Friday, 13 March 2015

Menengok Kekhasan Salak Bongkok

Onah, di Kios Salak Bongkok Miliknya
Salak Bongkok merupakan oleh-oleh khas Kabupaten Sumedang yang digemari banyak kalangan karena rasanya yang khas. Bahkan, pada masa panen raya, permintaan pasar salak bongkok sampai meliputi Jawa Tengah dan jawa Timur. Apa kekhasan salak bongkok  dan kenapa Salak Bongkok memiliki kekhasan tersebut sehingga menjadikannya berbeda dengan salak lainnya ?? berikut ulasannya :

Jika suatu kuliner dikatakan “khas” daerah tertentu, berarti kekhasan tersebut tidak bisa ditemukan ditempat lain. Adapun jika dibuat atau ditanam di tempat lain, maka rasanya akan berbeda. Begitupun dengan Salak Bongkok yang menjadi oleh-oleh khas Sumedang dari Desa Bongkok, Kecamatan Paseh. Salak Bongkok mempunyai kekhasan tersendiri jika dibandingkan dengan buah yang sama dari daerah lain. Salak Bongkok mempunyai rasa yang khas manis bercampur asam, itu  membuatnya terasa segar ketika disantap, ini tentu berbeda dengan rasa buah salak kebanyakan yang rata-rata mempunyai rasa yang asam dan sepet.

Salah seorang penjual Salak Bongkok, Onah (55) mengatakan bahwa kekhasan Salak Bongkok adalah akibat dari keistimewaan unsur tanah di Desa Bongkok yang berbeda dengan di tempat lain, unsur hara yang ada di dalam tanah Desa Bongkok cocok untuk dipakai menanam buah salak. “Pastinya karena tanahnya, jadi kalau salak Bongkok ditanam di tempat lain , rasanya juga pasti berubah,” kata Onah.

Onah melanjutkan, secara sederhana hal tersebut bisa dibuktikan dengan cara mencicipi dan membandingkan rasa salak dari Desa Bongkok Kecamatan Paseh dan dari Desa jambu Kecamatan Conggeang. “Desa Bongkok Kecamatan Paseh, dan Desa Jambu Kecamatan Conggeang itu bersebelahan, di kedua tempat itu sama-sama banyak yang jual salak juga, tapi pasti rasa salaknya akan berbeda,” tambah Onah.

Karena keistimewaan rasanya itu, Salak Bongkok banyak dicari terutama pada hari-hari libur. Pada hari-hari libur permintaan salak meningkat tajam. Hal tersebut adalah imbas dari banyaknya wisatawan yang berlibur ke tempat wisata pemandian air panas yang ada di Kecamatan Conggeang. Wisatawan banyak memburu salak bongkok sebagai oleh-oleh. “Pada hari-hari libur, salak yang terjual bisa mencapai dua kuintal, suplai barang yang ada terkadang tidak mencukupi dan membuat konsumen kecewa,” ucapnya.

Pada hari libur pembeli datang bukan dari daerah Sumedang saja, tapi juga dari luar daerah seperti Majalengka, Subang, Indramayu, dan lainnya. “Apalagi pada musim panen raya, yang dari jawa (Jawa tengah, Jawa Timur) pun banyak yang datang membeli kesini dalam jumlah banyak,” pungkas Onah.

*Diterbitkan di Harian Sumedang Ekspres, 13 Maret 2015

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

9 komentar

Wah, selain salak bali juga ada salak bongkok ya mas...? Pasti enak salah bongkok ini jika menilik tekstur kulitnya...

Salak Bali aja saya belum pernah coba heihiee. Sering dengar dan liat aja

salak bongkok bukanlah salaknya yang bongkok, apalagi jika dianggap bongkok udang, yang menurut mitos jika ada wanita yang bongkok udang...pertanda bahwa wanita tersebut sangat menyukai hal-hal yang memicu adrenalin demi mencapai klimaks-nya.
Oleh sebab hal tersebut salak bongkok tidak identik dengan wanita yang bongkok udang, tapi salak bongkok adalah salak yang rasanya seperti madu....kata yang pernah ngerasain salak bongkok itu ge'

Kalau saya susah membedakan jenis jenis salak.. Salak ad ayang enak ada yang tidak.. Salak bongkok kayaknya belum pernah coba.

wah rasa salak bisa dilihat dari tekstur kulit ya pak :)

dicoba atuh kang, ndak akan dipidana kok :-)

Pengen icip, Bang.. Kirim ke Medan bisa? :D


EmoticonEmoticon