Tentang Seni Reak

Seni Reak
Seni Reak. Image By facebook Mek'x Putra Medal Saluyu
Apa yang pertama kali sobat rasa setelah melihat foto seseorang mengenakan sejenis “topeng” di atas? seram? atau minimal berkata, “ini topeng apa ya? bentuk dan rupanya tidak biasa,”. Jika iya, berarti kita sama, itu yang admin rasakan ketika pertama kali melihat seseorang memakainya dulu.

Ya, topeng berbentuk singa berambut hitam, disambung dengan “kostum” dari karung goni yang menelan hampir seluruh tubuh si pemakai, agak seram juga bagi yang pertama melihatnya. Apalagi rahang sang singa menganga dengan mata yang terus membelalak. Dalam pertunjukannya, si pemakai kostum melenggak-lenggok kesana kemari membuka tutup rahang singanya, terkadang mereka seperti trance, tidak menyadari apa yang dilakukannya.

Dalam pertunjukan? maksudnya? apa ini sebuah kesenian? jawabannya adalah, ya. Seni Reak namanya, adalah kesenian yang dapat dijumpai di beberapa daerah tatar Sunda seperti Bandung, Karawang, Subang, Sumedang, dan sekitarnya. Biasanya, seni ini dipentaskan pada sebuah pesta yang mengundang keramaian seperti khitanan, syukuran panen, pernikahan, sampai 17 Agustusan. Dalam prakteknya, biasa dimainkan oleh mereka yang sudah sepuh atau dewasa.

Di tanah Pasundan kesenian ini relatif mudah dijumpai, pegiat seninya ada hampir di setiap Kabupaten. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa seni tradisional yang telah menyebar hampir ke seluruh pelosok Jawa Barat ini awalnya berasal dari Sumedang, tepatnya dari Kecamatan Rancakalong.

Ya, Seni Reak, sebuah seni yang mengawinkan seni reog, angklung, kendang pencak, seni tari, dan seni topeng ini berasal dari Rancakalong, Sumedang. Adapun sekarang seni reak bisa ada di berbagai daerah, adalah dulunya dibawa oleh mereka warga Rancakalong yang mengembara, dan menetap di daerah pengembaraan mereka.

Dulunya, konon Seni Reak ini diciptakan untuk menarik perhatian anak-anak yang sudah masuk usia khitan. Diharapkan dengan kemeriahan pementasan seni ini, anak-anak yang takut dikhitan/sunat bersedia melakoni kewajiban yang harus dilalui seorang lelaki menuju usia balighnya itu.

Dengan iring-iringan bunyi dari seperangkat instrument etnik Sunda, itu menciptakan kemeriahan yang diharapkan bisa menyingkirkan rasa takut. Digelar di tempat terbuka, dan diarak berkeliling menyusuri jalan-jalan desa dengan berbagai tabuhannya (mirip-mirip dengan Kesenian Kuda Renggong), anak mana yang tidak terhibur dengan itu?

Meski demikian, sejak kapan kesenian ini ada, sampai sekarang masih menjadi perbincangan. Sebagian menyebutkan Seni Reak ini peninggalan dari masa kerajaan Pajajaran, ada pula yang menyebut kesenian ini mulai muncul pada masa kerajaan Sumedang Larang. 

Pendapat yang kedua diperkuat argumen bahwa kesenian Sunda ini seperti kental sekali mendapat pengaruh budaya Pajang dan Mataram, pada masa Sumedang Larang lah daerah Sunda begitu intens berinteraksi dengan kedua daerah itu, baik dalam hal politik maupun budaya. Lalu, ada pula yang menyebutkan bahwa kesenian ini muncul pada masa penjajahan Belanda, sebagai bentuk kritik masyarakat para priyayi yang pro pada pemerintahan kolonial Belanda. 

Tapi jika dihubungkan dengan awal mula kenapa seni ini dibuat, yaitu untuk menghibur mereka yang akan/sudah di khitan, banyak yang mengamini folklore atau cerita rakyat bahwa Seni Reak ini mulai ada pada masa Prabu Kiansantang. Pada cerita rakyat itu disebutkan, pada abad ke 12 putera dari Prabu Siliwangi itu bermaksud untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat.

Pada prosesnya, Kiansantang menemui kendala saat mendakwahkan kewajiban sunat/khitan pada setiap laki-laki, kebanyakan dari anak-anak merasa takut dengan itu. Ikut memikirkan apa yang menjadi kendala Kinasantang dalam dakwahnya, agar anak-anak tidak takut dikhitan, sesepuh di Sumedang akhirnya menciptakan suatu kesenian yang mengundang keramaian, yang diharapkan bisa menghibur pengantin sunat. Kesenian itulah yang sekarang dikenal dengan Seni Reak.

Penggunaan kata “reak” dalam seni ini juga memunculkan banyak pendapat. Sebagian mengatakan “reak” berasal dari kata “reog”, mirip dengan nama kesenian dari Jawa Timur, terutama Reog Ponorogo, keduanya pun sama menggunakan topeng sebagai salah satu media seninya.  Sebagian lagi menyatakan bahwa “reak” berasal dari kata “leak”, yakni salah satu simbol kekuatan jahat dalam tradisi Hindu-Bali, yang menyimbolkan Batara Kala atau ogoh-ogoh, ini pun sama, menggunakan topeng sebagai media seninya. Adapun Reak maupun Reog, menurut sebagian pandangan berasal dari kata Arab “riyyuq” yang artinya “bagus/sempurna di akhir” atau khusnul khatimah.

Ada pula yang menyebutkan, hirup-pikuk serta sorak-sorai dari pemain dan penonton saat digelarnya seni inilah yang menjadikannya dinamakan Seni Reak, diambil dari kata hirup-pikuk, atau sorak-sorai gemuruh tetabuhan dalam bahasa Sunda yaitu : “susurakan atau eak-eakan”, sehingga jadilah kesenian yang hiruk-pikuk dan bergemuruh karena sorak-sorai ini menjadi “Seni Reak”.

Dan yang kerap menjadi pertanyaan juga adalah, kenapa singa? kenapa singa yang dipilih sebagai ilustrasi pada topeng Seni Reak ini? di wilayah Sunda kan tidak ada binatang berupa singa? Dengan pertanyaan itu, dapat dipastikan bahwa singa merupakan “pemodelan” import. Sebagian menyebutkan bahwa singa muncul sebagai bentuk pengaruh dari tradisi Cina yang sudah masuk ke Nusantara sejak lama. Ada pula yang menyebut, kenapa singa? karena singa dianggap sebagai binatang yang kuat, raja hutan, dengan demikian Seni Reak secara simbolik memiliki makna pengendalian kekuatan yang mewujud keindahan dan keluwesan (dalam gerak tari dan iringan musik).

*dihimpun dari berbagai sumber

Curug Buhud, Niagaranya Sumedang

Curug Buhud, Niagara-nya Sumedang
Curug Buhud, Niagara-nya Sumedang. Image by instagram @mtma_sumedang
Selamat pagi, siang, sore, malam para pecinta alam. Niagara, mendengar nama itu pasti terbayang di benak kita air terjun berukuran besar yang sangat indah, bukan begitu, sobat? Jika iya, tidak mengherankan, air terjun super lebar di perbatasan internasional antara Amerika Serikat dengan Kanada itu memang jadi air terjun paling populer di dunia.

Dan berbicara tentang Niagara, kita ketahui bersama bahwa di negara kita, di Indonesia, meski ukuran air terjunnya lebih kecil, cukup banyak yang mempunyai kemiripan dengan Niagara dari segi ciri khasnya, yaitu curahan airnya yang melebar. Sebut saja salah satunya adalah air terjun Gentongan di Bondowoso. Bagaimana dengan Sumedang? Jarang diketahui khalayak bahwa ternyata Sumedang juga mempunyai air terjun yang serupa dengan itu, dengan Niagara.

Ya, kali ini admin ingin mengajak sobat semua untuk mengeksplorasi salah satu air terjun di Kabupaten Sumedang yang mirip-mirip air terjun Niagara, katakanlah Niagara mini, yang keberadaannya belum diketahui banyak orang, belum dikelola, serta belum dimaksimalkan sebagai daya tarik wisata. Penasaran? Lanjut saja membaca ya.

Curug Buhud, begitulah air terjun ini biasa disebut (ada juga yang menyebutnya Curug Buud dan Curug Cikandung). Curug (air terjun) yang berada di Desa Sukatani, Kecamatan Tanjungmedar ini secara tampilan sangat berbeda dari curug-curug kebanyakan, yaitu melebar, persis seperti air terjun Niagara. Dengan lebar keseluruhan lebih dari tiga puluh meter, itu terlihat cukup besar dan lapang, bahkan berpuluh-puluh orang bisa saja berfoto ria di atas air terjunnya jika mau.

Dengan tinggi sekitar enam meter dan bebatuan yang memudahkan di pinggirannya, memungkinkan kita untuk bisa naik ke puncak air terjun dimana air mulai tercurah. Itu tentu menyuguhkan kesan berbeda, karena biasanya kita (jika ingin berfoto) hanya bisa berfoto di dasar air terjun, di kolam yang terbentuk oleh curahan air, bukan begitu? Itu sebabnya admin katakan curug ini berbeda.

Asyiknya lagi, meski seringkali airnya keruh, Curug Buhud ini 100% masih alami, dan tentu saja tidak dipungut retribusi jika ingin mengagumi keindahannya. Airnya yang tercurah deras tentu akan memanjakan siapa saja yang mengunjunginya. 

Masih alami? Tidak dipungut bayaran? Wah, jangan-jangan tempatnya berada di tengah hutan?! Jangan dulu berpikiran kesitu, sobat. Jangan bayangkan kita akan berlelah-lelah jalan berjam-jam seperti jika akan mengunjungi Curug Sabuk, Curug Ciwalur, dan curug-curug tengah hutan lainnya di Sumedang, karena curug ini relatif lebih mudah dijangkau.

Tempat dimana air terjun ini berada tidak jauh dari pusat desa, dan berada dekat dengan pemukiman penduduk. Jika akan berkunjung ke tempat ini, mudah saja, di Desa Sukatani kita tinggal mencari SD Sukatani, itu yang jadi patokan.

Sebelum dan sesudah SD dimaksud kita akan menjumpai cukup banyak kebun milik warga, dimana di salah satu kebun warga itu ada jalan menuju Curug Buhud ini. Sebelum SD (ruas kiri jalan), ada jalan menurun di salah satu titik di kebun warga itu, kita tinggal menuruni jalan tersebut, dan dalam beberapa menit kita akan sampai ke curug ini. Mudah bukan? 

Bagaimana, sobat? Tertarik untuk mengunjungi Curug Buhud di Desa Sukatani, Kecamatan Tanjungmedar? Jika iya bolehlah langsung dijajal, tapi jangan lupa sopan santun pada alam dan penduduk sekitar, jangan dirusak dan dikotori. Kita jaga bersama keindahan alam Sumedang ini sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan pemilik semesta alam. Jangan corat-coret, jangan buang sampah sembarangan, kalaulah tak mau dibilang kampungan.

*special thanks to instagram @naradipa15

Alun-alun Sumedang di Malam Hari

Alun-alun Sumedang di Malam Hari
Alun-alun Sumedang di Malam Hari
Indahnya malam di Alun-alun Sumedangđź“·
By @haidedin @athifgram

Mau tahu sejarah Masjid Agung Sumedang dan Lingga? Cari tahu di sini ya Masjid Agung Sumedang & Monumen Lingga

Wana Wisata Puncak Damar

Waduk Jatigede dilihat dari Puncak Damar
Waduk Jatigede dilihat dari Puncak Damar
Waduk Jatigede, walau waduk penuh kontrovesi ini belum diresmikan sebagai objek wisata, dan sampai saat ini pengisian airnya bahkan belum selesai, tapi keberadaannya sudah menjadi daya tarik baru bagi Sumedang. Itu terbukti setiap harinya, apalagi hari libur, waduk yang jika sudah terisi penuh akan menjadi waduk terbesar ke dua di Indonesia ini selalu ramai dikunjungi.

Tak pelak, diramalkan, kedepan waduk yang pembangunannya memakan waktu hingga lebih dari setengah abad itu akan menjadi objek wisata andalan Sumedang. Tak hanya itu, waduk yang limpahan airnya digunakan untuk mengembangkan sektor pertanian di daerah Pantura ini juga memunculkan objek-objek wisata baru di pinggirannya, bagai jamur di musim penghujan.

Tentu, objek wisata yang dimaksud bukan dikelola oleh swasta ataupun pemilik modal besar, melainkan oleh penduduk setempat yang coba memanfaatkan moment. Salah satu tempat wisata seperti yang dimaksud adalah Wana Wisata Puncak Damar, yang bisa dibilang merupakan tempat wisata dadakan seiring tergenangnya area waduk.

Wana Wisata Puncak Damar di Desa Pakualam, Kecamatan Darmaraja, dari namanya sudah tergambar tempat wisata ini berbeda dengan lainnya di sekitar Waduk Jatigede, yang kebanyakan menawarkan sensasi “wisata air”. Ya, karena tempatnya yang berada cukup jauh dari genangan waduk, dan berada di sebuah bukit dengan vegetasi tumbuhan yang menyejukkan, tempat ini lebih menawarkan  nuansa hutan, dimana landscape Waduk Jatigede bisa terlihat dengan jelas.

Tempat ini, karena belum benar-benar dikembangkan dan diperuntukkan bagi tempat wisata, menurut admin sebetulnya masih belum cocok juga untuk disebut sebagai objek wisata, mungkin lebih tepat jika disebut rest area. Ya, jika sobat  mengunjungi Waduk Jatigede, wana wisata ini bisa dicoba setelah berlelah-lelah dan berpanas-panas ria di waduk yang menenggelamkan banyak desa tersebut.

Berada di lahan Perhutani, yang menurut salah satu pengelola lesehan luasnya mencapai 80 hektar, wana wisata tersebut mengambil nama salah satu situs yang ada di daerah itu, yaitu Situs Puncak Damar. Situs Puncak Damar, menurutnya masih ada sangkut paut dengan sejarah Kerajaan Sumedang Larang, yaitu berupa makam salah satu leluhur yang bernama Uyut Maja.

Masih menurut pengelola lesehan, karena tempatnya yang nyaman dan strategis, dimana panasnya waduk tidak terasa tapi keindahan waduknya sendiri bisa dilihat dengan jelas, tempat ini sangat potensial untuk terus dikembangkan. Itu terbukti setiap hari libur tempat ini ramai juga dikunjungi, seolah “kecipratan” dari banyaknya pengunjung yang datang ke Waduk Jatigede.

Apalagi, di sini kita bisa merasakan lezatnya ikan khas Sungai Cimanuk, seperti diantaranya ikan Tawes dan ikan Paray. Ikan-ikan yang dimasak bukan ikan yang telah lama disimpan, atau yang tumbuh besar dalam kolam, tapi ikan segar yang setiap paginya ditangkap dari genangan Waduk Jatigede, yang dibangun dengan membendung sungai Cimanuk.