kesini nyari pelet jangjawokan...dan ilmu pelet semar mesem masih saya pake hingga saat ini.

nembe terang aya cerita sepertos kie kang.

waduh kang cilembu gening punya pelet. udah brapa kang yang di pelet

baru denger apa baru baca mas :D

udah gak musim ? berarti pernah pake ya :D

waduh ? ponakannya didongengin tentang pelet ?

pantesan profilnya mesem2 terus ya

kade tong dipraktekkeun nya kang hhe

baru tahu kalo Nyai Gabug, Setayu, Naidah, Naibah, adalah utusan mataram.....dari mataram hindu atau mataram islam nya kang???....

Sebenarnya bukan hanya pelet yang jadi tujuan utama marongge..banyak pilihan dan tentu tergantung dari doa orang yang datang...pak ahmad,pak maman,abah aki,pak nana dan mang omeng yang selalu ada dimarongge.

Kapan ada ritual lagi pengen lihat??


EmoticonEmoticon