Friday, 19 June 2015

Tradisi Ngabuburit di Bulan Ramadhan

Ngabuburit
Suasana ngabuburit hari pertama puasa di pertigaan Cipanteneun
Ngabuburit, atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai aktifitas yang dilakukan selagi menunggu waktu buka puasa tiba, merupakan istilah yang lumrah terdengar selama bulan Ramadhan. Ngabuburit yang seolah sudah menjadi tradisi ini bisa dilakukan dengan berbagai kegiatan, baik di dalam maupun di luar ruangan.

Jam belum menunjukan pukul empat sore, tapi kios-kios penjaja makanan sudah dihiasi antrian pembeli yang berburu kuliner untuk berbuka puasa. Jalanan yang biasanya hanya didominasi truk pengangkut pasir pun berubah dipenuhi sepeda motor, dan bahu jalan berubah menjadi tempat parkir dadakan tempat menyimpan kendaraan mereka yang sedang ngabuburit.

Suasana menjelang buka puasa pertama di Desa Licin, Kecamatan Cimalaka tahun ini terbilang lebih semarak dari tahun sebelumnya. Jalanan hampir penuh dengan sepeda motor yang hilir mudik kesana kemari dengan berbagai tujuan. Penjaja makanan untuk berbuka pun semakin menjamur. Ada beberapa titik yang tiba-tiba menjadi pusat keramaian, salah satunya adalah di sepanjang jalan eks pabrik tekstil yang terbentang dari pertigaan Cipanteneun Dusun Panteneun Desa Licin sampai Dusun Lemburgedong Desa Cimalaka.

Salah seorang warga setempat, Aripin, mengatakan titik tersebut bisa dikatakan sebagai pusat keramaian baru di daerah itu. Itu diakibatkan oleh  semakin banyaknya pedagang yang membangun kios/jongkonya di sepanjang benteng eks pabrik tekstil. “Beberapa tahun lalu tidak ada yang berjualan disitu, mungkin sekitar dua tahunan yang lalu baru ada yang mulai berjualan, dan setahun terakhir itu sudah penuh dari ujung ke ujung (oleh yang berjualan),” kata Aripin.

Aripin menambahkan, di bulan Ramadhan ini, keadaan tersebut seolah menjadi alternatif ngabuburit baru bagi warga sekitar. Dengan menjamurnya penjual makanan, maka otomatis mereka yang ngabuburit dengan berburu kuliner untuk berbuka puasa akan terkonsentrasi di tempat itu.
“Disitu mulai dari buah-buahan, mie, jus, sampai cemilan anak pun ada yang jual. Apalagi di bulan Ramadhan ini variasi makanannya pasti bertambah, mulai dari lauk untuk berbuka, sampai candil, kolak, dan makanan untuk takjil lainnya pasti ada disitu,” jelas Aripin.

Selain ngabuburit dengan berburu kuliner untuk berbuka, kebanyakan remaja ngabuburit hanya menghabiskan waktu dengan berkonvoi menggunakan sepeda motor. Hal itu dilakukan sambil menikmati keramaian yang tidak terjadi seperti di hari-hari biasa.

*Diterbitkan di harian Sumedang Ekspres, 18 Juni 2015

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

4 komentar

tradisinya ci akang kalau ada di kampung ya, tapi emang menghasikkan ngabuburit sambil numpak motor keliling kota dan desa, pas pulang udah bedug magrib...buka deh yu

hiyah begitu kang kira-kira, hayu hayu

si mang lembu ngadodol tah
dulu ngajak ngabuburitnya di warung kopi sambil ngudud...

Atuh jalan sebelah alun alun sumedang jadi pasar tumpah ya..?
Dulu lewat ga pas puasa juga udah macet...


EmoticonEmoticon