Monday, 29 June 2015

Situs Buyut Malandang

Situs Buyut Malandang
Kartaman, Plh Sekdes Desa Buahdua, di Situs Buyut Malandang,
Dusun Malandang, Desa Buahdua, Kecamatan Buahdua
Seperti pernah Admin ceritakan di artikel berjudul Asal Mula Nama Desa Buahdua, dalam artikel itu admin menyebut nama salah seorang tokoh sentral bernama Rd. Agus Salam atau Buyut Malandang dalam pembentukan desa Buahdua tersebut. Berikut ceritanya admin ceritakan kembali secara singkat :

Buyut Malandang atau Rd. Agus Salam adalah putra dari Rd. Kartadibrata Kusumahdinata yang notabene keturunan Susuhunan Sumedang Larang. Ketika Sumedang berada dibawah kekuasaan Mataram, Rd. Agus Salam dijadikan Kepala Cutak (kepala wilayah) daerah Buahdua sekarang oleh Kesultanan Mataram.                      

Rd. Agus Salam, kala itu mendapat tugas untuk menjamu makan kepada serombongan pasukan Mataram. Pasukan Mataram itu ditugaskan menyerang/melakukan peperangan pada tentara VOC di Batavia. Semula jumlah pasukan yang akan datang diperkirakan sebanyak 200 orang, namun Jauh dari perkiraan, tamu datang berjumlah 10 kali lipatnya, yaitu sekitar 2000 orang.

Berkat kecerdikan dan kesaktian Rd. Agus Salam, semua kekurangan perjamuan tentara Mataram dapat dipenuhi, bahkan lebih. Tentara Mataram pun saat akan pulang mendapat bingkisan yang lumayan dari Rd. Agus Salam.

Atas kejadian tersebut, Rd. Agus Salam mendapat julukan Malandang ( juru bagi yang sakti) dari pemerintahan Sumedang saat itu. Nama Malandang sekarang diabadikan menjadi nama sebuah Dusun, yaitu Dusun Malandang. Makam Buyut Malandang di Dusun malandang sendiri sampai sekarang sangat terawat dan sering dijarahi keturunannya dari berbagai pelosok di Sumedang, bahkan luar Sumedang.                                  

Sementara daerah yang dulu dikuasai oleh Buyut Malandang, karena kesuburannya menjadi daerah Panyeuseupan (menete), lebih diartikan ke Buah dada. Layaknya seorang ibu memberikan pertumbuhan dan kesuburan kepada anaknya. Dari nama Buah dada agar terdengar lebih sopan, maka diubah menjadi Buahdua.                        

Konon, di Dusun Malandang, tempat Situs Buyut Malandang berada  memiliki jumlah kepala keluarga yang tetap, yaitu sekitar 40 kepala keluarga. Jika ada warga pindah dari luar daerah dan menetap di Dusun Malandang, dipastikan dari Dusun Malandang sendiri ada yang pindah keluar atau meninggal. Hal itu diungkapkan Engkat K Wirasaputera, salahsatu tokoh masyarakat Desa Buahdua. "Dusun Malandang mempunyai cerita yang cukup unik, jumlah KK nya selalu tetap, bahkan kurang dari 40 KK dan itu sudah berjalan dari dulu," katanya di kediamannya).

Senada dengan Engkat, Kartaman, Plh Sekdes Buahdua membenarkan adanya cerita tentang warga Dusun Malandang yang berjumlah tidak lebih dari 40  Kepala Keluarga.  Kartaman menambahkan, ada mitos lain di Dusun Malandang, yaitu tidak boleh menyebut salam, bagi sejenis bumbu dapur yang berbentuk daun. "Warga sekitar sini menyebut daun salam dengan nama kopo. Itu untuk penghargaan dan penghormatan bagi buyut Malandang (Rd. Agus Salam)," katanya.

Kartaman menjelaskan di Dusun Malandang ada pula sebuah budaya yang dinamakan budaya ngikis, yaitu budaya memperbaiki segala kerusakan pada makam Buyut Malandang dan makam istrinya,dilaksanakan setahun sekali. "Budaya ngikis dilakukan biasanya pada tanggal 25 atau 27 Rewah. Mungkin untuk mempersiapkan ziarah pada hari raya Ied nanti," jelasnya.              

Menurut Kartaman, semua itu dilakukan oleh warga Dusun Malandang beserta warga sekitar. Juru kunci mengadakan hajatan dengan menyediakan segala jenis makanan hasil bertani dari warga. "Warga boleh mengambil kayu sebagai kayu bakar pada hari itu saja, sementara hari yang lain tidak diperbolehkan. Jadi hanya setahun sekali warga boleh mengambil kayu dari Dusun Malandang," tandasnya.  Lanjutnya, selain di hari itu, warga dusun Malandang takut untuk mengambil bambu atau kayu. Mereka hanya mengambil sewaktu adanya budaya ngikis itu.

*Diterbitkan di harian Sumedang Ekspres, Mei 2014

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

2 komentar

Mirip mirip kampung naga di tasik gitu ya, mang
warganya apa rumahnya gitu ga boleh lebih dari 40


EmoticonEmoticon