Wednesday, 13 May 2015

Komunitas Guriang Tunggal Dangiang Padjadjaran

Komunitas Guriang Tunggal dangiang Padjadjaran
Komunitas Guriang Tunggal Dangiang Padjadjaran
Sebuah komunitas biasanya pasti ingin menonjolkan diri ke permukaan, caranya pun bermacam-macam, dari yang biasa sampai yang unik untuk menarik perhatian orang banyak. Di Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka ada sebuah komunitas yang bisa dibilang mempunyai penampilan unik dan terlihat berbeda dari yang lain, mereka adalah komunitas Guriang Tunggal Dangiang Padjadjaran. Apa kegiatan dari komunitas tersebut dan bagaimana mereka mempertahankan eksistensinya ?? berikut liputannya.

Tidak menyengaja berpenampilan unik, tapi orang-orang menganggap kita berpenampilan unik, itu kata pertama yang terucap dari mulut Ki Wijaya Kusuma, perwakilan dari komunitas Guriang Tunggal Dangiang Padjadjaran ketika menjawab pertanyaan Admin terkait penampilan komunitas tersebut. Bagaimana tidak, penampilan komunitas itu terlihat mencolok dan berbeda ketika berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan memakai pakaian salontreng, iket, totopong, dudukuy , dan aksesoris khas sunda lainnya yang serba hitam, menjadikan mereka memiliki kekhasan tersendiri dan terlihat unik.

“Sebenarnya kita hanya berpenampilan ala orang-orang  Sunda buhun, dan ditambah sedikit aksesoris saja, seperti misal batu akik,” kata Ki Wijaya. Itu adalah pakaian dan aksesoris yang biasa dipakai orang-orang Sunda jaman dahulu, sekarang dinilai berbeda karena memang sudah jarang orang yang memakainya, jelasnya.

Ki Wijaya menambahkan, komunitas yang berdiri sejak tahun 1996 itu mempunyai banyak anggota yang tersebar di Sumedang, namun, yang memakai pakaian ala Sunda buhun hanya sembilan orang. Ke-sembilan orang tersebut menjadi simbol dari komunitas, jika salah satu dari sembilan orang itu keluar dari komunitas, baik karena meninggal dan lain-lain, maka akan digantikan oleh anggota yang lainnya.

“Sembilan itu kita mengambil filosofi para wali, sekarang anggota komunitas yang berpenampilan seperti ini adalah saya (Ki Wijaya Kusuma), Ki Obes, Ki Bagus Wiraguna, Agus Opak, Ki Jangkung, Nyi Jenong, Ki Kobra, Ki Kebok Kenong, dan Agus Japra,” terang Ki Wijaya. Kemanapun komunitas ini pergi, selalu membawa satu buah kecapi, kecapi ini berfungsi sebagai pengiring irama ketika melakukan rajah dan ruwat lembur, dengan Agus japra sebagai pemain kecapinya.

Menurut Ki Wijaya, penampilan tersebut juga menjadi simbol bahwa komunitas Guriang Sunda Dangiang Padjadjaran bertujuan melestarikan budaya sunda, agar budaya sunda bisa menjadi lebih eksis dan terangkat kembali. Dalam prakteknya, komunitas ini akan mempertontonkan keahlian mereka sesuai permintaan yang mengundang.

“Jadi seringnya, kita diundang oleh yang punya hajat untuk mempertontonkan keahlian kita. Di situ kita biasanya mempraktekkan berbagai atraksi seperti debus, pertunjukan ular, kebal direbus, dan lainnya,” pungkas Ki Wijaya.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

18 komentar

Salah satu yang seperti untuk patut diperhatikan..hahahyy

Komunitas yang patut di contoh dan dilestarikan,,, mantab

ini termasuk komunitas kesenian ya mas?
keren,sudah sepatutnya dipertahankan dan di lestarikan.karena termasuk salah satu kekayaan budaya bangsa kita.
betewe itu kijangkung tingginya berapa ya....

Tujuan Mulia Nguri-uri Kabdayan sebagai ke arifan lokal yang Saya Salutkan. Semoga banyak lagi komonitas yang selalu menghidupkan Kebudayaan Kearifan Lokal Yang baik Yang bermanfaat Tentunya

Yang pasti Tinggi sekali, Kalau Pasnya Berapa Kayaknya Kang Jery Lupa Bawa meteran deh saat itu

seniman dan seniwati yang berada dalam naungan Guriang Tunggal Dangiang Padjadjaran ini patut dijadikan contoh dan soko guru bagi para pemuda penerus bangsa agar terus melestarikan kebudayaan Sunda

lama tak bersua diudara, rumahnya sudah jadi baru...keren dan melesat saking entengnya...makjleb mang

lha kok malah jadi pada merhatiin saya

nah itu...tinggiii banget kang

nah akang mau mencontoh gak hayo ??

wahh.. masuk blog juga ki obes... alhamdulillah masih ada yang bisa melestarikan budaya SUMEDANG.. salam kenal buat JERY YANUARLAN.. dari jakarta (keturunan Desa Cibeureum)

iya kang...siapp, salam kenal juga Kendra Panda

Assalamu'alaikum wr wb...
Sampurasun...

Kang, di Sumedang ada berapa komunitas, dan komunitas apa saja. Kebetulan saya baru tahu satu yaitu Komunitas Kabuyutan Cipaku. Salam kenal dari perkumpulan "Sectie Van Batavia", Jakarta. Kami juga berupaya untuk menjalin persahabatan dengan komunitas-komunitas di luar Jakarta khususnya komunitas budaya dan sejarah. Meski kami baru berdiri, kami optimis untuk menjadi perkumpulan yang mengajak untuk peduli dan cinta sejarah.

Info tentang kami bisa dilihat di http://sectievanbatavia.blogspot.com

Wasalamu'alaikum wr wb

Kaleresan simkuring calik di wewengkon Cibeureum wetan..upami teu lepat anu sok mintonkeun (pawang) oray teg jenengana Bah Dasum..Tangtos Simkuring ngaraos reueus yen komunitas GURIANG TUNGGAL DANGIAN PADJADJARAN masih tiasa ngamumule kabudayaan Urang Sunda Asli..
Mugia Urang sarerea tiasa ngarojong kana sagala kagiatanana..

Waalaikumsalam.
Ada banyak kang, tapi yang berhasil diwawancara langsung adalah komunitas Guriang Tunggal ini..
Sukses ya kang..

Aamiin kang...sumuhun setuju pisan,
ieu salah sawios komunitas nu kalintang pentingna, mugia tiasa ngamotivasi kanu sanes supados langkung ngamumule budaya sunda


EmoticonEmoticon