Saturday, 29 November 2014

Kurupuk Bangreng, & Romantisme Masa Kecil

kurupuk bangreng
Kurupuk Bangreng
Kurupuk Bangreng, apa sobat ada yang tahu makanan ini? admin bertanya demikian karena admin kurang tahu apa generasi sekarang masih ada yang mengenal camilan yang satu ini atau tidak, admin katakan demikian karena sepertinya makanan ini sudah jarang bisa ditemui sekarang. Bagi anak-anak Sumedang angkatan tahun 80-90an seperti admin mungkin dulu makanan ini adalah makanan atau jajanan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari, dan melihatnya lagi sekarang seolah membangkitkan kenangan dengan romantismenya tersendiri, rindu masa kecil, matak "waas" kalau kata orang Sunda bilang.

"Kurupuk" adalah bahasa Sunda dari "kerupuk", sedangkan Bangreng adalah nama salah satu kesenian asli Sumedang, jadi Kurupuk Bangreng adalah, ah, jujur sebenarnya admin kurang tahu juga kenapa makanan ini diberi nama Kurupuk Bangreng, tapi mungkin nama itu diberikan pada makanan ini karena kerupuk ini hanya dijajakan pada saat ada pergelaran seni atau pesta-pesta rakyat, seperti Kuda Renggong, hajat nikahan, pameran pembangunan tahunan, sampai acara 17 Agustusan.

Dengan kata lain, pedagang kerupuk ini kebanyakan hanya muncul dan menjajakan dagangannya jika ada acara-acara seperti tersebut diatas yang identik dengan keramaian dan "pesta", pedagangnya jarang menjajakan dagangannya pada hari-hari biasa walaupun itu dipusat keramaian seperti pasar, sekolah, dan lainnya. Itu mungkin sebabnya kerupuk ini dinamakan Kurupuk Bangreng, dimana kata "Bangreng" digunakan untuk mewakili pertunjukan atau keramaian tempat kerupuk ini sering dijajakan.

Pedagang Kurupuk Bangreng
Pedagang Kurupuk Bangreng ini biasanya membawa dagangannya dengan menanggung dua buah blek (tempat kerupuk) berukuran besar yang dihubungkan oleh kayu dan tali, ketika menjajakan dagangannya si pedagang cukup diam dan "mangkal" di tempat yang strategis ditengah keramaian, hal tersebut cukup dilakukan jika si pedagang menjajakan kerupuknya di sebuah acara seperti pertunjukan seni dan pesta rakyat, tapi jika acaranya berupa iring-iringan atau pawai seperti arak-arakan Kuda Renggong, otomatis si pedagang harus mengikuti iring-iringan tersebut dengan menanggung dua blek kurupuknya.


Bentuk makanannya sendiri berupa kerupuk yang ukurannya kecil-kecil, satu bungkus Kurupuk Bangreng terdiri dari banyak kerupuk yang dibungkus dalam kertas wajit yang berwarna-wani supaya lebih menarik, kertas pembungkus warna-warni tersebut dibentuk sesuai kreasi pedagangnya, namun biasanya kebanyakan berbentuk lonjong.

Pedagang Kurupuk Bangreng ini rata-rata adalah lelaki yang sudah berumur senja, mungkin sekarang hal tersebut terlihat sebagai bagian khas dari penjual Kurupuk Banggreng ini, tapi admin melihat ini bukan semata-mata ke"khas"an penjual Kurupuk Bangreng, tetapi ini terjadi karena generasi muda sekarang tidak ada yang mau menjadi perajin dan penjual kerupuk tradisional ini, jika keadaan seperti ini terus berlanjut entah berapa lama lagi Kurupuk Bangreng ini bisa bertahan, dan entah anak cucu kita nanti bisa tahu dan kenal makanan tradisional ini atau tidak.

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

28 komentar

Salam malam Kang Jery. baru tau nih Kang Krupuk bangreng ini

Rupanya Kerupuk Bangreng itu jajanan atau cemilan jaman dulu tahun 80 an ya Kang Wah saya masih belum ada kaya nya Kang.. saya nyimak saja :) saya boleh nyobain Kang Jery krupuknya

Yess yes dapat pertamax di artikelnya Kang Jery ini :)

silahkan dibawa pulang pertamaxnya, mumpung premium lagi mahal :))

ya ndak juga sih kang, tapi tahun-tahun tersebut jaman-jamannya booming kurupuk bangreng ini mungkin hehe

ditempat saya koq nggak ada yamas?
apa krupuk bangreng ini khusus daerah sumedang saja ya?

oalah...
lawong mas saud saja yg orang jabar nggak tau apalagi saya yg orang jatim mas

Menilik bungkusannya, kalau di tempat saya isinya kacang, bukan kerupuk, mas Jery. pembungkus maupun caranya sama dengan yang ada di Padang sekitar tahun 80-90-an itu...

wahhh ternyata krupuk bangreng itu sudah ada pada tahhun 80 an yah wkwkwk keren pantas saja saya gak tahu :-)

baru tau krupuk bangreng, khas disana aja ya kang
penasaran

Assalamualaikum....
Hai kang Jerry, lama gak mampir kesini, hehe

Nostalgia banget, kurupuk bangreng, hehe.... saya pikir hanya di lingkungan tempat tinggal saya saja yang menyebut makanan ini dengan sebutan kurupuk bangreng... eh pernah, beberapa waktu lalu pas lagi acara agustusan ada pagelaran wayang golek dan bangreng di dekat tempat tinggal saya... seneng banget ada seorang aki yang jual ini, tapi sayang, rasa kerupuknya nya gak seenak saat saya masih kecil :)

Berarti kalau gelaran pesta gak ada, yaa gak ada yg jualan kerupuknya ya..

Memang banyak makanan masa kecil yang kini telah punah karena tiada generasi penerus yang menjalankan usaha makanan tradisional, maklumlah kebanyakan yang demikian tidak menjanjikan lebihnya penghasilan.

Bangreng itu kalau di Solo nama untuk Pohong(ketela pohon) Goreng

Pengen nyobain, Bang.. Sama kayak kemplang ngga sih?

Wah baru ngadangu kurupuk bangreng, tos dugi teu acan ka bandung

beda daerah beda lagi ya artinya :)

iya mas, kang saud ndak tau karena kerupuk ini cuma ada di sumedang aza mungkin hhe

iya mas, ditambah lagi sekarang banyak bermunculan kuliner2 yang lebih wah dan lebih menggoda ya, jadi makanan tradisional seperti ini kalah bersaing

kalau sama kemplang beda mbak...wah disana juga ada makanan namanya kemplang yak ? :)) sini ateuh kepengen nyobain mah :))

Waalaikumsalam...iya atuh teh kemana aza hehe, sama jer juga sudah lama ndak mampir ke berandanya eteh yah :)) nanti maen kesana ah..
iya teh, kalau untuk sumedang mah sepertinya pasti ada kurupuk bangreng th, karena termasuk makanan khasnya juga, cuma ndak sebooming tahu :) nah iya, sekarang mah mungkin minyak yg dipakainya jelek ya, jadi rasanya asa heutar gitu...sami pisan teh pngalamannya :))

di sini ada krupuk bangreng, di blog saya ada pakis, latar cerita hampir sama ya mas

saya belum pernah makan kerupuk bangreng


EmoticonEmoticon