Friday, 12 December 2014

Lahang, Minuman Isotonik Khas Tanah Pasundan

Lahang Sedang Dituangkan Dari Lodong
Image By :
titangkil.com
Ketika matahari meninggi dan rasa lelah mulai menghinggapi, tentunya paling mantap rasanya kalau meminum minuman isotonik, bukan? minuman dingin pelepas dahaga dan pengganti cairan tubuh tersebut biasanya menjadi primadona ketika terik matahari mulai menyapa dan keringat mulai bercucuran, apalagi bagi sobat yang kerja lapangan mungkin akrab dengan minuman isotonik ini. Merujuk pengertian dari BPOM RI, dikatakan bahwa definisi minuman isotonik itu adalah "minuman formulasi yang ditujukan untuk menggantikan cairan, karbohidrat, elektrolit, dan mineral tubuh dengan cepat, dengan demikian minuman ini dapat diserap tubuh setelah diminum. Pada prinsipnya minuman isotonik ini untuk mencegah dehidrasi serta memberikan energi yang dapat digunakan dengan cepat".

Senada dengan pengertian minuman isotonik dari BPOM tersebut, di zaman sekarang minuman isotonik dibuat dari berbagai bahan yang bisa menambah tenaga dan menyegarkan badan dalam waktu relatif singkat karena mengganti cairan tubuh yang hilang dengan cepat. Berbicara tentang kegunaan dari minuman isotonik ini, di tanah Sunda ada minuman tradisional yang mempunyai khasiat yang sama dengan minuman isotonik modern seperti sekarang ini, bahkan keberadaannya sudah ada sejak jauh-jauh hari sebelum minuman isotonik modern dibuat, dan tentunya minuman ini lebih aman karena murni berasal dari alam dan tidak mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh, minuman tradisional tersebut bernama Lahang.

Lahang adalah minuman tradisional khas tanah pasundan yang rasanya manis dan menyegarkan, dulu minuman ini sangat populer di tengah masyarakat Sunda, harganya pun cukup terjangkau yaitu sekitar Rp.2000 saja pergelasnya. Minuman tradisional yang memiliki wangi khas ini sangat cocok jika diminum ketika matahari sedang-terik-teriknya, rasanya yang manis mengandung gula dan kalori dijamin bisa menambah tenaga dan mengembalikan kebugaran tubuh kita yang mulai loyo disiang hari.

Penjual Lahang
Image By :
deviantart.com
Tanpa tambahan gula sedikitpun minuman bernama lahang ini rasanya sudah manis, kenapa demikian? karena memang lahang ini adalah bahan dasar dari gula aren. Lahang didapatkan dengan cara menyadap bunga jantan pohon aren pada waktu-waktu tertentu, biasanya pada malam hari, kemudian diambil waktu subuh menjelang pagi, setelah lahang atau sadapan aren didapatkan sebisa mungkin lahang tersebut harus cepat diminum atau dijual karena kalau didiamkan terlalu lama air aren akan berfermentasi menjadi cuka aren lalu menjadi tuak. Jika sudah menjadi tuak kandungan alkoholnya jadi tinggi dan bisa memabukkan.

Setelah air lahangnya didapatkan, lahang tersebut tidak tahan lama alias mudah rusak atau expired, kualitas baiknya hanya bertahan beberapa jam saja, jadi lahang yang sudah terkumpul harus cepat-cepat dijual dan tidak bisa didiamkan terlalu lama, dengan sifatnya yang mudah rusak  ini otomatis lahang yang dijual adalah lahang yang benar-benar segar, tidak mungkin lahang sisa kemarin.

Para penjual lahang biasanya menggunakan lodong (bambu besar yang berlubang di salah satu ujungnya sehingga bisa dijadikan tempat menampung air) dalam menyimpan dan menjajakan lahangnya dimana bagian atasnya disumbat dengan ijuk sabut kelapa, mereka biasanya menjajakan lahangnya dengan cara berkeliling desa ataupun pusat-pusat keramaian. Dengan melihat pedagangnya menenteng lodong saja kita pasti sudah merasa dekat dengan alam.

Sayangnya, sekarang ini jangankan di kota besar, di desa-desa penjual lahang ini sudah sangat sedikit sekali kalaulah tidak mau dibilang nyaris tidak ada, kalaupun ada harga lahangnya biasanya cukup mahal jika dibandingkan harga jaman dulu, bisa sampai tiga kali lipat. Hal ini selain karena semakin langkanya pohon aren, penyadap arennya pun semakin sedikit, hal tersebut mungkin terjadi karena dari mulai menyadap sampai menjual lahangnya cukup sulit, apalagi masa expirednya singkat sekali, dan disisi lain sekarang minuman lahang ini harus bisa bersaing dengan minuman-minuman lain yang lebih cantik dan menggoda, tentunya ini sangat beresiko kalau dilihat dari sisi marketing. Dengan mempertimbangkan hal tersebut mungkin mereka yang dulunya penyadap dan penjual lahang meninggalkan pekerjaan lamanya dan beralih mencari pekerjaan lain.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

25 komentar

Membaca artikel ni, mengingatkan Nurul pada satu minuman tradisi di kampung Nurul, dalam bahasa daerah Nurul disebut 'Bahar' pokok aren itu pokok kelapa ya? Kalau betul, minumannya sama tu :)

ditempat saya namanya leuhang, beda sebutan aja dikit, walaupun dikampung, tumbuhan ini sudah berkurang pedagangnyapun yang biasa mapay mapay kampung ga tahu kemana kang, mungkin sudah jadi sodagar karena pohon arennya mahal..

Minuman aren pastinya segar dan berkhasiat bila sesuai takaran...

Saya suka dengan air lahang itu jika di tempat pesta sering saya lihat

Air lahang itu segar dan enak sekali ya Kang Jery apa lagi campur dengan es seger pisan

Wah wah ini namanya TUAK ya. Sejak saya masih duduk di bangku SMP kalau nda salah. Era taobn 85 kali ya. Sudah ada TUAK cam ini. Segerrr

lahang jadi ingat masa lalu euy masih di SD suka meuli lahang,,,,meni hayang meuli deui tapi skrgmah sudah tidak ada yang dagang lahang,,,,

pasti pesta ngadu munding nya kang Karryst heuheuheu

di kampung saya ( GARUT ) namanya lahang,POHONYA DISEBUT TANGKAL KAWUNG

Di kampung juga banyak yg buat beginian, warnanya putih malahan... Tuak Putih apa bukan nih?

Lahang ini nira aren itu ternyata. memang sekarang sudah sangat jarang penjaja minuman isotonik tradisional seperti ini. di seputaran solo saat musim kemarau yang banyak di jajakan di pinggir-pinggir jalan ada legen siwalan yang katanya juga deresan nira siwalan, walaupun katanya yang sebenarnya itu hanya air yang di ragi saja, dan hanya sedikit yang legen siwalan asli.

Ini Lahang Kang Asep.. lahang sekali lagi lahang. kalau tuak lahang yang udah basi kalie.

Kalok di Medan namanya air nira, Bang.. Manis gitu rasanya :D

oh disana namanya lahan. kalau ditempatku masih namanya aren. atau minuman aren.

wah kalau begitu beda mbak, minuman ini dari pohon aren bukan dari pohon kelapa, pohon aren bukan phon kelapa mbak he, pohon aren kalau bahasa sundanya pohon kawung. wah saya jadi penasaran dengan minuman bahar itu mbak :)

pastinya gitu kang abu n kang saud :))

asal jangan di pesta oplosan aza ah :))

iya kang, sekarang mah sudah jarang yang jual eung

manisan mana sama sayah coba ?? (m)

iya mas begitulah, disini juga gitu, kalau ada yg jual lahang, lahang yang dijual kebanyakan bukan lahang asli tapi seduhan gula merah

beda tipis ya teh santika :) iya, yang jual sekarang makin jarang ya teh, masih ada sih satu dua mah, aamiin, mudah2an pedagang2 lahang sudah semakin baik taraf hidupnya ya..

sami pisan kang dede :))


EmoticonEmoticon