Tuesday, 28 April 2015

Unik, Mengobati Sakit Gigi Menggunakan Media Batok

Pemgobatan Unik
Teh Yayah sedang mengobati sakit gigi pasiennya,
Iti di rumahnya di Desa Naluk, Kecamatan Cimalaka
Di Dusun Nagrak, Desa Naluk, Kecamatan Cimalaka, ada seorang  tabib, sebut saja demikian, yang bisa melakukan pengobatan dengan cara yang unik. Pengobatan unik yang dimaksud adalah mengobati sakit gigi dengan media batok (tempurung kelapa). Selain batok, bahan obat yang digunakan hanya minyak kelapa dan biji terong leuweung (terong hutan).

Sang tabib yang biasa dipanggil teh Yayah mengatakan, dirinya telah melakukan pengobatan dengan cara tersebut selama sembilan tahun. Selama melakukan prakteknya, pasien datang dari Sumedang dan luar kota. “Pasien datang dari berbagai daerah di Sumedang, kalau dari luar kota itu dari Bandung dan Jakarta,” kata teh Yayah.

Teh Yayah menambahkan, pasien yang datang biasanya tahu tentang pengobatannya melalui berita dari mulut ke mulut. Selama melakukan prakteknya, selalu berhasil mengobati pasien yang datang. “Alhamdulillah, satu kali pengobatan biasanya langsung sembuh, asalkan pasien sebelumnya tidak minum obat terlebih dahulu, karena kalau minum obat dulu itu biasanya jadi bentrok (obatnya),” tambah teh Yayah.

Teh Yayah mengaku, tidak mematok biaya dalam pengobatan yang dilakukan olehnya. Hal tersebut dilakukannya karena niat awalnya adalah menolong sesama. Bahkan, di rumahnya tidak tersedia ruangan khusus untuk mengobati seperti halnya di tempat lain. “Seridonya saja, mengobatinya juga biasanya disini (halaman) atau di dalam rumah, dan tidak obat yang harus dibawa pulang,” ujar teh Yayah.

Teh Yayah menjelaskan, secara lengkap alat yang digunakannya dalam pengobatan adalah batok kelapa, minyak kelapa, biji terong leuweung,  bambu tamiang berukuran kira-kira sepuluh centimeter, piring seng, genting, dan air. “Yang agak repot itu mencari terong leuweungnya, harus cari ke gunung-gunung, kalau sengaja menanam, jarang sekali bisa tumbuh,” ungkapnya.

Cara pengobatannya adalah dengan cara pasien meniup melalui bambu tamiang yang telah terhubung dengan batok, sementara di dalam batok, genting dibakar bersama minyak kelapa dan biji terong, kesemuanya disimpan dalam piring seng yang telah diisi air. Gentingnya sendiri menjadi alas agar minyak dan biji terong tidak terkena air di pring seng.

“Setelah itu dilakukan, maka kutu-kutu gigi, yang mirip cacing keremi akan keluar dan menempel di batok,” jelas teh Yayah sambil memperlihatkan cara prakteknya pada pasiennya, Iti. Dan ternyata benar saja, ketika batok dibalik, kutu-kutu gigi yang mirip cacing berukuran kecil menempel di dinding batok, cacingnya sendiri berwarna putih. “Semakin parah sakitnya, semakin banyak kutu giginya,” jelas teh Yayah lagi.

Teh Yayah mengungkapkan, banyak juga yang mencoba meniru cara pengobatannya tersebut, namun tidak ada yang berhasil. Teh Yayah mengaku heran dengan hal itu, mengingat caranya mengobati sangat sederhana. “Kalau saya secara pribadi, siilahkan saja kalau mau ditiru, toh caranya juga mudah. Tapi selama ini katanya tidak ada yang berhasil (meniru) dan pasien masih tetap berdatangan kesini, mungkin masih rejekinya dari Allah, Alhamdulillah,” kata teh Yayah sambil tersenyum.

Menurut teh Yayah, dirinya mendapat cara pengobatan buhun tersebut adalah  dari suaminya, dimana di keluarga suaminya cara tersebut adalah pengobatan sederhana yang diwariskan secara turun temurun. Saat ini, teh Yayah mengaku dirinya siap mengobati pasien yang datang pada hari apapun, kecuali hari Sabtu. “Hari apa saja, kecuali hari Sabtu,” pungkas teh Yayah.

*Diterbitkan di harian Sumedang Ekspres, Maret 2015

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

16 komentar

wah keren, nih , jadi penasaran seperti apa kutu kutu gigi itu hihihihi

kenapa hari sabtu gak ngobati ya kang?
penasaran juga,alasanya apa ya kira-kira...

seperti belatung kang tapi kecil, seperti cacing keremi gitu...rada geli ningalina hehe

yah kepingin ada hari libur juga atuh kang teh Yayahnya :))

Keren banget metoda pengobatannyasakit gigi yang unik nih kang. he,, he,, he,,

Jijik jadinya kalau bisa lihat kutu-kutunya secara langsung...

semoga bisa dibuktikan secara klinis..

Waah recomende buat yang lain nih. Terimakasih mas infonya :)

.Baru tahu nih gan, sederhana sekali cara pengobatannya.
.Terima kasih info uniknya gan. :)

ah ndak juga kok kang, cacingnya kering kok ndak berguyur air liur :))

iya kang, sepertinya itu cacing2 keluar gara2 asapnya

Ada yang dikasih garem jugak, Bang :D


EmoticonEmoticon