Tuesday, 4 December 2012

Masih adakah Tampomas Esok Hari??

Penambangan Pasir Tampomas
Penambangan Pasir Tampomas Blok Cibeureum
Pemandangan di atas adalah pemandangan di salahsatu penambangan pasir Gunung Tampomas, apa yang terlintas dipikiran sobat ketika melihat gambar di atas? kalau admin sempat berpikir mungkin suatu saat Gunung Tampomas akan menghilang dan beralih ke tempat lain, bagaimana tidak, setiap harinya pasirnya dikeruk dan dipindah ke tempat lain, bukan? dan "Tampomas nu matak waas" seperti yang diutarakan dalam lagunya Doel Sumbang mungkin suatu saat sudah tidak akan ada lagi, dan anak cucu kita nanti sudah tidak akan melihat Gunung Tampomas lagii, entahlah lamunan admin itu berlebihan atau tidak.

Dalam sajak disebuah buku tentang sejarah Sumedang karangan E. Kosmajadi, yang salah satu baitnya berbunyi "Palasari masa asri, Gunung Kunci jadi saksi, Tampomas nu mawa endah matak sungkan nu rek mulang,", itu sebabnya konon orang Sumedang sejauh-jauhnya merantau pasti akan kembali lagi pulang, dan orang rantau yang telah datang ke Sumedang pasti enggan kembali ke kampung halamannya, karena apa? karena daya pikat Sumedang dan kenyamanan alam yang diberikan begitu luar biasa.

Bagaimana keadaannya sekarang? apa masih pikabetaheun? walaupun iya, tentunya sudah tidak seperti dulu lagi dimana hawa yang sejuk mudah kita dapati, air berlimpah dimana-mana, dan lain-lain. Bahkan sekarang suara-suara masyarakat Sumedang mulai mengemuka, Cimanggung banjir, Jatinangor semrawut, jalan Prabu Gajah Agung berdebu, Cimalaka kering kerontang, Jatigede di demo, dan lainnya. Jadi kemana Sumedang yang dulu katanya sangat nyaman?

Kembali lagi ke Gunung Tampomas, di tahun 2010 saja galian pasir sudah ada yang mencapai kedalaman sepuluh meter, lebih dari ketentuan delapan meter, dan setiap harinya lebih dari 220 truk pasir diangkut dari tempat ini. Itu Tahun 2010, dan sekarang tahun 2012, 2012 akhir pula, terbayang kerusakannya seperti apa sekarang? kekeringan itu sudah pasti, mulai dari debit air sumur penduduk yang berkurang drastis, pengairan sawah yang terganggu, bahkan air PDAM juga sudah jarang mengalir, belum lagi ancaman longsor, dan lain-lain.

Bukan maksud melebih-lebihkan, tapi sebenarnya apa yang didapat Sumedang pada umumnya dan warga sekitar galian pada khususnya, dari kegiatan pengerukan pasir ini? selain bom waktu yang tinggal menunggu kapan meledak, mau menunggu sampai tampomas marah mungkin? toh yang untung banyak tentunya perusahaan-perusahaan yang mengeruk pasir itu.

Admin sebagai orang awam tidak tahu menahu berapa pajak, retribusi, bagi hasil, atau apalah itu namanya yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan penambang pasir kepada pemerintah setempat, yang admin lihat realita di lapangan, kasihan anak-anak Sekolah Dasar di sekitar penambangan pasir yang setiap harinya menghirup debu galian, warga sekitar yang kesulitan air, dan lain-lain. Tidak ada jaminan pula perusahaan penambang akan memberikan kompensasi kepada lingkungan seperti reboisasi dan sejenisnya. Dan warga sekitar hanya akan mendapati tanah mereka berubah menjadi gersang.

Memang dari tanah gersang itu, Sumedang sekarang mempunyai produk unggulan baru yaitu buah naga, tapi itupun adalah hasil kretifitas dan semangat pantang menyerah warga sekitar galian yaitu Kelompok Tani Simpay Tampomas, yang pada awalnya menghadapi kenyataan bahwa tanahnya sekarang berubah menjadi gersang, dan mereka harus berpikir bagaimana menyiasatinya agar tanah gersang yang ada bisa tetap produktif. Itu tentu bukan alasan untuk tetap meneruskan penggersangan Tampomas. 

Melihat dari hal tersebut diatas, agar kerusakan lingkungan seperti di Gunung Tampomas ini tidak terjadi di daerah lain, setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan agar lingkungan tetap terjaga. Berikut adalah cara atau tips menjaga lingkungan yang berkaitan dengan sumber daya air, diantaranya adalah :
  • Mematuhi ketentuan yang berlaku tentang kedalaman penggalian pasir yang diperbolehkan
  • Eksploitasi atau penggalian yang dilakukan jangan sampai memutus urat air tanah
  • Reboisasi atau penghijauan kembali tempat-tempat yang sudah tandus akibat dari penebangan pohon ataupun akibat penggalian pasir seperti pada kasus diatas
  • Memperketat peraturan dari pemerintah serta pengawasan dan sikap kritis dari masyarakat untuk menghindari eksploitasi alam yang berlebihan

Cinta itu katanya butuh bukti, jadi mungkin, blog ini semacam ekspresi cinta dari Admin dan generasi muda Sumedang lainnya; mencintai Sumedang dengan coba ikut memperkenalkan segala sesuatu tentangnya pada dunia.

19 komentar

Mungkin esok lusa Gunung Tampomas tinggal bekasnya saja...

kalau keadaannya terus dibiarkan seperti sekarang, mungkin saja hal tersebut akan terjadi, bencana bisa mengintai kapan saja. Mudah-mudahan saja kedepannya akan segera ada perbaikan dalam pengelolaan Tampomas ini dari segi timbal baliknya kepada lingkungan

Kang saya di Karya Kuring Haratis berdua adminnya, jadi ada pria/wanita :D

oh ia kang follow balik ia saya sudah follow di blog akang.

@wewengkon sumedang : Sedih ngeliatnya, padahal dari jauh teh asa cantik gunung tampomas-nya. Semoga pemerintah segera bertindak untuk menanggulangi pengerukan liar di Gn Tampomas ya kang. M.Sofyan Daud <== akang wewengkon,, ini agan dari K2H-nya :D

Oh gitu y kang hehehe...agan sama aganwati trnyata adminnya y :D
yup siap, udah saya follbek gan blog nya :)

hohoho iya tau sekarang mah, meni kompak y kayanya agan sama aganwati teh :D
tengkyu pisan admin K2H dua2nya uda mau mampir ke wewengkon sumedang.
Soal Gunung Tampomas, yup memang menyedihkan y,
view Gunung Tampomas yang keliatan "borok" ini cuma terlihat kalau dari arah Kecamatan Cimalaka aja, tpi kalo diliat dari tempat yang lain...masih brasa sejuk n ijo :D

hmmmm iyah yah sedih juga liatnya kang,,
pendatang malah yang menggeruk keuntungan,
sedangkan penduduk aslinya lebih banyak mendapat kerugiannya..

ya semoga saja pmerintah lebih cermat menanggapi hal ini,
dan semoga tidak terjadi hal" yang ditakutkan :)

amiiiin mbak in
mudah2an bupati baru yang kemarin2 terpilih bisa menghentikan atau minimalnya bisa mengontrol eksploitasi pasir tampomas yang sudah tidak terkendali ini :)

dilema selalu melanda pada negeri yang sedang membangun, teu dikeruk teu gaduh pasir kangge ngabangun...sok rek kumaha...jadi seharusnya pengusaha itu harus sadar dengan yang telah ditentukan oleh penguasa yang memberi ijin agar mematuhi aturannya, kalau 8 m batasnya, jangan jadi 10m..pungsi pengawasannya kudu jujur kerjanya, perizinan harus dibatasi.

intinya membangun dengan HATI dan KEJUJURAN, agar sumedang tetap BERKAH.

tah eta kang...setuju banget :)
cuma sayang sekarang banyaknya pengusaha yang serakah dan tidak turut sama aturan...
pengawasan dari pemerintah WS yakin ada, tapi sayang walau kerusakan sudah nampak dimana-mana, pemerintah entah kenapa seperti tutup mata (itu juga yang saya dengar dari penduduk sekitar)...
mudah2an kedepannya ada perbaikan

begitulah warga negerimu...hehe

wah bener" yah ?? negeri ini semakin lama semakin sempit saja menghirup dan memandang keindahan alam ,, karena apalagi klo bukan krna keuntungan ...
Kadang" ketegasan pemerintah juga ( udang di balik bakwan ) heheehh

kalau ada udang dibalik bakwan justru makin enak mungkin mas...gurih hehehe.
Iya itulah mungkin ya mas, pasti ada pihak2 yang bermain demi mencari keuntungan kalau sudah nyata2 alam rusak tapi tetap tidak bisa berbuat tegas

Sedih ngeliat Gunung Tampomas sekarang... Rusak serusak2 nya... gimana yah caranya biar penggalian pasir di gunung tampomas berhenti..

iya kang, tentunya butuh keseriusan dari semuanya baik dalam berbagai hal


EmoticonEmoticon