Kisah Hanjuang di Kutamaya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Assalamua'laikum sobat-sobat semuanya

Tempat Ditanamnya Pohon Hanjuang
Tempat Ditanamnya Pohon Hanjuang Oleh Eyang Jaya Perkosa
Berkaitan dengan sejarah Sumedang, tentunya tidak bisa dilepaskan dari peristiwa ditanamnya pohon hanjuang di Kutamaya oleh Eyang/Embah Jaya Perkosa, nah maka dari itu pada kesempatan kali ini  admin ingin sedikit menceritakan kembali salah satu episode perjalanan sejarah Kabupaten Sumedang ini, tadinya sih saya pribadi inginnya share dan bercerita perjalanan Sejarah Sumedang dari awal, mulai dari masa Kerajaan Tembong Agung, Himbar Buana, sampai ke Sumedang Larang menjadi Kabupaten Sumedang seperti sekarang ini...maksudnya agar ceritanya runut, tapi susah juga ternyata mengumpulkan gambar-gambar yang cocok untuk ilustrasi dan menjadi pendukung cerita  pada setiap postingannya. Pada kesempatan kali ini, Alhamdulillah admin mendapatkan beberapa foto atau gambar yang bisa sedikit bercerita tentang sejarah hanjuang di Kutamaya Sumedang...sebelum lanjut membaca sebaiknya sediakan sedikit cemilan dulu sob, karena ceritanya agak panjang.

Di benteng dinding pada foto diatas tertulis "POHON HANJUANG BERSEJARAH, DITANAM OLEH EMBAH JAYA PERKASA +- TH.1585" wah berarti usia pohon hanjuang disini sudah tua sekali ya sob...sudah sekitar 428 tahunan, pohon intinya sendiri kabarnya tumbang pada sekitar tahun 2000-an, tapi anakannya masih terus tumbuh dengan subur sampai saat ini. Tokoh sentral dalam cerita ini adalah Embah Jaya Perkasa, atau sering juga disebut Eyang/Embah Jaya Perkosa.

Seperti yang pernah admin ceritakan dulu di postingan berjudul Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, Mahkota tersebut dibawa oleh 4 orang Kandaga Lante yang terdiri dari Eyang Jaya Perkosa (Sanghyang Hawu), Embah Terong Peot, Embah Kondang Hapa (Pancar Buana), dan Embah Nangganan. Eyang Jaya Perkosa adalah Senapati terakhir Kerajaan Pakuan Padjadjaran sebelum akhirnya kerajaan tersebut runtuh dan mahkotanya diwariskan kepada Sumedang Larang, maka sejak penyerahan mahkota tersebut beliau pun menjadi Senapati Kerajaan Sumedang Larang, yang itu berarti pada masa keemasannya Sumedang Larang tentu saja tidak bisa dilepaskan dari peran beliau...Embah/Eyang Jaya Perkosa.

Lihat : Mahkota Binokasih Sanghyang Pake

Pada suatu ketika, tepatnya pada tahun 1507 saka atau sekitar tahun 1585 Masehi, pecahlah pertempuran antara Kerajaan Sumedang Larang dengan Kesultanan Cirebon akibat peristiwa Harisbaya, padahal dua Kerajaan atau Kesultanan ini merupakan dua negara yang sangat dekat kekeluargaannya dan menjalin hubungan bilateral yang sangat baik.

Cerita ini bermula ketika raja Sumedang Larang saat itu, Prabu Geusan Ulun pulang berguru dari Demak dan Pajang, dan ketika beliau pulang dari tempat-tempat tersebut, beliau singgah di Cirebon yang berada dibawah kekuasaan  Panembahan Ratu. Sebagai seorang raja yang masih muda, Prabu Geusan Ulun sangat giat belajar bahkan tak segan menuntut ilmu hingga ke daerah lain, selain itu beliau juga dikenal sangat cerdas dan kabarnya mempunyai paras yang sangat tampan. Prabu Geusan Ulun sendiri pergi belajar ke Demak untuk belajar dan memperdalam ilmu-ilmu keagamaan, sedangkan di Pajang beliau berguru kepada Hadiwijaya belajar ilmu kenegaraan dan ilmu perang. Ketika berada di Pajang, Prabu Geusan Ulun bertemu dengan Harisbaya, perempuan cantik Puteri Pajang berdarah Madura ini rupanya berhasil memikat hati Pangeran Geusan Ulun dan membuat beliau jatuh hati padanya, dan singkat cerita pada akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.

Di lain pihak, tak lama berselang dari itu kabarnya di Pajang sedang ada perebutan kekuasaan setelah wafatnya raja Pajang, Hadiwijaya. Perebutan kekuasaan ini terjadi antara keluarga Keraton Pajang yang didukung oleh Panembahan Ratu (Cirebon) yang menghendaki agar yang menggantikan Hadiwijaya adalah putra bungsunya sendiri, Pangeran Banowo.  Tapi pihak keluarga Trenggono di Demak menghendaki Arya Pangiri putra Sunan Prawoto yang juga merupakan menantu Hadiwijaya-lah yang berhak menggantikan Hadiwijaya, dan pada akhirnya dipilihlah Arya Pangiri sebagai penerus kekuasaan di Pajang.

Kembali lagi ke Harisbaya, seperti yang telah disebutkan di atas Harisbaya ini merupakan puteri Pajang berdarah Madura dan telah menjalin kasih dengan Prabu Geusan Ulun ketika beliau bertamu ke Pajang, tak disangka oleh Prabu Geusan Ulun dan Harisbaya sebelumnya...ternyata karena kecantikannya Harisbaya di “berikan” oleh Arya Pangiri kepada Panembahan Ratu Cirebon, karena saat itu Arya Pangiri menjadi penguasa Pajang seperti yang telah disebutkan di atas dan berkuasa untuk melakukan hal tersebut. Pemberian Harisbaya ke Panembahan Ratu oleh Arya Pangiri ini dimaksudkan agar Panembahan Ratu bersikap netral terhadap perselisihan yang terjadi di Pajang, karena selama ini Panembahan Ratu lebih condong atau mendukung kubu Pangeran Banowo agar meneruskan kekuasaan di Pajang.

Malang tak dapat ditolak, akhirnya hubungan kekasih antara Prabu Geusan Ulun dan Puteri Harisbaya pun harus putus karena sang Putri dipaksa menikah dengan Panembahan Ratu oleh Arya Pangiri...cinta yang sedang menggebu-gebu pun kandas begitu saja. Melihat kejadian ini, ada kemungkinan setelah pulang berguru dari Demak dan Pajang maksud Prabu Geusan Ulun singgah di Cirebon adalah untuk memberikan ucapan selamat kepada Panembahan Ratu atas pernikahannya dengan Harisbaya, dan sekalian juga melihat mantan kekasih untuk yang terakhir kali.

Tapi ternyata kejadian selanjutnya sungguh sangat diluar dugaan, melihat mantan kekasihnya datang...Harisbaya tampaknya tidak bisa menahan rasa rindu dan cintanya kepada Prabu Geusan Ulun, seketika cintanya makin mengebu-gebu. Diceritakan setelah Panembahan Ratu tertidur Harisbaya diam-diam mendatangi tempat dimana Prabu Geusan Ulun beristirahat,  ia datang membujuk Prabu Geusan Ulun agar mau membawa dirinya pergi ke Sumedang.

Sontak saja hal tersebut membuat Prabu Geusan Ulun bingung, karena walau bagaimanapun Harisbaya adalah istri pamanya sendiri, Penembahan Ratu.  Tetapi dilain pihak Harisbaya mengancam akan bunuh diri apabila ia tidak membawanya pergi ke Sumedang. Di tengah kebingungannya itu, Prabu Geusan Ulun meminta nasehat kepada empat pengawalnya...dan setelah bermusyawarah diambilah keputusan untuk menuruti keinginan Harisbaya, walaupun diakui hal itu pasti akan menimbulkan peperangan dan pertumpahan darah. Hal ini mungkin berdasarkan perhitungan juga, toh jika keinginan Harisbaya tidak dituruti dan ia bunuh diri, masalah  dan salah paham tentunya akan semakin runyam, rombongan Prabu Geusan Ulun bisa dikira sebagai pembunuhnya.

Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, malam itu juga Harisbawa dibawa pergi ke Sumedang. Tentu saja hal tersebut membuat Keraton Cirebon gempar di pagi harinya, karena permaisuri beserta tamu Panembahan Ratu hilang begitu saja.  Disinilah awal mula pertempuran Sumedang dengan Cirebon, karena melihat istrinya hilang bersama tamunya Prabu Geusan Ulun, Panembahan Ratu memerintahkan prajuritnya untuk mengejar rombongan Prabu Geusan Ulun, tetapi prajurit Cirebon yang menyusul Prabu Geusan Ulun dapat dipukul mundur dan dipatahkan dengan mudah oleh empat pengiring Prabu Geusan Ulun yang terkenal sangat sakti.

Tempat Ditanamnya Pohon Hanjuang di Kutamaya
Tempat Ditanamnya Pohon Hanjuang di Kutamaya
Perang sudah tak dapat dielakkan, Sumedang harus bersiap menghadapi gempuran selanjutnya dari Cirebon. Sebelum berangkat berperang Eyang Jaya Perkosa berwasiat kepada Prabu Geusan Ulun bahwa ia akan menanam pohon hanjuang di ibukota Sumedang Larang (saat itu ibu kota Sumedang Larang terletak di Kutamaya) sebagai tanda, apabila ia kalah atau mati maka pohon hanjuang tersebut juga akan mati dan apabila ia menang serta masih hidup, maka pohon hanjuang tersebut pun akan tetap hidup. Setelah berkata demikian Eyang Jaya Perkosa pun berangkat bertempur, peperangan pun berlangsung sangat lama karena pasuka Cirebon yang dihadapi sangat banyak, namun demikian Eyang Jaya Perkosa tetap memenangkan pertempuran tersebut, bahkan saking bersemangatnya beliau terus mengejar dan menghabisi pasukan Cirebon yang telah tercerai berai.

Dan karena terlalu semangat mengejar musuh, pada akhirnya Eyang Jaya Perkosa terpisah dari ketiga saudaranya yaitu Embah Nangganan, Embah Kondang Hapa dan Embah Terong Peot, dimana ketika ketiganya kembali ke Kutamaya Eyang Jaya Perkosa masih terus mengejar pasukan Cirebon yang sudah cerai berai.  Karena Eyang Jaya Perkosa tidak turut pulang bersama tiga saudaranya, Prabu Geusan Ulun menjadi sangat gelisah dan cemas, karena walau bagaimanapun Eyang Jaya Perkosa bisa diibaratkan sebagai ujung tombak Sumedang Larang, dan jika ia sampai gugur maka Sumedang akan sangat kehilangan...dan pada nyatanya saat itu mereka mengira Eyang Jaya perkosa telah gugur dan situasi pun semakin panik, adalah Embah Nangganan yang pertama kali mengira Eyang Jaya Perkosa telah gugur.

Setelah berdiskusi, akhirnya mengikuti  anjuran Eyang Nangganan Prabu Geusan Ulun bergegas untuk berlindung ke Dayeuh Luhur tanpa melihat dulu pohon hanjuang yang merupakan tanda hidup matinya Eyang Jaya Perkosa, karena mungkin saking paniknya. Sejak saat itu pula ibukota Sumedang Larang pindah dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur, pemindahan ibukota ini sendiri merupakan taktik Prabu Geusan Ulun untuk menghindari serangan lanjutan dari Cirebon karena saat itu benteng di Kutamaya yang mengelilingi ibukota belum selesai dibangun, di sisi lain Dayeuh Luhur juga merupakan daerah dataran tinggi yang bisa menjadi benteng alam yang baik dan juga dapat mengawasi secara langsung musuh yang datang dari jauh, selain daripada itu kabuyutan kerajaan juga terdapat di Dayeuh Luhur.

Di tempat lain, di Kutamaya, Eyang Jaya Perkosa pulang dengan membawa kemenangan...tapi ia heran, ternyata Kutamaya telah kosong ditinggalkan raja dan penduduknya, ia melihat pohon hanjuang yang ditanamnya pun masih hidup.  Dengan marah ia pergi menyusul ke Dayeuh Luhur, setelah bertemu dengan Prabu Geusan Ulun ia benar-benar melampiaskan amarahnya dengan membunuh Embah Nangganan, yang menyarankan ibukota dipindah dan mengatakan bahwa dirinya telah gugur....setelah itu iapun pergi, dan bersumpah tidak mau mengabdi lagi untuk siapapun juga, ia berdiri di suatu tempat lalu ngahyang atau menghilang.

Pada peristiwa ini, masa lalu Eyang Jaya Perkosa sebagai Senapati Kerajaan Padjadjaran mungkin ikut menjadi pemicu emosinya...karena penyebab runtuhnya Padjajdjaran adalah serangan dari gabungan pasukan Islam Cirebon, Demak, dan Banten...dan melalui peperangan antara Sumedang dengan Cirebon ini mungkin bisa beliau jadikan sebagai bakti lanjutan pada Padjadjaran untuk melawan Cirebon lewat tangan Sumedang, dan mengembalikan kejayaan Padjadjaran melalui Sumedang.

Di lain pihak, pada akhirnya Panembahan Ratu dikabarkan bersedia menceraikan Harisbaya dan itu berarti Prabu Geusan Ulun bisa menikahinya secara sah, dengan syarat ganti talaknya adalah daerah Sindangkasih Sumedang...dan akhir cerita Harisbaya pun menjadi istri kedua Prabu Geusan Ulun secara sah, dan perseteruan dengan Cirebon pun berakhir.

Nah untuk yang terakhir ini sampai sekarang masih terjadi perdebatan, pro dan kontra, tentang daerah Sindangkasih yang diberikan pada Cirebon sebagai ganti talak. Banyak yang meyakini dan mengetahui baik dari cerita turun temurun maupun dari beberapa fakta sejarah, daerah Sindangkasih yang diberikan kepada Cirebon ini adalah Kabupaten Majalengka sekarang, namun demikian nampaknya hal tersebut harus diteliti lagi lebih lanjut agar tidak menimbulkan pro dan kontra atau kebingungan sejarah.

Tempat Ditanamnya Pohon Hanjuang di Kutamaya
Pemandangan di Sekitar Kutamaya
Oh ya, hanjuang di Kutamaya ini masih terus hidup dengan subur hingga saat ini, apakah ini berarti Eyang Jaya Perkosa juga masih hidup ?? Wallahua'lam. Kisah Prabu Geusan Ulun dengan Ratu Harisbaya ini  sekarang bahkan sudah ada cerita novelnya, kalau tidak salah judulnya "Harisbaya Bersuami 2 Raja", tapi sayangnya admin sendiri belum pernah baca.

NB : Cerita di atas merupakan cerita sejarah yang admin coba ceritakan kembali dengan bahasa admin sendiri, mohon maaf jika ada kesalahan dalam menceritakan ulang dan ditunggu segera koreksinya jika ada kesalahan, karena kalau sejarah sampai salah menceritakan kan bisa gawat...mudah-mudahan bermanfaat ya.

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
Demikian sedikit uraian atau dokumentasi mengenai Kisah Hanjuang di Kutamaya yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat. Sobat punya usul penulisan artikel atau ingin menjadi penulis tamu di blog ini ?? mari mampir ke halaman REQUEST.
Posted By
Kontak Admin


74 komentar:

  1. seru uga bacanya, nambah wawasan pengetahuan sim kuring kang, hatur nuhun sudah berbagi.

    ReplyDelete
  2. Begitu ya ceritanya...
    Puanjang limayan juga namun seru...
    Gara gara wanita paerang dengan korban jiwa tak terhitung juga. Ngeri sekali ternyata manusia.. Bahkan kinipun banyak cerita orang gelap mata karena wanita hingga nyawa taruhannya..
    Eyang jaya perkosa mungkin saja masih hidup sampai sekarang namun bila begitu keadaanya pastilah bersatu dia dengan jin yang tidak akan mati sampai akir dunia sebagaimana cerita Sunan lawu maupun Ratu Pantai Selatan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya mas, harta, tahta, wanita...memang bisa menyulut pertikaian kalau tidak pandai2 menyikapinya...
      wah kalau jaman sekarang rasanya lebih parah ya mas, banyak orang udah gelap mata n ga takut sama Tuhan kayanya...
      mmmm mungkin juga gitu, tapi biarlah itu tetap menjadi misteri ya hehe

      Delete
  3. ntar ahh bacanya, nonton bola duluu.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. heee mangga kang, nanti subuh nonton lagi

      Delete
  4. kalau jaman dahulu orangnya sakti sakti ya kang kemenangan pasukan peperangan saja bisa dilihat dari pohon hanjuang, coba pejabat sekarang begitu " kalau pohon cabe ini mati saya ndak korupsi" hahaha kan bagus tuh, ndak usah repot sidang hahahah.....

    kalau mbah terong peot gimana ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mang, kadang ga habis pikir ko bisa ya kaya gitu....
      apa ilmu kanuragan kaya di film2 silat itu memang ada gitu ya ?? n kalau ada, kenapa ga lestari sampai sekarang ?? kan keren tuh kalau misal kita bisa salto loncat jauh banget, ngilang, dll hehe..

      eheh, koruptor pasti pada kapok y mang kalau gitu :D

      embah terong peot kenapa mang ?

      Delete
  5. bRu bCa sPaRo,,,,
    nnti ke sini lagi maz

    ReplyDelete
    Replies
    1. camilannya buat buka puasa nanti sore ya Mang Yono,,,

      Perjodohan ternyata sudah ada sejak zaman dahulu,,,
      & perebutan wanita jga jadi masalah pertumpahan darah antar saudara



      Makasih kang dah berbagi

      Delete
    2. ehehe emang ceritanya kepanjangan ya ga cukup satu kali baca :)
      jadi lebih enak sambil ngemil bacanya.

      Iya mbak, perjodohan memang sudah ada semenjak dulu kayaknya, n pertumpahan darah gara2 wanita juga sama :)

      Delete
  6. wah.. tadi kirain namanya jaya perkosa beneran sob.. ternyata eyang jaya perkasa....kalau jaya perkosa kok nggak bagus ya sob namanya.. dari namanya sudahh menyimbolkan keburukan.. kalao di balik perkosa jaya... perkosa kok jaya hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas, nama aslinya beliau sih Sanghyang Hawu, mungkin Jaya Perkasa atau Jaya Perkosa itu semisal julukan n yang sejenisnya....
      iya mungkin, kan apalah arti sebuah nama ya mas hehehe

      Delete
  7. wah panjangbanget ceritanya kang, maaf ga semept baca semua kang
    eh itu nama eyangya serem banget yah heehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kang panjang banget ya hehehe kaya gerbong kereta api :D
      bacanya dicicil aja ya kang :D

      Delete
  8. saya pernah baca cerita ini di blog pak cech gentong, ini murni salah paham ya mas
    ada yang bilang harisbaya di tebas sama pedang yang masih hidup ya paatih patihnya seperti konang happa dan eyang jaya perkasa, beliau punya senjata pamungkasnya eyang jaya perkasa lho mas, di taruh di padepokan galueh pakuan sumedang larang

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya malah belum baca tuh mas agus yang di pak cech gentong

      Delete
    2. Mas Agus : iya mas, murni salah paham, karena menuruti keinginan seorang wanita...kuat banget ya pengaruh seorang perempuan hehe. Wah kalau harisbaya ditebas sama pedang WS malah belum pernah denger mas...WS punya mas gambar atau foto senjata eyang Jaya Perkosa dan lainnya, nanti WS share ya :)

      Mas Agus BG : kalau saya rasanya dulu pernah..

      Delete
    3. oke mas ws saya seneng dengan sejarah masa lampau tentang kerajaan dan juga tentang kisah suatu daerah

      Delete
    4. sama mas...yuk ah kita gali bareng2, pake pacul he

      Delete
  9. Berkunjung Kang WS,.. menyimak cerita2 dari daerah itu mengasyikkan ya Kang.. Happy Blogging..!

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mas boku kunjungannya :)
      iya mas, jadi tahu sedikit2 tentang cerita2 di daerah :)

      Delete
  10. keren ya mas kisahnya,, jadi tau sedikit nh tentang sejarah2 kebudayaan di indonesia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mas sigit :)
      iya, yuk mari kita lestarikan

      Delete
  11. disimpan dulu sob,saya belum sempat baca...nice info

    ReplyDelete
    Replies
    1. silahkan mas, monggo :)
      terima kasih...

      Delete
  12. wadu ternyata begitu sejarahnya Kang,Haturnuhun jadi nambah pengetahuan nih,,,

    ReplyDelete
  13. keren banget tempatnya sobat, pengen ke sana ah, kalau liburan, makasi sudah berbagi cerita

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih kembali mas...iya mas, ditunngu ya di sumedang :)

      Delete
  14. keren banget tempatnya, kalau liburan pengen kesana ah, all about indonesia followers 53, makasi sobat

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mas dimas :)
      makasih juga follbacknya ya mas :D

      Delete
  15. saya bangga jadi warga sumedang walau bukan pribumi sumedang asli, tapi anak keturunan saya kini adalah keturunan langsung prabu geusan ulun..kerenkan?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe keren kang, pasti kena ku teureuh Sumedang Larang atuh :D

      Delete
  16. panjang juga ya kang kisahnya, baru tau aku kisah hanjuang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas kisahnya lumayan panjang :)
      bahakan sampai bisa dibuat novel kan kisahnya saking panjangnya hehe

      Delete
  17. kisahnya juga di novelkan ya mas... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas, kisahnya sudah di novelkan sekarang :)

      Delete
    2. iya... mas ws juga belom baca :p

      Delete
    3. wah mbak uswah selalu mempertegas ni hehehe

      Delete
  18. balik lagi om,kunjungan pagi

    ReplyDelete
  19. Wah ... seru sekali kisahnya ... Saya sangat menyukai kisah sejarah .. Saya bahkan betah berlama-lama di situs peninggalan sejarah seperti candi, atau lainnya. Sejarah selalu menjadi pengingat kita bahwa ada kisah di balik sesuatu dan ada pelajaran di dalamnya ...

    Berkunjung pertama ke blog ini ... Salam kenal mas ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas fanirifianto, sejarah juga menambah wawasan sekaligus pengetahuan untuk lebih mengenal kisah masa lampau :D

      Delete
    2. Mas Mohammad Fanirifanto : Terima kasih telah berkunjung ke blog ini mas, dan salam kenal kembali :)
      iya mas, hampir sama juga dengan saya, karena kadang di tempat bersejarah kita bisa lebih merenung dan menghayati berbagai kejadian yang pernah terjadi di tempat itu ya mas...

      Mas Andes : Setujuuu :)

      Delete
  20. saya sampe menteleng ini bacanya.. ooww ternyata semuanya gara-gara fustun.. hahahaaaa.. makanya kalo mau hibah kekasih harus pikir-pikir dulu biar gak nyesel nantinya sampe2 bikin geger.. hohohoo.. sbenernya kisah2 jaman dulu ini banyak dipengaruhi oleh cinta, wanita, kekuasaan dan pengkhianatan ya,,, seperti kisah ken arok dan ken dedes.. hag hag.. tengkyuu sudah berbagi.. ini bahasanya mas ws sendiri yang cukup mudah dimengerti ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak uswah bener banget deh mirip kisahnya mas arok dan mas andes *hahaha

      Delete
    2. Mbak Uswah : Terima kasiiih mbak, berarti WS ada bakat buat jadi pendongeng dong ya hehehe...iya mbak, kisah jaman dulu mungkin seperti itu ya, perang, kekuasaan, wanita, cinta, dan di semua penjuru dunia juga sama seperti itu :D

      Mas Andes : wah...kalau kisahnya tentang Mas Andes dan Mas Arok pastinya seru tuh heheh

      Delete
  21. Jadi pengen ke Sumedang...Selama ini cuman tw tahunya doang...

    ReplyDelete
  22. 428 tahun...betul-betul umur yang panjang untuk sebuah pohon....luarbiasa :-)

    ReplyDelete
  23. Hidup eyang jaya pekosa... Hidup juga ayang gesan ulun Hdp juga sumedang hdp juga dayeh luhur. Da urgmah org dayeh luhur.. .

    ReplyDelete
  24. Terus terang saya tertarik dengan Kisah Eyang Jaya karena ada yang seseorang (kawan) yang kadang-kadang "didatangi" beliau (seperti kemasukan/kesurupan bagi yang tidak paham). Sayangnya bicaranya dengan bahasa Sunda jadi saya tidak tahu ketika itu terjadi di depan saya. kalau dari cerita Intinya sih beliau blak-blakan kepada siapa saja yang kebetulan didepannya. Intinya dari caranya seperti menasihati untuk berlaku jujur, segera bertauban jika berbuat kesalahan, jika bersalah dengan seseorang segeralah meminta maaf, bersihkan hati dan hidup bermanfaat bagi orang banyak. hehehe koq jadi ngelantur..... ini cerita teman yang "kesurupan" tadi, kira2 kalau diringkas seperti itu. Bahkan kata hatinya sempat memintanya untuk berziarah ke Makan Beluai di Sumedang. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Wassalam.

    ReplyDelete
  25. Terus terang saya tertarik dengan Kisah Eyang Jaya karena ada yang seseorang (kawan) yang kadang-kadang "didatangi" beliau (seperti kemasukan/kesurupan bagi yang tidak paham). Sayangnya bicaranya dengan bahasa Sunda jadi saya tidak tahu ketika itu terjadi di depan saya. kalau dari cerita Intinya sih beliau blak-blakan kepada siapa saja yang kebetulan didepannya. Intinya dari caranya seperti menasihati untuk berlaku jujur, segera bertauban jika berbuat kesalahan, jika bersalah dengan seseorang segeralah meminta maaf, bersihkan hati dan hidup bermanfaat bagi orang banyak. hehehe koq jadi ngelantur..... ini cerita teman yang "kesurupan" tadi, kira2 kalau diringkas seperti itu. Bahkan kata hatinya sempat memintanya untuk berziarah ke Makan Beluai di Sumedang. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Wassalam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nasihatnya beliau tentunya sangat baik jika diaplikasikan dalam kehidupan kita ya mas...dan mungkin secara umum beliau ingin menasihati kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Iya mas kaapan2 berkunjung saja ke Sumedang :)
      Terima kasih mas telah mampir ke blog ini

      Delete
  26. Mau tanya kang,kan Kutamaya pernah jadi ibukota Kerajaan.bahkan disana diceritakan kutamaya dibenteng namun belum selesai.nah benteng itu masih ada ga ya?trus kalo kerajaan sumedang larang ada keratonnya ga seperti keraton cirebon yang masih berdiri sampai sekarang?mohon infonya kang,saya jadi penasaran,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kang kalau soal itu saya juga kurang tau karena diberbagai sumberpun tidak ada yang menyebutkan. Keraton Sumedang juga sampai saat ini belum ditemukan, entah saya yang belum tahu atau memang karena bentengnya telah hancur karena peperangan...tapi katanya sih ada petilasannya (petilasan ibukota sumedang larang) kang didaerah pasanggrahan dan saya belum sempat kunjungi, Insya Allah nanti kalau saya mengunjungi dan ketemu nanti mungkin saya share disini. Pusat pemerintahan selanjutnya setelah dari kutamaya ini dipindahkan beberapa kali mulai dari ke dayeuh luhur, tegalkanlong, dan ke pusat kota yang sekarang pada masa Pangeran Panembahan...nah kalau dipindah2kan gitu kurang tau juga kang apa keraton atau tempat pemerintahan di tempat sebelumnya telah hancur atau tidak karena saya belum menemukan sumber yang membahas atau menerangkannya

      Delete
  27. Kang gaduh carita eyang limbang jaya??

    ReplyDelete
  28. Abdi ti cimanggung wilayah damur.. ki lenu..

    ReplyDelete
  29. ceritanya bagus, bahasanya mudah dipahami.. hatur nuhun :>)

    ReplyDelete
  30. Kisahnya unik juga ya.. Tapi kalok beneran Eyang Jaya masih hidup, so wow banget.. :D

    ReplyDelete
  31. jigana si akang sering baca buku yah/ ahli sejarah, soalnya hapal banget dengan sejarah.

    ReplyDelete