Tuesday, 27 August 2013

Mata Air Cikandung, Mengambil Hikmah Dari Luasnya Danau

Mata Air Cikandung
Mata Air Cikandung
Sewaktu masih kecil, mata air cikandung ini dulu merupakan salah satu mata air yang sering admin kunjungi untuk berenang, pemandangannnya cukup indah, airnya jernih, bersih dan ngaguludag (deras), saking jernihnya ikan yang berenang di dasar pasti terlihat, jadi teringat dulu kalau main kesini admin pasti berburu ikan tampele (sejenis cupang liar).

Layaknya mata air dipegunungan, airnya sangat nyecep (dingin sekali), tapi sayangnya ketika admin berkunjung kembali kesini dan mengambil gambar ini, musimnya sedang musim kemarau jadi debit airnya kecil dan airnya terlihat tenang seperti yang terlihat di atas, dan lagipula, walaupun tetap segar dan rimbun, keasrian di daerah ini nampaknya sudah tidak seperti dulu lagi.

Seperti halnya di Gunung Kunci, banyaknya pepohonan besar di tempat ini membuat suasana di sekitar mata air cikandung sangat sejuk, dan karena hal itulah pada bulan Ramadhan tempat ini biasanya juga menjadi salah satu tempat favorit anak sekolah untuk ngabuburit.

Lihat : Gunung Kunci, Cerita Mistis di Sebuah Benteng

Walau tidak begitu besar dan memang bukan tempat tujuan wisata, (dulu) mata air cikandung ini biasanya selalu ramai dikunjungi bahkan oleh pengunjung dari luar daerah cikandung sendiri, dan bagi admin pribadi mata air ini meninggalkan kesan yang cukup mendalam diwaktu kecil.

Sekarang kita simpan dulu curhatan admin tentang mata air cikandung ini. Berbicara tentang mata air, ada cerita renungan yang ada sangkut pautnya juga dengan mata air, kalau tidak salah dulu admin membaca cerita ini di salah satu postingan di beranda facebook. Kurang lebih begini ceritanya, mudah-mudahan bermanfaat.

"Jangan Jadi Gelas, Jadilah Danau"

Pada suatu waktu, seorang Sufi mendatangi seorang muridnya karena dia melihat wajah muridnya tersebut belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung anakku? bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? kemana perginya wajah bersyukurmu?” sang Sufi bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya rasanya selalu penuh dengan masalah, rasanya sulit bagi saya untuk tersenyum...masalah datang  silih berganti seperti tak ada habisnya.” jawab si murid.

Sang Guru tesenyum mendengar perkataan muridnya tersebut dan berkata "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam dan segeralah bawalah kemari, biar kuperbaiki suasana hatimu itu".

Sang murid pun beranjak dari tempatnya berdiam diri, pelan dan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, ia pergi lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta oleh gurunya.

“Sekarang coba ambil segenggam garam, dan masukan kedalam air yang berada di gelas itu, lalu aduklah” kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit" timpalnya lagi. Sang murid pun melakukannya, dan terlihat rona wajahnya yang mulai meringis karena meminum air yang sangat asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “sangat asin Guru, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru pun tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru kemudian membawa muridnya ke danau yang berada di dekat tempat mereka berada. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau...dan aduklah ditempat dimana kau tebar garam tersebut menggunakan tanganmu.”

Sang murid kemudian menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau tersebut lalu perlahan menggerakan tangannya memutar seolah sedang melarutkan garam tersebut di danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum juga hilang, ingin rasanya ia meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi ia tak berani melakukannya karena menghormati gurunya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya untuk mengambil air danau, kemudian membawanya ke mulutnya lalu meneguknya.

Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru langsung bertanya kepadanya, “bagaimana rasanya?” “segar, segar sekali guru” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. "Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber mata air di atas sana dan airnya mengalir menjadi sungai kecil ke arah bawah" kata Sang Guru.

Air danau yang dingin dan sejuk tersebut juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulut sang murid. “Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?” tanya sang Guru, “tidak sama sekali Guru” kata sang murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak..." kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Percayalah segala masalah dalam hidup kita ini ibarat segenggam garam, tidak kurang dan juga tidak lebih...hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah ditakar oleh Allah, sesuai untuk dirimu, dan Allah tidak mungkin salah. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.“Tapi Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya “qalbu” (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita dan membuat kita berputus asa, berhentilah jadi gelas....jadikan qalbu dalam dadamu itu menjadi sebesar danau" tambah Sang Guru lagi.

Suasana Sekitar Mata Air Cikandung
Pemandangan Langit Sekitar Mata Air Cikandung

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

59 komentar

pemandangan dan kejernihan airnya sangat menggoda sekali kang

sungguh menyentuh membaca kisah sang murid dengan gurunya. tapi kadang kita (saya khususnya) sering lupa, kala masalah melanda, hati terburu jadi kacau duluan, gegabah dan merajuk---mengeluh seolah-olah seumur hidupnya hanya berisi derita saja. padahal bila dicermati, misal saat kita sakit, sebenarnya kita justru sedang diingatkan bahwa sehat sangatlah nikmat, makanya bersyukurlah kala sehat, sebelum badan jatuh sakit...

btw, tentang mata air, alangkah indahnya kalau generasi kecil kita dididik untuk mencintai lingkungan dan peduli alam.

Banyak pesan dan makna dari certa sang sufi dg muridnya..dan hal ini bisa menjd renungan buat kita
Nice..mas ;)

subhanalloh cerita hikmah yang patut jadi pelajaran ini mas, apalagi kehidupan dewasa ini yang tantangan kehidupannya semakin berat bagi siapapun

bismillah,,,, mulai saat ini harus bisa belajar meluaskan qolbu,,, hehehehe,,,,,
agar bisa,ikhlas, tegar,,,dalam menghadapi cobaan yg silih berganti,,,


mw ikutan ngeceng juga d tepi mata air cikandung

Kalau secara kasar mah jangan aral subaha dalam menjalani hidup ini teh ya kang?

Hatur nuhun atas sharenya. :)

saya memang bukan asli sumedang, makanya baru tau dari sini kalau ternyata ada mata air cikandung, kalau dari cilembu kearah mana ya kang?...kayanya asik tuh buta diskusi soal ng'blog disitu sama akang deh.
"Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya “qalbu” (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita dan membuat kita berputus asa, berhentilah jadi gelas....jadikan qalbu dalam dadamu itu menjadi sebesar danau"
kalau bahasa saya mah "Ceria selalu dan tetap nyantay kaya dipantay"...;o)
selamat exis kembali.

betul mas WS, renungan yang sangat bermanfaat untuk kita bisa seperti danau saat mengalami suatu masalah supaya masalah itu tidak terlalu menjadi beban yang berat untuk dilewati, makasih mas renungannya bagus sekali :)

wah.. saya baru dengar nih sob.. maklum deh. saya belum pernah sekalipun main ke sumedang mas.. hmmm kapan kapan deh saya main ke tempat mas wewengkon.. hehehe boleh kan mas..??

Wah indah juga ya mas mata air cikandung. Tapi kok sepi begitu ya? sangat sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan sebagai obyek wisata karena tempat tersebut cukup berpotensi sebagai kawasan wisata, dan bukan tidak mungkin akan mendatangkan para turis dari berbagai belahan dunia. Sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pemasukan pendapatan daerah.

Saya heran kok tiba-tiba bisa sampai Jangan Jadi Gelas, Jadilah Danau? hehehe :D Tapi nggak apa-apa kok mas cukup bagus pesan yang disampaikan dari Jangan jadilah gelas. Cukup menginspirasi kita semua. Salam :)

suasanax msh terlihat belantara berarti msh dirawat tuh sob., smg aja kedepax tetap terjaga..., *smile

tergoda untuk nyebur menikmati kesegaran airnya ya mas hehe

iya mbak sama, WS juga seringnya begitu, dan jujur saja postingan ini juga hitung2 sebagai catatan juga untuk WS pribadi, untuk mengingatkan pribadi ini yang seringkali lupa dan bersikap seperti murid di atas...yang seringkali kurang bisa mensyukuri anugerah Allah..
Setuju sekali mbak hehe...lupa tidak terbahas di atas tentang menjaga mata air ini :D

Alhamdulillah kalau cerita ini ada manfaatnya mas :)

Bismillah...yuk mbak mari sama2 kita belajar :)

boleh, tapi jangan ngecengin WS lagi mandi ya hehe

nah itu kang singkatnya mah jangan aral subaha heheh
sami2 kang...

Mata air Cikandung ini adanya di citimun kang, dekay kecamatan Tanjungkerta, jauh atuh kalau dari cilembu mah hehe...iya kang, enak tempatnya kalau dipakai ubtuk ngobrol nyantai...
ah mantap pas sekali kang kata2 itu :D
siap kang...tapi pastinya rada jarangan ni eksisnya :(

sama2 mas, terima kasih kembali :)

iya mbak kebetulan pas berkunjung kembali kesini memang sedang sepi, berkunjungnya pas jam kerja bukan hari libur anak sekolah juga.

Iya mbak, memang seperti itulah blog ini hehe..,soalnya bahasannya sudah terbatasi juga dengan judul blog ini, jadi ga bisa terlalu bebas membahas apapun...jadi biar ga terlalu OOT ya disambung2in aja...misal seperti di atas sedang membahas mata air ya lanjut aja ke cerita hikmah yang ada hubungannya dengan mata air

danau cikandung.,ah aku juga pengen jadi danau biar hati selalu lapang, pikiran akan terasa segar terus.

mari mas kita sama2 belajar menjadikan hati kita seluas danau...bahkan seluas samudra ya kalau bisa :D

kita semua berharap moga hati kita bisa sebening dan seluas danau cikandang bahkan seluas lautan kalo perlu ya kang, hatur nuhun bermanfaat sekali cerita diatas...

iya ya mas kalau seluas lautan mungkin lebih baik lagi :)
sama2 mas, terima kasih kembali..

slmat mlm sobat wah sangat2 indah sekali sobat pemandangannya. trmksi dah berbagi sobat

saya bisa belajar dari guru dan murid ini, atau alangkah baiknya kang WS jadi guru dan saya jadi muridnya, angkat saya jadi muridmu guru, hehe
betul mas WS, kalau kita punya masalah santai saja setting hati kita seperti luasnya samudera, pasti deh masalah tersebut tidak ngefek sama sekali.
jadi ingat lagu dangdut mas, kejamnya hatimu kepada diriku, sudah tau luka di dalam hatiku malah kau siram dengan air garam, bukak titik josss...
hehehe

danau yang luas dan airnya yg tenang, bisa buat cerminan hati kita biar luas kesabaran dan tenang dlm menhadapi mslh hidup

sama2 mas, terima kasih kembali :)

wah mendingan mas agus aja ya yg jadi gurunya hehe...angkat aku jadi muridmu ya guru, tapi jangan dijatuhkan lagi nanti sakit guru :D
yaudah kalau perih disiram sama air garam, nanti WS siramnya pakai air tajin ya mas hehe...buka titik josss :D

wah endah pisan euuy mata air cikandung, mun ningali cai kitu teh sok hayang ngojay lah kang

tempatnya masih "perawan" ya kan, kayanya adem dan sejuk

yang nyangkut di otak cuman abg ngabuburit doang
sayang kemaren ge kesana ya, padahal sempat nginep deket alun alun
gara gara dibajak mang lembu, jadi weh mengkol deui ka arah bandung

lestarikan ah kaendahan pariwisata SUmedang...sumedang ayeunamah sawahna seeur di barangun perumahan jadi rada kurang sejuk..KAde AH..menghilangkan kesejukan alam

saya ge teu apal aya tempat nungenah...sabab mudikteh tos we teu kamana mana carape...(salam TIBOGor kanggo lembur kuring dsMULYasari,cinunuk sumedang utara lembur paninengan

hadir kembali demi danau yang bersih.

Memiliki hati 'seluas samudera' ... Indah sekali ceritanya mas ... Mengajarkan saya yang tidak sabaran ...

saya itu paling senang dengan postingan tentang danau. laut sungai dan sebagainya...sepertinya saya mau langsung nyebur saja saat usai membacanya....nasihat untuk menjadikan hati dan jiwa kita seluas danau itu sangat bermanfaat sekali sobat.....salam :-)

iya mas di tempat ini masih lumayan adem dan sejuk...

wah kalau WS tau duluan kang Rawins nginep deket alun2 mungkin WS bajak duluan heheh...kang cilembu manh mang jagonya ngebajak ya...apalagi ngebajak kebon ubi :D

penghijauannya harus digalakkan juga ya kang...

salam juga ti wewengkon sumedang kang...iraha atuh mudik ka lembur deui hehe. Nya tangtos kang, kalau mudik mah pasti asa carape boro2 mau kukurilingan lagi ya

iya mas, cerita tersebut mengajarkan kita semua tentang arti penting sebuah kesabaran dan kelapangan hati ya :)

iya mas apa lagi kalau matahari sedang terik pengennya langsung nyemplung saja ya :)
salam juga mas

ngidep di ladiva, om
yang deket perempatan rumah cut nyak dien
mang lembu ngacauin rute orang tuh. tadinya mau meluncur ke arah timur lewat majalengka kuningan tar turun ciamis. jadi weh balik lewat nagrek limbangan lagi.

kapan kapan deh, om
masih penasaran menjelajah parahyangan timur utara

iya kang...mudah2an nanti pas berkunjung lagi mah sumedangnya sudah semakin bersih ya biar betah...sekarang mah pabaliut pisan eung kusut

wah.. nuhun...sudah share tulisan tentang mata air cikandung ini, mudah-mudahan banyak yang baca dan banyak yang tertarik juga untuk berkunjung nanti... kan siapa tahu ini bisa jadi objek wisata terkenal sampai ke luar sumedang nantinya... hehehe...

oh iya... sebutan dalam bahasa sunda buat air yang memancar deras itu bukannya ngaguludag yaa bukan ngagoledag, ngagoledag mah setau saya saat kita mau tidur, merebahkan badan itu baru ngagoledag... pami teu lepat itu oge, hehe

aamiin aamiin yaa Rabbal alamiin teh :)

eh iya ya teh, maklum salah ngetik hehe *ngeles
nuhun teh koreksinya :D

air tajin itu enak lho mas, apalagi buat menyiram anggrek saya , jadi tambah subur mas, bunganya bagus, hehehehe

memang enak mas buat ganti air susu ya hehe...wah belum pernah coba tuh mas kalau disiramin ke anggrek

Tempatnya Indahh Sekali Ya kang hehe
Saya Jadiii Kpengen Nyebur Disana,
bOLEHHH kandd Kang ?? :D

Oh iyaaa Follback Sukses Kang hehehe Hatur nuhun atoss Follow Blog abdi :D

heee boleh kang, dijamin pasti segerrrrrr :D
yup hatur nuhun kang


EmoticonEmoticon