Dawuhan Pangeran Aria Soeria Atmadja

Pangeran Aria Soeria Atmadja Kabupaten Sumedang
Pangeran Aria Soeria Atmadja
Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi tentang dawuhan/nasehat salah satu tokoh penguasa Sumedang di masa lalu yaitu Pangeran Aria Soeria Atmadja, tapi maaf untuk postingan kali ini saya tidak menggunakan foto atau gambar hasil jepretan sendiri, foto atau gambarnya saya ambil dari wikipedia, karena sewaktu berkunjung ke Museum Prabu Geusan Ulun saya lupa tidak mengambil foto dari foto (nah loh bingung) Pangeran Aria Soeria Atmadja, jadi saya pinjam fotonya dari wikipedia.


Sewaktu berkunjung ke museum tersebut saya diberi semacam brosur oleh guide-nya, brosur tersebut menerangkan tentang lokasi tempat, koleksi, dan lain-lainnya dari Museum Prabu Geusan Ulun, termasuk didalamnya terdapat dawuhan (kata-kata, wejangan, nasehat) dari Pangeran Aria Soeria Atmadja kepada rakyat Sumedang waktu itu, karena di zaman Sumedang tempo dulu sosok pemimpin seperti Pangeran Aria Soeria Atmadja dan raja-raja Sumedang lainnya sangat dihormati (lain dengan zaman sekarang ya, sekarang sekelas Presiden saja banyak dijadikan bahan olok-olokan), segala titah dan nasehatnya digugu dan ditiru, benar-benar menjadi panutan bagi rakyatnya, oh ya Pangeran Aria Soeria Atmadja juga mendapat panggilan atau gelar Pangeran Mekah karena beliau wafat di kota Mekah.

Tapi maaf sobat-sobat semuanya, berhubung Pangeran Aria Soeria Atmadja ini adalah orang Sunda dan membawahi regent Sumedang yang notabene ditempati suku Sunda, jadi dalam kalimatnya secara tekstual tertera untuk orang Sunda...tapi tentunya yang namanya nasehat dan doa pastilah universal dan cocok untuk diterapkan oleh siapapun, setuju ?? Berikut dawuhan Pangeran Aria Soeria Atmadja saya tulis dan share kembali disini...berikut dawuhan atau nasihat beserta doa beliau :

Baris Kasagala Barudak Sunda
bagi kalian semua orang (masyarakat) sunda

Aing neneda ka Gusti Nu Maha Kawasa muga-muga ati maraneh dibukakeun kana elmu panemu.
saya memohon kepada Tuhan yang Maha Kuasa semoga hati kalian dimudahkan dalam mencari ilmu

Lamun maraneh ngadenge nu hade supaya tereh ngarti.
jika kalian mendengar (ilmu) yang baik semoga cepat mengerti

Muga-muga maraneh jadi jalma pinter bisa ngaji.
semoga kalian semua jadi orang pintar dan bisa mengaji/mengkaji

Paneda Aing ka Gusti Allah supaya maraneh pinaringan kabungahan jeung rejeki di dunia ieu tepi kana poe bungsuna sarta muga dijauhkeun tina bahla jeung pinaringan umur panjang kitu deui masing runtut rukun jeung baraya maraneh, muga ulah aya saurang oge maraneh nu eureun mikaheman sakabehna maparin ganjaran kamaraneh.
Pinta saya kepada Gusti Allah agar kalian senantiasa bertemu dengan kebahagiaan dan rejeki di dunia ini sampai hari akhir dan semoga dijauhkan dari malapetaka, panjang umur, serta rukun dengan saudara-saudara kalian, semoga tidak ada satupun dari kalian yang berhenti saling mencintai semuanya memberikan ganjaran/keuntungan pada kalian.

Maraneh bisa ngeureunkeun kalakuan nu goreng, karana Gusti Allah nu kawasa nuduhkeun kana jalan nu mulus di lampahkeun di dunia ieu.
kalian bisa menghentikan perbuatan yang tidak baik, karena Gusti Allah yang Maha Kuasa memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus yang dijalani di dunia ini.

Tangtu maraneh jadi conto pikeun diturutan ku sasama maraneh jeung tangtu sakabeh manusa sarukaeun. Sarta beh dituna maraneh ngarasa bagja tepi ka anak incu.
tentu kalian jadi contoh untuk diikuti oleh sesama kalian dan tentu semua manusia akan suka. Serta selanjutnya kalian (akan) merasa bahagia sampai ke anak cucu

Itulah dawuhannya sob, saya tulis beserta translatenya ke bahasa Indonesia secara garis besar, kenapa saya katakan "secara garis besar" ?? karena tentunya yang namanya wejangan kita tidak bisa hanya mengartikan kata-perkata, harus direnungkan, karena padat dan kaya akan isi serta makna...

Maaf juga kalau translatenya agak kurang mengena artinya, sebab bahasa Sunda terkadang satu kata bisa multi tafsir atau bahkan satu kata ada yang tidak ada artinya dalam bahasa Indonesia, dan penuh dengan Undak Usuk Basa yang orang sunda-nya sendiri kebanyakan tidak menguasai sepenuhnya (saya berani jamin), bukan menjelek-jelekan, cuma sebagai bahan introspeksi saja karena saya sendiri juga begitu, bahasa sundanya bledag bledug (semaunya, seenaknya, tidak mengikuti kaidah)

Peminta-minta, Haruskah Kita Memberi ??

Peminta-minta
Peminta-minta
Ketika berjalan-jalan hari minggu pagi di sekitaran Alun-alun Sumedang, admin melihat pemandangan seperti di atas...salah satu drama kehidupan yang bisa mengundang berbagai ekspresi dari kita semua, mungkin dari kita ada yang terenyuh, empati, atau mungkin juga ada yang jengkel atau merasa terganggu ketika berhadapan dengan situasi seperti di atas yaitu....DIDATANGI PEMINTA-MINTA, emmm melihat pemandangan diatas admin jadi terinspirasi untuk menulis sedikit tentang peminta-minta ini. Peminta-minta...atau banyak dari kita menyebutnya dengan pengemis, sebetulnya tidak ada bedanya dari kedua kata tersebut, artinya kurang lebih adalah seseorang yang "selalu" menengadahkan tangan kepada orang lain untuk menyambung hidupnya...kenapa admin pakai tanda petik "selalu" ?? emmm karena admin pikir  tidak setiap orang yang menengadahkan tangan itu adalah pengemis atau peminta-minta, karena tentunya setiap manusia juga membutuhkan bantuan atau uluran tangan dari sesamanya selaku makhluk sosial.

Dalam mindset kita....seseorang baru dikatakan pengemis adalah ketika ia menjadikan "meminta-minta" sebagai mata pencaharian hidupnya dan ia seperti tidak mau mencari pekerjaan lain selain meminta-minta, banyak dari kita yang tidak senang ketika ada seorang pengemis yang datang meminta recehan dan menyepelekannya, bahkan tak jarang dari kita ada yang membentaknya (seperti banyak diajarkan di sinetron-sinetron tuh)...

Mungkin pembelaan kita dalam melakukan hal tersebut adalah seperti "kalo dikasih, nanti dia keenakan, terus nantinya dia datang lagi datang lagi sama kita", "jangan dikasih, biar dia belajar bahwa untuk menyambung hidup adalah dengan bekerja", dan lain-lain lagi pembelaan lainnya, benar kan ?? nah ini kebetulan admin punya sedikit cerita yang akan saya tuliskan kembali disini, mudah-mudahan bisa sedikit merubah pola pikir kita tentang peminta-minta yang pasti ada mondar mandir di kehidupan kita, yang sampai kapanpun kita pasti menemukannya...berikut cerita tentang percakapan seorang Guru dengan santri-santrinya :

HARUSKAH MEMBERI PEMINTA-MINTA ??

Disebuah pengajian salah seorang santri bertanya kepada gurunya :

"Guru, mengapa kita perlu bersedekah ?? haruskah kita memberi kepada peminta-minta yang sering mendatangi rumah kita ?? padahal kita tidak yakin apakah mereka itu layak atau tidak untuk diberi sedekah...?"

Sang Kyai yang bijak tersebut sambil tersenyum menjawab...

"Anakku, jika kita ingin mengirim sesuatu ke tempat yang jauh lewat ekspedisi, kira-kira perlu biaya mahal nggak ya ??"

"Oh iya Guru...biayanya pasti mahal karena alamat yang dituju pasti sangatlah jauh" jawab salah seorang santri.

"Hmmm bagus, kita sepakat bahwa itu harus bayar dengan biaya mahal ya ?! nah sekarang  Guru tanya, jika ternyata ada orang yang datang ke rumah kita dan dia bersedia mengantarkan paket kita ke tempat jauh tersebut dan sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis, ada yang mau nggak ??" tanya pak Kyai tersebut kemudian.

"Ya tentu kita semua mau Guru" jawab semua santri hampir berbarengan.
"Kita pasti mau guru, sudah gratis, dan kita tidak perlu susah-susah lagi" timpal seorang santrinya lagi.

"Nah, begitulah seharusnya...paket itu bisa kita umpamakan sedekah kita...kita semua disini meyakini untuk ke alam akhirat kita yang kekal nanti, kita memerlukan banyak bekal, sedangkan sedekah termasuk salah satu bekal penting untuk kita meneruskan perjalanan ke akhirat kan ??...nah sekarang anak-anakku ini ada yang tahu nggak, akhirat itu persisnya dimana ?? jauh apa dekat ya ??" tanya sang Guru lagi.

Semua santri terdiam...karena memang tidak ada yang tahu jawabannya...

"Nah...peminta-minta tersebut bisa kita samakan dengan orang yang datang ke rumah kita, dan dia mau mengantarkan paket atau sedekah kita ke akhirat yang kita sendiri tidak tahu berapa jauh dan dimana akhirat itu...secara gratis lagi, tidak dipungut biaya sepeserpun...dan hanya peminta-minta itulah yang tahu persis dimana alamatnya, bahkan dia menjamin paket tersebut pasti sampai loh kalau kita ikhlas...nah, gimana ?? masih ada yang tidak mau menitipkan paketnya ??" Jelas pak Kyai tersebut sambil tersenyum pada murid-muridnya.

Para santri terlihat mulai mengangguk-nganggukan kepalanya tanda mulai menyimak dan mengerti maksud kiasan yang disampaikan oleh Guru mereka.

"Masalah apakah peminta-minta tersebut layak atau tidak untuk diberi sedekah, janganlah kita jadikan alasan untuk tidak memberi" lanjut pak Kyai.

"Tidak ada orang yang mau menghinakan diri untuk meminta-minta kalau memang ada pilihan yang lebih baik...yang jelas kita berniat untuk bersedekah, biarlah Allah yang menilai keikhlasan dari sedekah kita, bukankah perbuatan baik atau tidak seseorang tersebut dinilai dari niatnya ??" kata pak kyai tersebut memperjelas ceramahnya.

Seorang Ulama besar, Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah berkata :

"Jangan menolak dan mengusir peminta-minta, sementara engkau sanggup memberikan sesuatu baik sedikit ataupun banyak"

"Sukailah kebiasaan memberi kepada orang lain, karena Allah sangat senang 'memberi'...dan bersyukurlah, karena Allah telah menjadikanmu mampu untuk memberi"

"Celakalah jika engkau menolak peminta-minta, sementara peminta-minta itu adalah hadiah dari Allah dan engkau mampu untuk memberinya"

Setelah mendengar wejangan sang Guru secara panjang lebar, akhirnya para santri mulai paham betapa pentingnya bersedekah...dan tentunya mereka senang dan bangga memiliki guru sebijak pak Kyai yang selalu bisa menjelaskan setiap pertanyaan yang diajukan secara sederhana dan contoh yang jelas, sehingga sangat mudah diamalkan.

Begitulah sedikit ceritanya sobat-sobat, setuju apa setuju bangeeettt ?? (rada lebay sedikit boleh ya)...tapi entahlah apa tulisan ini benar atau salah, karena nyatanya sekarang pemerintah memberlakukan denda bagi siapa saja yang memberi uang pada pengemis karena disinyalir sebenarnya banyak diantara para pengemis itu malah lebih kaya dari orang yang memberi sedekah...dan juga dengan memberi pengemis itu mengajarkan hal yang tidak baik yaitu semakin menumbuh suburkan mental pengemis atau peminta-minta di negara kita....tapi terlepas itu semua, tentunya kita harus ingat Filosofi Tanaman Jagung yang dulu pernah saya ceritakan di blog ini.

Lihat : Filosofi Tanaman Jagung

Mahkota Binokasih Sanghyang Pake

Mahkota Binokasih
Mahkota Binokasih
Selamat pagi sobat semua...pada postingan kali ini, saya ingin mencoba menceritakan sekilas sejarah mengenai Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, atau biasa juga disebut "Mahkota Binokasih" saja, sebuah mahkota yang menjadi lambang kebesaran kerajaan-kerajaan di tanah sunda pada masa lalu. Sebelum diwariskan/diberikan kepada Kerajaan Sumedang Larang dan menjadi pusaka Sumedang,  Mahkota Binokasih merupakan lambang kebesaran Kerajaan Padjadjaran, kita flashback sejenak kenapa mahkota kebesaran Kerajaan Padjadjaran ini bisa berada di Sumedang dan seolah menjadi legitimasi menjadikan Kerajaan Sumedang Larang sebagai penerus kekuasaan Kerajaan Padjadjaran (tapi maaf kalau cerita sejarahnya banyak kekurangan, maklum bukan ahlinya, hanya mencoba menceritakan kembali garis besarnya).

Tempat Mahkota Binokasih Kabupaten Sumedang
Dari beberapa sumber dikatakan bahwa Mahkota Binokasih ini dibuat atas prakarsa Sanghyang Bunisora Suradipati, yaitu seorang raja dari Kerajaan Galuh, Kerajaan Galuh sendiri merupakan sebuah kerajaan besar  pecahan dari Kerajaan Tarumanagara. Singkat cerita, dikisahkan ketika Kerajaan Padjadjaran dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja (atau dalam berbagai litelatur kita lebih familiar dengan sebutan Prabu Siliwangi), Kerajaan Padjadjaran diserang oleh gabungan pasukan Islam dari Cirebon, Banten, dan Demak, saat itu Kerajaan Padjadjaran terdesak dan hampir jatuh akibat serangan tersebut. Sebelum Kerajaan Padjadjaran benar-benar runtuh, Prabu Siliwangi mengutus 4 orang Kandaga Lante kepercayaannya untuk membawa Mahkota Binokasih beserta perlengkapannya ke Sumedang Larang dengan harapan Sumedang Larang dapat meneruskan kejayaan Kerajaan Padjadjaran. Karena pada waktu itu Sumedang Larang merupakan sebuah kerajaan bawahan dari Kerajaan Padjadjaran, jadi mungkin bisa dikatakan bahwa kekuasaan Kerajaan Padjadjaran ini diturunkan atau diwariskan kepada Sumedang Larang, dari atasan kepada bawahan. Alasan kenapa dipilih Sumedang Larang sebagai penerus adalah karena pada waktu itu Kerajaan Sumedang Larang telah menganut agama Islam dan tidak ikut diserang oleh pasukan gabungan Islam, selain itu Sumedang juga dipimpin oleh seorang pemuda yang dikenal cerdas dan berwibawa bernama Pangeran Angkawijaya (atau kita lebih familiar dengan nama Pangeran/Prabu Geusan Ulun), yang dikemudian hari Pangeran Angkawijaya ini menjadi seorang raja yang fenomenal karena berkat kepemimpinannya beliau mampu menjadikan Kerajaan Sumedang Larang disegani hingga dikenal ke semua penjuru.

Empat orang Kandaga Lante yang diutus oleh Prabu Siliwangi adalah Eyang/Embah Jaya Perkosa (Sanghyang Hawu), Embah Terong Peot, Embah Kondang Hapa (Pancar Buana), dan Embah Nangganan, dikisahkan dari keempat orang Kandaga Lante tersebut Embah/Eyang Jaya Perkosa lah yang paling hebat ilmu silatnya. Ketika ke empat orang Kandaga Lante utusan Prabu Siliwangi tiba di Sumedang, keempat orang Kandaga Lante tersebut menyerahkan Mahkota Binokasih dan menyampaikan amanat atau titah dari Prabu Siliwangi agar Sumedang Larang meneruskan kekuasan Kerajaan Padjadjaran yang tengah terpojok saat itu, dan kemudian keempat orang Kandaga Lante ini pun mengabdikan diri kepada Sumedang Larang serta berperan penting dalam membantu Prabu Geusan Ulun mencapai kejayaan Kerajaan Sumedang Larang dikemudian hari.

Pada tanggal 22 April 1578, Prabu Geusan Ulun dinobatkan menjadi Prabu Sumedang Larang penerus Kerajaan Padjadjaran, dan tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang. Mahkota Binokasih dengan segala perlengkapan perhiasan kerajaan yang dibawa dari Kerajaan Padjadjaran tersebut kini tersimpan rapi di Museum Prabu Geusan Ulun, menjadi salah satu saksi bisu perjalan panjang sejarah Kabupaten Sumedang, dari dulu...hingga saat ini. Hari ini bertepatan dengan tanggal 22 April 2013, yang berarti Kabupaten Sumedang memperingati hari jadinya yang ke-435...dirgahayu Sumedangku, semoga semakin maju, motekar, dan berprestasi, amin.

Lihat : Museum Prabu Geusan Ulun

Wisma Gending

Wisma Gending
Wisma Gending
Wisma Gending...nuansa-nuansa dalem dan bangsawan zaman dulu langsung terasa ketika melihat  wisma ini...keren lah pokoknya, apalagi buat sobat-sobat yang memang menyukai nuansa-nuansa tempo doeloe. Wisma Gending ini merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kabupaten Sumedang yang masih terawat hingga saat ini dan termasuk salah satu bangunan tua yang diketahui sejarahnya seperti Bioskop Pacifik yang sekarang menjadi Pacifik Hariring, dan bangunan-bangunan di Museum Prabu Geusan Ulun...admin katakan demikian karena banyak juga bangunan-bangunan tua dan antik lainnya yang tidak diketahui sejarahnya seperti Rumah Tua yang terletak di Sumedang Kota (mungkin ada sih catatannya, minimal catatan kepemilikannya di Instansi terkait dan saya pribadi lah yang tidak tahu...dan tidak mencari tahu), yang jelas bangunan-bangunan tua yang antik dan dapat dicari litelatur sejarahnya dengan mudah biasanya adalah bangunan yang memiliki nilai-nilai sejarah atau dulunya milik orang terpandang.

Lihat : Museum Prabu Geusan Ulun

Nah, setelah sedikit membaca uraian tentang Wisma Gending ini dari Historiamag, saya juga jadi tertarik untuk sedikit menceritakan kembali tentang Wisma Gending ini, dimana Wisma Gending ini sendiri konon merupakan bekas kediaman Dalem Bandung RAA Martanegara yang terletak di  Jalan Pangeran Santri, dimana menurut beberapa sumber RAA Martanegara ini tidak lain tidak bukan adalah  cicit dari Pangeran Kornel, salah satu dari pemimpin Sumedang yang dikenal dan dikagumi karena kisah heroiknya dalam menentang kesewenang-wenangan Daendels dalam peristiwa Cadas Pangeran dimana Pangeran Kornel menerima jabatan tangan Daendels dengan tangan kiri.

Lihat : Historiamag

Kesan antik masih tertanam dengan jelas pada bangunan ini, kabarnya jika kita masuk ke Wisma Gending ini kita akan langsung merasakan masuk ke dalam dimensi masa lalu, dimana ornamen dan berbagai furniture yang ada disetiap ruangannya menciptakan kesan atau suasana yang kental dengan romansa kehidupan para dalem atau bangsawaan sunda tempo dulu (admin pribadi belum pernah masuk kesini, hanya lewat dan lewat saja). Dalam perkembangannya, kabarnya sekarang Wisma Gending yang terletak di Kelurahan Kota Kulon ini  dikelola oleh yayasan Gending Sinangling (Gending yang bercahaya) dan terbuka untuk acara-acara umum seperti pernikahan, seminar, rapat, dan acara-acara lainnya...nah bagi sobat yang masih melajang barangkali berminat untuk melaksanakan resepsi pernikahan di tempat ini ?? keren kan kalau foto-foto pernikahannya nanti bernuansakan bangsawan tempo dulu.