Wednesday, 25 March 2015

Pecun, Balap Perahu Ala Kecamatan Tomo

Budaya Balap Perahu "Pecun" Dari Kecamatan Tomo
Budaya Balap Perahu "Pecun" Dari Kecamatan Tomo
Budaya sebuah masyarakat selalu tergantung pada letak geografisnya, atau dengan kata lain, lain tempat lain medan, lain pula budayanya. Namun Sumedang, daerah yang tepat berada di tengah-tengah Propinsi Jawa Barat dan sangat lekat dengan image daerah pegunungan, ternyata juga mempunyai budaya yang mirip dengan budaya daerah “bahari”, ini tentunya menjadi sesuatu yang unik, budaya tersebut berasal dari Kecamatan Tomo, yaitu budaya Pecun. Apa itu Pecun ? Berikut ulasannya.

Pecun adalah lomba balap perahu khas Kecamatan Tomo, lomba ini adalah lomba musiman yang lambat laun telah membudaya dalam masyarakatnya. Ya, Pecun merupakan lomba musiman yang biasa dilaksanakan untuk menyambut hari kemerdekaan atau 17 Agustusan.

Pada prakteknya, Pecun atau lomba balap perahu dilakukan di Sungai Cimanuk, sungai yang melintasi beberapa daerah di Kecamatan Tomo dan mempunyai peran penting bagi perkembangan budaya Sunda pada umumnya di masa lampau.

Lomba Pecun diikuti oleh desa-desa yang ada di Kecamatan Tomo, atau dengan kata lain Pecun merupakan turnamen balap perahu antar desa di Kecamatan Tomo. Namun, bukan berarti yang menonton lomba ini hanya masyarakat Tomo saja, banyak juga penonton yang sengaja datang dari daerah bahkan kota lain, seperti dari Bandung dan Jakarta.

Perahu yang digunakan dalam lomba Pecun adalah perahu biasa yang sehari-harinya dipergunakan oleh penduduk untuk mencari ikan di sungai Cimanuk. Perahu tersebut biasanya mempunyai panjang sekitar 4 sampai 5 meter, dimana alat untuk mendayungnya disebut welah, sementara  ujung perahu disebut dengan caruk, caruk sendiri digunakan sebagai penunjuk arah dari perahu.

Dalam pelaksanaan lomba, satu desa bisa mengirimkan 2 sampai 3 tim, jika satu tim menjadi juara maka seluruh tim dari desa tersebut juga akan menjadi juara. Bagi tim yang menjadi juara, Pemerintah setempat selalu menyediakan hadiah, biasanya berupa domba, ayam, pakaian, payung dan lain sebagainya yang bersifat menghibur.

Namun demikian, para peserta yang mengikuti  lomba Pecun tidak terfokus pada hadiahnya, seperti dikatakan Uswati, salah seorang pelestari budaya Pecun asal Desa Cikalong Kecamatan Tomo, “Kami tidak begitu mengharapkan hadiahnya, karena inti dari pelaksanaan lomba Pecun ini adalah pelestarian budaya, dan selebihnya adalah hiburan semata,” kata Uswati.

Untuk menjadi juara, peserta harus beradu cepat mengayuh perahu dengan menempuh lintasan sepanjang  150 sampai 200 meter. Satu perahu dinaiki oleh 2 orang, di depan sebagai tenaga utama dengan peserta dalam posisi jongkok, sementara di belakang sebagai juru kemudi dalam posisi duduk, laju perahu juga harus tepat sesuai jalur lomba,  disini caruk harus benar-benar diperhatikan.

Uswati, mewakili seluruh masyarakat Tomo pecinta budaya Pecun berharap kedepan budaya Pecun akan tetap bisa bertahan ditengah derasnya arus budaya dari luar. “Semoga bisa terus bertahan, ini merupakan budaya khas Tomo, yang menjadi kebanggan Tomo. Dan semoga Pecun juga bisa dimaksimalkan sebagi salah satu potensi wisata budaya dan pariwisata Kecamatan Tomo,” pungkas Uswati.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

6 komentar

Met pagi mas Jery. Wah, nonton pacu perahu ini sangat mengasyikkan mas. Di tempat saya hanya bisa disaksikan di kota Padang.

ooo jadi istilah pecun itu adalah sebuah nama balapan perahu di kecamatan Tomo ya kang, tadi pagi saya ngobrol dengan bapak Camat Tomo di gedung negara, kebetulan rada akrab dengan beliau saya teh da.

selamat malam pak...iya atuh pastinya :)

liat ibu-ibu lomba PKK pastinya yah :))

Serem kalok sampek kecebur ya, Kang.. :D

otomatis yang ikut lomba ini harus bisa berenang :D


EmoticonEmoticon