Saturday, 20 June 2015

Mengenal Bako/Tembakau Parugpug, Tembakau Dengan Kualitas Nomor Satu

Pak Ana, ketua Kelompok Tani Karya Bakti
di ladang tembakau Parugpug
Siapa tidak mengenal tembakau, tanaman yang sangat akrab dengan para penikmat rokok ini menjadi salah satu komoditas bisnis paling diperhitungkan di dunia. Beberapa daerah di Indonesia pun ada yang menjadi penghasil tembakau kualitas dunia seperti Temanggung, Deli, Jember, Lombok, dan Madura. Namun ternyata, Kabupaten Sumedang pun mempunyai tembakau yang tak kalah kualitasnya dengan tembakau dari ke lima tempat tersebut, Tembakau Pargugpug namanya. Apa itu Tembakau Parugpug dan bagaimana kualitasnya ?? berikut ulasannya.

Bako/tembakau Parugpug, begitu nama tembakau ini biasa disebut, adalah tembakau yang berasal dari Dusun Parugpug, Desa Cijambe, Kecamatan Paseh. Tembakau Parugpug sudah diakui berbagai kalangan sebagai tembakau dengan kualitas terbaik di Indonesia, bahkan kualitasnya digadang-gadang bisa bersaing di tingkat internasional. Dengan keunggulannya, tembakau Parugpug telah mendapat Hak Paten atau Sertifikat Indikasi Geografis dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dengan nama Tembakau Mole.

Ketua Kelompok Tani Karya Bakti, yang juga merangkap sebagai DPK APTI (Dewan Pengurus Kecamatan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia), pak Ana mengatakan, Tembakau Mole dibagi menjadi empat jenis bako/tembakau yaitu  merah, kuning, putih, dan hijau. Tembakau Parugrug sendiri termasuk dalam jenis Tembakau Mole merah, dalam kegiatan distribusi dan perdagangannya disebut dengan Tembakau Mole Merah. Mengenai kualitasnya, akan terlihat dari warna, aroma, rasa, dan bobotnya. Setiap ada pameran tembakau nasional, Tembakau Mole Sumedang selalu diakui dan dinobatkan menjadi yang paling unggul.

“Tidak seperti halnya Ubi Cilembu, masyarakat kebanyakan memang belum banyak yang tahu (Tembakau Parugrug sebagai produk unggulan Sumedang), tapi yang tahu dan ahli tembakau pasti tahu lah,” kata pak Ana di kediamannya di Desa Cijambe, Kecamatan Paseh.

Sama halnya seperti Ubi Cilembu yang sama-sama menjadi produk unggulan Sumedang, lanjutnya, kekhasan dari tembakau Parugpug dihasilkan dari kualitas tanah tempat tembakau tersebut ditanam. Jika tembakau Parugpug ditanam di tempat lain, maka kualitas tembakaunya akan menurun. “Jadi seperti Ubi Cilembu dari Desa Cilembu, tembakau ini juga bernama Bako Parugpug karena berasal dari Parugpug,” jelasnya.

Tembakau Parugpug Sumedang
Tembakau Parugpug Sumedang
Pak Ana melanjutkan, tembakau Parugpug dengan kualitas bagus hanya bisa ditanam di dua tempat, selain di Dusun Parugpug Desa Cijambe, kualitas tembakau yang sama hanya bisa dihasilkan dari tembakau yang ditanam di Desa Pasirreungit. “Hanya di dua tempat itu saja kualitasnya bisa maksimal,” ujarnya.

Sekitar dua bulan lagi, tembakau Parugpug akan memasuki masa panen yaitu pada akhir bulan Agustus. Untuk mendapat kualitas tembakau terbaik, lanjut Pak Ana, sebelumnya harus melalui tahapan demi tahapan terlebih dahulu. Karena bukan tidak mungkin kualitas tembakau akan jauh dari harapan jika proses pra penanaman tidak dilakukan dengan benar. Sebelum penanaman tembakau yang dilaksanakan pada tanggal 23 Mei lalu, sebelumnya dilakukan pengolahan tanah, persemaian selama kurang lebih 35 hari, dan pembungbunan (penanaman pada polibag kecil) selama kurang lebih 10 hari di tempat terpisah.

“Bentuk pengolahan tanahnya sendiri biasanya dengan traktor atau cangkul, dengan panjang garitan kurang lebih 10 meter, lebar 1,60 meter, kamalir (parit) 40 cm dan jarak tanam 1,20 x 80 x 70. Sedangkan pemupukan dilakukan dua kali, yaitu pemupukan awal (organik/kimia) pada usia tanam 14 hari dan pemupukan kedua pada usia 20 hari-an. Yang ditanamnya tembakau varietas Nani,” jelas pak Ana panjang lebar.

Namun demikian, menurutnya, meskipun semua teknik penanaman tersebut dilakukan, kualitas tembakau terbaik belum pasti bisa didapatkan, karena tetap tergantung pada pemeliharaan dan ketersedian air untuk menghindarkan tembakau dari kekeringan. Berdasar hal tersebut, kendala cuaca memasuki musim kemarau saat ini menjadi masalah terbesar yang dihadapi. Seringkali terjadi kekurangan air dan tembakau terancam kekeringan.

Karena itu, pak Ana berharap, pihak berwenang bisa membantu mengusahakan sarana pengairan berupa pembangunan sumur artesis guna menghindarkan tembakau Parugpug dari kekeringan. “Karena dari segi pendanaan (bagi tembakau Parugpug), itu di Kec. Paseh ada demplot yang dikelola agrobisnis Sumedang, Bintek yang dikelola propinsi, dan penangkaran benih dari Hutbun kabupaten, kalau terjadi kekeringan dan gagal panen, itu semua akan sia-sia. Jadi mudah-mudahan pihak berwenang bisa membantu,” pungkasnya.

*Diterbitkan di harian Sumedang Ekspres, 20 Juni 2015

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

11 komentar

bako parugpug memang sudah terkenal dan memiliki ciri khas yang unik dantidak ada pada bako-bako (baca: tembakau) di tempat lain, sayangnya tembakau yang istimewa ini pemasarannya hanya pada daerah-daerah tertentu saja, agak sulit untuk menembus pasar dunia, sebab banyak larangan dan peringatan bahwa merokok dapat membuat anda mati...lama-lama ge'

seharusnya pemeintah daerah dan pusat tanggap akan hal ini.
kasihan para petani tembakau parupug jika musim kemarau melanda....
bisa galau

matak ge tong ngaroko wae mang...
sakitu kapolda sok komplen oge

tembakau mah gampang gampang susah lik
dikasih hujan berlebih juga repot bakal kena layu daun

Baru denger om soal bako parugpug
Kalo bako mole atau bako padud mah udah lama tau

izin menyimak dan membaca saja deh mas hehe saya engga ngerti dengan tembakau atau bako :)

yah begitulah ya kang lembu...
wedeh, yg komplennya sampai kapolda, keren euy...

nuah gitu, harus seimbang gitulah pengairan n pencahayaannya nya..

tembakau parugpug itu bagian dari tembakau mole kang :D
hooh...itu mah da sudah banyak dikenal ya


EmoticonEmoticon