Wednesday, 17 June 2015

Seni Jentreng Jambret Sebagai Seni Buhun

Pemain Jentreng
Pemain Jentreng
Image By :
 disparbud.jabarprov.go.id
Berbicara tentang seni buhun (tua), tentu kita berbicara tentang seni tradisional yang harus dijaga dan dilestarikan, karena merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun sampai generasi saat ini. Di Sumedang, salah satu seni buhun tersebut adalah seni Jentreng Jambret, yang berasal dari Desa Babakan Asem, Kecamatan Conggeang. Sayang, seni ini bahkan hampir punah di kalangan masyarakat Conggeang sendiri. Bagaimana sejarah dan jalannya pementasan seni Jentreng Jambret ini ? Berikut ulasannya.

Desa Babakan Asem, Kecamatan Conggeang mempunyai seni buhun yang cukup menarik dan unik, seni Jentreng Jambret namanya. Dahulu, seni ini dipentaskan apabila ada acara "Guar Bumi", yaitu sebuah acara ketika penduduk Desa Babakan Asem akan memulai musim menanam padi. Selain itu, Jentreng Jambret juga dipentaskan ketika ada "Hajat Uar", atau sejenis acara Hajat Lembur.

Seiring dengan perkembangan zaman, kini, di Desa Babakan Asem seni Jentreng Jambret juga ditampilkan pada acara-acara khitanan, pernikahan, kenaikan kelas bagi siswa-siswi SD, dan pernah juga dipentaskan pada acara Perkemahan Jamran di Kecamatan Conggeang.

Dalam pementasannya, Seni Jentreng Jambret menampilkan empat personil, yaitu terdiri dari Dalang, Juru Kawih, pemegang alat kecapi dan pemegang alat piul. Seni ini berisi obrolan antara Dalang, pemegang kecapi dan pemegang piul. Obrolan yang ditampilkan berupa pepatah dan guyonan yang disesuaikan dengan alur cerita yang dibawakan.

Ada empat tokoh yang selalu terdapat dalam alur cerita Jentreng Jambret, diantaranya Ki Madlain, tokoh yang selalu bercerita kemana saja, tidak jelas arah obrolannya, tetapi pada akhirnya selalu pas dengan keadaan. Tokoh kedua, Ki Mastanu, orang yang selalu "olo-olo", tokoh ketiga, Ki Eweng, tokoh yang digambarkan selalu menghibur dengan banyolannya dan terakhir, Ki Bajul, tokoh yang digambarkan begajulan dan nakal.

Sekertaris Desa Babakan Asem sekaligus tokoh dalam seni Jentreng Jambret, Eman Irmana mengatakan, seni ini berasal dari seni beluk yang dikembangkan dengan tambahan alat musik, kecapi dan piul. Bahkan, lanjut Eman, dalam acara perkemahan Jamran Kecamatan Conggeang ditambah memakai gendang dan gong. "Saat itu perrtama kalinya ditampilkan di acara perkemahan di Kecamatan Conggeang," katanya pada Admin.

Dikatakan Eman, selama ini lingkung seni yang terus berupaya terus mengembangkan seni Jentreng Jambret yaitu Lingkung Seni Wargi Saluyu, Kampung Naringgul, Desa Babakan Asem, Kecamatan Conggeang. Sebut Eman, pementasan salah satu seni buhun ini sering dilakukan oleh lingkung seni Wargi Saluyu, tetapi baru terbatas di Kecamatan Conggeang. "Belum pernah mentas keluar Kecamatan," ujarnya. Lingkung seni Wargi Saluyu, lanjutnya, sering melakukan pentas apabila ada permintaan. Lingkung seni ini juga terus melakukan latihan rutin supaya seni ini tetap lestari.

Melihat hampir punahnya seni Jentreng Jambret dari Desa Babakan Asem ini, Eman berharap adanya perhatian dari berbagai pihak pada salah satu seni buhun di Sumedang ini, baik dari segi pengembangan maupun regenerasi. "Seni ini harus tetap lestari dan menjadi salah satu ciri khas Desa Babakan Asem pada khususnya dan Kecamatan Conggeang pada umumnya," pungkasnya.

Seni Jentreng Jambret Oleh Lingkung Seni Wargi Saluyu

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

2 komentar

Seni Jentreng memang berawal dari kesenian Beluk yang diberi tambahan alat piul ya kang, kesenian buhun urang sunda teh wajib di lestarikan oleh kita, kalau tidak kita...siapa lagi?

setujjjju pisan kang, iyah begituh tea


EmoticonEmoticon