Sunday, 26 April 2015

Transformasi Seni Gembyung

Tatang Kusnadi, Salah Satu Pupuhu Seni Gembyung
Seni Gembyung merupakan seni yang awalnya berkembang di daerah pesisir (Cirebon) dan baru masuk ke Sumedang pada masa pemerintahan Pangeran Santri. Pada awal perkembangannya, Seni Gembyung digunakan oleh para pemuka agama sebagai media untuk menyebarluaskan syiar Islam. Di Sumedang, Seni Gembyung masih tetap bertahan di beberapa daerah, salah satunya di Dusun Buganggeureung, Desa Sekarwangi, Kecamatan Buahdua melalui Lingkung Seni Gembyung Pusaka Mekar. Bagaimana perkembangan Seni Gemyung sekarang ini ?? Berikut ulasannya

Seni Gembyung sebagai sebuah seni buhun, sekarang bertransformasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Seni Gembyung buhun yang awalnya tidak memakai sinden/juru kawih dan hanya menggunakan alat musik tradisional seperti tiga buah terebang, kendang, goong, kecrek, peyung, terompet dan lainnya beralih menjadi musik modern yang biasanya dalam pementasannya ditambah organ dan juru kawih/penyanyi. Hal tersebut dilakukan supaya Seni Gembyung bisa tetap eksis dan tidak ditinggalkan.

Seperti dikatakan salah satu Pupuhu Seni Gembyung  di Grup Seni Gembyung Pusaka Mekar, Tatang Kusnadi, yang mengatakan bahwa selain alat musik dan juru kawih, lagu-lagu yang biasa dimainkan dalam Seni Gembyung pun mengalami perubahan. Lagu yang biasa dimainkan dalam Seni Gembyung buhun biasanya adalah Yate, Engke, Sulton, Sampeu, Doyong, dan lainnya, sedangkan sekarang Seni Gembyung modern banyak membawakan lagu dangdut ataupun lagu yang sedang hits. “Tapi itupun situasional, tergantung permintaan. Kalau ada yang meminta kita memainkan Seni Gembyung Buhun, kita tetap bisa mainkan,” kata Tatang.

Tatang menambahkan, hal tersebut (beralihnya Seni Gembyung Buhun menjadi seni modern) semata-mata untuk mempertahankan keberadaan atau eksistensi Seni Gembyung itu sendiri. Sasarannya adalah, agar kaula muda mau menjadi penikmat Seni Gembyung guna menghindarkan Seni Gembyung dari kepunahan. “Kalau Seni Gembyung Buhun, memang anak muda ada yang suka, tapi tidak banyak, kita akali itu dengan merubah konsep pertunjukan Seni Gembyung,” tambah Tatang.

Tatang menjelaskan, dulunya Seni Gembyung Buhun biasa digelar pada upacara guar bumi, acara ruwatan atau Mapag  Sri ketika musim tanam padi tiba, tapi sekarang Seni Gembyung sudah biasa dipentaskan dalam acara-acara hajatan/syukuran seperti pernikahan dan lainnya. “Dari situ saja Seni Gembyung harus sudah beradaptasi, apalagi dengan perkembangan zaman seperti sekarang ini,” jelas Tatang.

Menurut Tatang, dari semenjak Seni Gembyung datang ke Kampung Cikeresek, Desa Cilangkap (dulu belum ada Desa Sekarwangi) tahun 1938, Seni Gembyung tumbuh dan berkembang dengan dukungan para inohong. “Alhamdulillah, dari dulu para inohong mendukung perkembangan Seni Gembyung ini,” ujar Tatang.
Tatang berharap, Seni Gembyung dan seni tradisional lainnya pada umumnya di Kabupaten Sumedang bisa tetap bertahan. Bagaimanapun caranya, meskipun harus beradaptasi dengan perkembangan zaman asalkan seni Buhunnya tetap dipelihara dan tetap bisa dipentaskan. “Sumedang kan Puseur Budaya Sunda, malu atuh kalau seni-seni buhunnya pada punah,” pungkas Tatang.

*Diterbitkan di Harian Sumedang Ekspres, 24 April 2015

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

14 komentar

Nembe terang aya seni gembyung. Unik nya.

seni traditional seperti Seni Gembyung ini harus tetap dilestarikan kang

ada hubungannya sama penyebaran islam di daerah itu gak?

belum pernah lihat saya yang beginian hahaha

iya teh, kalau seni gembyung buhun nya unik :)

memang alat musiknya sejenis gamelan juga mas ::))

ada mas, memang dulunya untuk menyebarkan agama Islam

sudah jarang kesenian seperti ini nih.. mungkin harus diajarkan di sekolah setempat biar lestari

seni gembyung banyak disukai juga di Subang kang

iya kng, berkembang pesat ke seluruh wilayah jabar pastinya


EmoticonEmoticon