Saturday, 2 May 2015

Terancam Punah, Seni Tutunggulan Perlu Regenerasi

Seni Tutunggulan. Menjadikan Lisung & Halu Sebagai Alat Musik
Image By :
jabar.tribunnews.com
Di Kabupaten Sumedang, Seni Tutunggulan adalah sebuah seni yang berasal dari Desa Cacaban, Kecamatan Conggeang. Dalam pertunjukannya, Seni Tutunggulan ini terhitung sederhana namun juga unik, karena hanya menggunakan dua perkakas pengolahan padi yang dijadikan dua alat untuk menghasilkan musik, dua perkakas tersebut adalah lisung dan halu. Kendati alat yang digunakan sangat sederhana dan tidak rumit, ternyata sedikit sekali kaula muda yang mau menekuni seni ini. Bagaimana keberadaan Seni Tutunggulan ini sekarang ? berikut ulasannya.

Seni Tutunggulan yang berasal dari Desa Cacaban, Kecamatan Conggeang perlu regenerasi. Generasi muda yang ada di desa, sekarang kurang berminat menekuni seni yang hanya dimainkan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan ini.  Jika hal tersebut dibiarkan,  tidak mustahil kedepannya Seni Tutunggulan akan punah.

Seperti dikatakan oleh Sekretaris Desa Cacaban, Acep Momo yang mengatakan bahwa seni yang dimainkan oleh delapan orang perempuan tersebut sekarang sepi peminat dari kalangan remaja. Hal tersebut diakibatkan oleh perkembangan zaman dan masuknya kebudayaan asing yang dianggap lebih baik. “Seninya masih ada dan sampai sekarang masih selalu dimainkan,  tapi tidak ada regenerasi, pemainnya itu-itu saja,” kata Acep.

Acep menambahkan, pemain Seni Tutunggulan yang masih ada sekarang  hampir semua sudah berusia lanjut. Selain itu, pemain yang masih bisa memainkan Seni Tutunggulan juga terhitung minim. “Yang masih ada dan masih bisa memainkannya antara lain Ma Titi, Ma Icih, Ma Ela, Ma Engkar, Ma Ayem, dan Ma Jumarsih dan ada beberapa orang lagi. Jika salah seorang  sakit (dan tidak bisa bermain) saja, maka kita akan kesulitan (mencari orang lain yang bisa),” tambah Acep.

Menurut Acep, seni yang hanya menggunakan lisung dan halu sebagai alat musik ini terhitung unik. Karena dengan menggunakan dua perkakas itu saja, bisa menghasilkan suara dan irama musik yang berbeda-beda. “Untuk menghasilkan suara yang berbeda-beda, diatur letak memukulnya, ada yang memukul di pinggir, agak pinggir, dan di tengah lisung,” ujar Acep.

Letak memukul yang berbeda  menjadikan  dua alat tersebut bisa memiliki tiga suara. Tiga suara yang ada dipadukan dengan jeda-jeda dan giliran tertentu sehingga bisa menghasilkan musik dengan sebuah irama. “Tidak jauh berbeda dengan tataluh atau tatabeuhan, begitulah gambarannya,” jelas Acep.

Acep berharap, generasi muda di desa bisa lebih peduli lagi terhadap seni tradisional Desa Cacaban. Sebab sebuah seni, dalam hal ini Seni Tutunggulan, merupakan kekayaan yang tidak ternilai warisan dari generasi terdahulu di Desa Cacaban. “Harus lebih digugah lagi, dan utamanya harus ada kemauan dari kaula mudanya dalam melestarikan Seni Tutunnggulan ini,” pungkas Acep.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

4 komentar

Lisung dan halu alat tradisional yang sudah jarang dan susah untuk ditemui di zaman sekarang. Semoga Seni Tutunggulan ini masih dapat disaksikan anak cucu kita nanti.

bisa dibilang ini orkestra nya emak-emak nih haha

Sayang banget yah kalok kesenian daerah kita terancam punah.. :(


EmoticonEmoticon