Saturday, 16 July 2016

Megahnya Curug Cibitung, Desa Cikareo Selatan

Curug Cibitung di Desa Cikareo Selatan
(facebook.com/asep.sofian.129?ref=br_rs)
Selamat pagi, siang, sore, malam para pecinta alam. Pada artikel kali ini admin ingin kembali mengajak sobat untuk mengeksplore salah satu air terjun yang ada di Kabupaten Sumedang. Akan ke daerah mana kita kali ini? Setelah pada artikel terakhir tentang air terjun kemarin kita membahas Curug Cikidang di Kecamatan Ganeas, kali ini kita akan kembali ke Kecamatan Wado, tempat dimana terdapat salah satu curug yang sangat indah bernama Curug Cakra.


Ya, Kecamatan Wado tidak disangka-sangka ternyata memiliki banyak air terjun/curug yang sangat indah. Sayang, keberadaan air terjun-air terjun yang menjadi potensi wisata di kecamatan ini masih kurang terekspose ke luar, padahal, keindahannya tidak kalah, bahkan mungkin lebih indah dari air terjun lain yang sudah sejak lama dikenal sebagai objek wisata di Kabupaten Sumedang, seperti Curug Cinulang atau Curug Gorobog misalnya.

Di Kecamatan Wado, salah satu air terjun indah yang terlihat begitu megah tersebut sala satunya adalah Curug Cibitung, yang terletak di Desa Cikareo Selatan, Kecamatan Wado. Pertama kali melihatnya saja, admin jamin, sobat akan langsung terkagum-kagum! Karena memang air terjun ini terlihat begitu megah ditengah pemandangan yang hijau ranau.

Airnya terjunnya tercurah begitu deras. Jangan heran kalau di tempat ini pendengaran sobat akan sedikit terganggu, karena gemuruh airnya begitu kuat dan mengalahkan suara-suara lain di sekitarnya. Jika ingin mengunjungi curug ini, admin sarankan untuk mengunjunginya di musim penghujan, tentu, agar airnya tercurah lebih besar dan kemegahan air terjunnya lebih terasa. Pada foto di atas, kebetulan debit air terjunnya sedang tidak begitu besar.

Memiliki ketinggian sekitar tiga puluh meter, potensi wisata di Desa Cikareo Selatan Wado ini sebetulnya terhitung mudah dicapai, medan jalannya tidak sulit untuk ditaklukkan. Jika ingin mengunjunginya, patokan pertama yang bisa digunakan adalah kantor Desa Cikareo Selatan-nya sendiri. Dari situ, sobat tinggal mengambil jalan lurus ke arah Cimirun, Cibitung.

Menggunakan kendaraan bermotor, jika sobat mengambil arah yang benar, tidak sampai dua puluh menit dengan kecepatan kendaraan sedang, gemuruh air terjun akan langsung terdengar di kejauhan, pertanda Curug Cibitung ini sudah sangat dekat. Jika sudah begitu, kita tinggal ikuti saja arah suaranya, air terjunnya cukup dekat dengan jalan.

Bagaimana, sobat? Tertarik untuk mengunjungi Curug Cibitung di Desa Cikareo Selatan ini? Jika iya bolehlah langsung dijajal, tapi jangan lupa sopan santun pada alam dan penduduk sekitar, jangan dirusak, jangan dikotori, kita jaga bersama keindahan alam Sumedang ini sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan pemilik semesta alam. Jangan corat-coret, jangan buang sampah sembarangan, kalaulah tak mau dibilang kampungan.

*special thanks to facebook Asep Sofian

Saturday, 9 July 2016

Tanaman/Buah Harendong dan Manfaatnya

Tanaman Harendong
Tanaman Harendong
Jangan sepelekan kandungan buah lokal, buah lokal kaya manfaat bagi tubuh, dan lainnya, mungkin kita sering mendengar slogan-slogan semacam itu, yang intinya menegaskan buah lokal kaya akan manfaat, dan khasiat. Tentu, ini terkait dengan keberadaan buah-buahan  import yang membanjiri pasaran, tujuannya jelas, untuk mempromosikan kekayaan hasil bumi daerah, dalam hal ini buah-buahan, agar lebih dicintai dan dipilih masyarakat.

Sayang, sampai sekarang sepertinya belum ada slogan seperti “jangan sepelekan kandungan buah hutan”, “buah hutan kaya manfaat bagi tubuh”, dan lainnya. Bukan maksud admin mengada-ada, nyatanya, banyak buah-buah hutan, dalam hal ini buah-buahan yang tumbuh liar dan tidak begitu lazim dimakan sebagai buah konsumsi, justru mengandung banyak manfat bagi tubuh, seperti misal buah harendong atau senggani yang akan kita kupas berikut ini.

Ya, siapa sangka buah senggani, yang orang Sunda umumnya dan Sumedang khususnya biasa menyebutnya dengan buah harendong, ternyata sangat kaya akan manfaat. Buah yang jika sudah masak akan berwarna biru keunguan dan tanamannya tumbuh menyemak ini biasa tumbuh liar di daerah-daerah yang rimbun dan sejuk.

Di daerah admin, buah yang sedikit punya cita rasa manis ini seringkali iseng dimakan oleh anak-anak yang kebetulan menjumpainya. Itu jadi keisengan yang membawa berjuta manfaat tentunya, ya, seperti admin bilang tadi, karena buah dan daun harendong/senggani kaya akan manfaat, berikut manfaat buah dan daun/tumbuhan harendong/senggani yang admin sadur dari Smallcrab.com.

1. Keputihan 
  • ambil daun harendong/senggani segar sebanyak 2 genggam,
  • siapkan jahe, dan bengle masing-masing seukuran ibu jari, lalu dicuci bersih dan dipotong-potong agak kecil,
  • masukkan dalam 3 gelas air yang sudah ditambah 1 sendok makan cuka,
  • rebus sampai airnya tersisa 2 gelas, 
  • setelah dingin disaring, lalu diminum 2 kali sehari, masing-masing 1 gelas. 

Catatan : jahe dan bengle dapat diganti dengan 3 kuncup bunga cempaka dan 3 buah biji pinang yang tua. 

2. Disentri basiler 
  • siapkan daun senggani/harendong dan aseman (Polygonum chinense), yang masih segar sebanyak 60 g,
  • rebus kedua bahan tersebut dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas,
  • setelah dingin airnya disaring, lalu diminum sekaligus.

3. Sariawan, diare 
  • siapkan daun senggani/harendong muda sebanyak 2 lembar, cuci bersih lalu bilas dengan air matang,
  • beri sedikit garam lalu kunyah daun tersebut,
  • telan airnya dan buang ampasnya (disepah). 

4. Diare 
  • siapkan daun senggani/harendong muda sebanyak 1 genggam, 5 gr kulit buah manggis, dan 3 lembar daun sembung yang masih segar,
  • semua bahan segar dicuci lalu direbus dengan 1 1/2 gelas air bersih sampai tersisa 1/2 gelas,
  • setelah dingin, saring dan bagi untuk 3 kali minum, yaitu pagi, siang, dan sore. 

5. Bisul 
  • siapkan daun senggani/harendong segar sebanyak 50 gr, lalu direbus.
  • minum air rebusannya, sedang arnpasnya dilumatkan dan dibubuhkan pada bisul, balut agar terhindar dari debu,

6. Menetralkan racun 
  • siapkan singkong akar atau daun senggani/harendong sebanyak 60 gr direbus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas,
  • setelah dingin, disaring lalu minum sekaligus. 

7. Perdarahan rahim 
  • siapkan biji senggani sebanyak 15 gr, lalu digongseng/disangrai (goreng tanpa minyak) sampai hitam,
  • rebus biji tersebut dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas,
  • setelah dingin, saring dan diminum 2 kali sehari, masing-masing 1/2 gelas,
  • ulangi setiap hari sampai sembuh.
Demikian manfaat tanaman/buah harendong bagi kesehatan, semoga bermanfaat.

Thursday, 30 June 2016

Tugu Mahkota Binokasih, Landmark Baru Kota Sumedang

Tugu Mahkota Binokasih
Tugu Binokasih, Sumedang. By instagram @cepra_27
Tugu Mahkota Binokasih, adalah nama sebuah tugu yang kini berdiri gagah di tengah Bundaran Polres Sumedang, Kec. Sumedang Selatan, Ya, dulunya, ketika masih dalam proses pembangunan, bundaran tempat tugu ini berada seringkali disebut Bundaran Polres Sumedang (BPS) karena dibangun di bekas lingkungan kantor Polres Sumedang. Adapun kantor Polres Sumedang sendiri sejak jauh hari sudah dipindahkan ke daerah Karapyak, dekat kantor Induk Pusat Pemerintahan Sumedang.

Di pertengahan tahun 2016, bundaran plus tugu yang pembangunannya dimulai sejak September 2014 ini keindahannya sudah bisa dinikmati khalayak, itu ditandai dengan mulai diaktifkannya air mancur dan lampu-lampu yang menghiasinya. Dengan replika mahkota yang terpancang di puncak tugunya, besar kemungkinan nama bundaran ini juga akan berubah. Meski belum resmi digunakan, menurut kabar yang beredar namanya akan berganti menjadi Bundaran Binokasih, sesuai dengan apa yang tampak secara visual..

Bundaran seluas 7.836 meter persegi ini dibangun di pertemuan empat ruas jalan. Empat ruas jalan yang dimaksud terdiri dari dua ruas jalan nasional dan dua ruas jalan kabupaten, yaitu jalan Pangeran Kornel dan jalan Prabu Gajah Agung/Bypass (ruas jalan nasional), serta jalan Prabu Geusan Ulun dan jalan Cut Nyak Dhien (ruas jalan kabupaten). Dibangunnya bundaran di pertemuan empat ruas jalan diharapkan bisa mengurai kemacetan yang selama ini kerap terjadi, dengannya kendaraan akan lebih mudah bermanuver ke arah yang dituju.

Kenapa disebut Tugu Mahkota Binokasih? Tentu, karena di puncaknya bertengger replika dari lambang kedigjayaan Kerajaan Padjadjaran dimasa lampau, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, yang pada masanya diwariskan ke Kerajaan Sumedang Larang. Masa yang dimaksud adalah masa pecah perang antara Padjadjaran dengan kerajaan lainnya, dimana ketika itu, Padjadjaran perlahan hancur digempur oleh gabungan kekuatan Banten, Cirebon, dan Demak. Terjadi bentrokan besar tak seimbang kala itu yang menyebabkan Padjadjaran porak poranda.
Wilujeng Sumping Makuta Binokasi
Mahkota Binokasih sebelum dipasang di atas tugu
(by instagram @eq_mendayun)
Oleh empat Kandaga Lante kepercayaan Prabu Siliwangi raja Padjadjaran, mahkota Binokasih diselamatkan dengan diboyong ke Sumedang. Mahkota itu lalu diserahkan, diamanatkan pada Prabu Geusan Ulun penguasa Sumedang Larang saat itu. Frame sejarah membingkainya sebagai simbol penyerahan "waris" tahta kerajaan Padjadjaran dan melegitimasi Sumedang Larang sebagai penerusnya. Karenanya, dikemudian hari Sumedang Larang juga mendapat sebutan Padjadjaran Anyar.


Tugu Binokasih dengan replika mahkota seberat 400kg berhiaskan batu giok sekarang menjadi semacam ikon atau landmark baru kota Sumedang setelah Museum Prabu Geusan Ulun, Monumen Lingga, dan Masjid Agung Sumedang di sekitaran alun-alun, dimana ketiganya menjadi saksi bisu perjalanan Sumedang dari masa ke masa. Mahkota Binokasih sendiri kini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, yang teletak sekitar lima puluh meter dari tempat tugu ini berada.

Jauh sebelumnya ada diskusi panjang antara budayawan dengan pemegang otoritas, tentang apa yang akan menjadi objek inti dari tugu di Bundaran Polres Sumedang, yang diharapkan bisa menggambarkan Sumedang secara sempurna. Hingga akhirnya, dipilihlah (replika) Mahkota Binokasih untuk bertengger di puncak tugu karena dianggap mewakili kekayaan sejarah dan heritage Sumedang.

Selain bangunan tempo dulu seperti Lingga dan lainnya, di sekitaran Sumedang kota, tugu Binokasih ini menjadi landmark kedua yang dibuat setelah Taman Endog (yang dibangun sekitar tahun 90-an). Keduanya, tugu Binokasih dan Taman Endog, mempunyai filosofi tersendiri. Jika tugu Binokasih digadang untuk show up kekayaan sejarah Sumedang, maka Taman Endog sejak dulu dimaksudkan sebagai representasi kearifan lokal Sumedang, yang bahkan tak kalah dari konsep yang dikemukakan oleh ilmuwan modern.

Saturday, 18 June 2016

Berkunjung ke "Pantai" Cisema

Tepian Waduk Jatigede di Kampung Cisema
Tepian Waduk Jatigede di Dusun/Kampung Cisema
Sobat warga Sumedang, pernah bermimpi atau berkeinginan Sumedang punya tempat wisata berupa pantai? Kalau admin pribadi, pernah. Dan admin yakin, yang lain juga demikian. Tidak sedikit orang Sumedang, khususnya anak usia sekolah, yang mungkin pernah terlintas dipikirannya “Kenapa kalau piknik (ke pantai) selalu ke Pangandaran? Memang di Sumedang enggak ada pantai ya? Yah, andai Sumedang punya pantai..”, dan ungkapan-ungkapan sejenis.

Pantai Sumedang sebetulnya memang ada, tapi itu bukan di Sumedang melainkan di Kecamatan Ranah Pesisir, Sumatera Barat. Kabupaten Sumedang sendiri termasuk salah satu daerah Priangan yang tidak mempunyai objek wisata berupa pantai. Adapun objek wisata yang ada, kebanyakan mengusung konsep wisata alam (wana wisata) dan wisata sejarah yang kurang menyedot animo wisatawan.

Itu sebabnya, beberapa dekade ke belakang sampai akhir tahun lalu, warga Sumedang hanya bisa bermimpi daerah tempat tinggalnya ini bisa memiliki pantai. Tapi sekarang, angan tersebut sedikitnya sudah bisa terwujud, Sumedang punya pantai! Tapi bukan pantai dalam artian sebenarnya tentunya, melainkan “pantai” yang terbentuk dari tepian/pinggiran Waduk Jatigede.

Ya, Waduk Jatigede, walaupun waduk penuh kontroversi ini belum diresmikan sebagai objek wisata, dan sampai saat ini pengisian airnya bahkan belum selesai, keberadaannya sudah menjadi daya tarik baru bagi Sumedang. Itu terbukti setiap harinya waduk yang jika sudah terisi penuh akan menjadi waduk terbesar ke dua di Indonesia ini, tepian-tepian waduknya yang menyerupa pantai selalu ramai dikunjungi.

Di sana, objek-objek wisata baru banyak bermunculan bak jamur di musim penghujan. Tapi tentu, objek wisata yang dimaksud bukan dikelola oleh swasta ataupun pemilik modal besar, melainkan oleh penduduk setempat yang coba memanfaatkan moment. Salah satu objek wisata seperti yang dimaksud adalah tempat wisata menyerupai pantai di dusun/kampung Cisema, yang bisa dibilang merupakan tempat wisata dadakan seiring tergenangnya area waduk.

Dusun/kampung Cisema di Desa Pakualam Kecamatan Darmaraja, sebagai salah satu tepian Waduk Jatigede, tempat ini ramai dikunjungi pada hari-hari libur. Mereka yang datang biasanya menghabiskan waktu di lokasi dengan memancing atau sekedar makan-makan, ada juga yang penasaran ingin menyusuri beberapa sudut Waduk Jatigede dengan berlayar, menyewa perahu.

Sebagai objek wisata dadakan di pinggiran genangan, tempat wisata ini belum permananen. Air waduk yang terus meninggi setiap harinya membuat warung-warung makan yang ada harus siap bergeser ke tempat yang aman, kapan saja. Sayang, kegiatan “bongkar pasang” warung dan kurangnya sarana kebersihan seperti toilet menjadikan tempat ini terkesan kumuh. Pohon-pohon menjulang tinggi yang belum terendam air sepenuhnya juga mengganggu pemandangan “pantai” yang ada.

Oh ya, di Cisema terdapat salah satu situs sejarah berupa sarkofagus kubur batu peninggalan dari masa Kerajaan Sumedang Larang, situs Cisema Landeuh namanya. Berhubung situs Cisema Landeuh ini berada dalam area genangan dan akan terendam seiring membengkaknya genangan waduk, situs tersebut menurut beberapa sumber akan direlokasi ke komplek situs Cisema Tonggoh (Puncak Damar) yang luput dari genangan.

Cisema hanya salah satu dari sekian banyak "pantai" yang terbentuk dari genangan Waduk Jatigede, seperti Puncak Damar dan Karang Pakuan. Tapi semua hampir sama, belum tertata dengan baik sebagai objek wisata, karena memang belum diperuntukkan/dikhususkan untuk itu. Kedepan, seiring pembenahan kawasan setelah Jatigede selesai digenangi, mudah-mudahan Cisema dan tempat-tempat wisata lain di pinggiran waduk bisa ikut ditata guna kenyamanan pengunjung.

Tuesday, 14 June 2016

Curug Cikidang dan Potensinya

Curug Cikidang di Desa Bangbayang, Situraja
(instagram : @subhanmldi)
Selamat pagi, siang, sore, malam para pecinta alam. Pada artikel sebelumnya, admin coba mengajak sobat untuk mengeksplore salah satu air terjun di Desa Bangbayang yang mempunyai keunikan tersendiri, dimana air terjunnya tidak tercurah tapi menyusur batu, Curug Cipelah namanya. Nah, pada kesempatan kali ini, admin ingin mengajak sobat untuk mengeksplorasi “tetangga” dari Curug Cipelah tersebut, ya, di lokasi tersebut memang ada dua air terjun yang bisa dikatakan cukup berdekatan.
Masih di lokasi yang sama yaitu di Desa Bangbayang Kecamatan Situraja, tidak begitu jauh dari Curug Cipelah kita bisa menemukan air terjun lainnya, Curug Cikidang namanya. Curug Cikidang, berbeda dengan Curug Cipelah yang mempunyai aliran air cenderung slow, pelan, Curug Cikidang ini berbentuk air terjun tunggal dengan guyuran air yang deras. Deburan suara khas di dasar air terjun akan sangat terasa di curug ini. Bonusnya, sama dengan di Curug Cipelah, jika beruntung di lokasi curug ini berada sobat akan ditemani burung-burung liar dengan suaranya yang khas. Jika dikembangkan, bukan tidak mustahil kedua curug tersebut menjadi daya tarik atau potensi wisata Desa Bangbayang.

Sobat berminat datang ke lokasi? Rutenya cukup mudah, dari arah kota, dari jalan utama menuju Kecamatan Situraja, sebelum sampai di pusat kecamatan sobat akan menemukan belokan ke arah kanan, belokan tersebut jadi jalan ke Ambit, hingga ke Desa Bangbayang. Patokannya, belokan tersebut menjadi tempat mangkal ojek, jalannya sedikit menanjak. Setelah sampai Bangbayang, untuk memastikan sobat bisa bertanya pada warga dimana letak Curug Cikidang.

Menuju air terjun yang dimaksud, setelah sampai Bangbayang sobat terus saja melanjutkan perjalanan hingga jalan yang bisa dilalui kendaraan mentok. Nanti akan ada dua jalan, nah di sini sobat akan mengambil rute yang berbeda dengan jalan menuju Curug Cipelah. Ya, seperti admin pernah ceritakan sebelumnya, jika kita mengambil jalan sebelah kiri kita akan sampai ke Curug Cipelah, sedang untuk sampai ke Curug Cikidang ini, sobat harus mengambil jalan yang sebelah kanan.

Bagaimana, sobat? Tertarik untuk mengunjungi Curug Cikidang di Desa Bangbayang ini? Jika iya bolehlah langsung dijajal, tapi jangan lupa sopan santun pada alam dan penduduk sekitar, jangan dirusak dan dikotori, kita jaga bersama keindahan alam Sumedang ini sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan pemilik semesta alam. Jangan corat-coret, jangan buang sampah sembarangan, kalaulah tak mau dibilang kampungan.

Sunday, 12 June 2016

Curug Cipelah, Air Terjun Menyusur Batu

Curug Cipelah di Desa Bangbayang, Situraja
Selamat berakhir pekan para pecinta alam. Kebanyakan dari kita sepakat, bahwa mengunjungi air terjun lebih mengasyikan di musim penghujan daripada di musim kemarau, bukan begitu? ya, apalagi alasannya jika bukan karena debit airnya. Di musim penghujan, sudah dapat dipastikan debit air terjun yang tercurah lebih besar, menjadikannya lebih menarik untuk dilihat.

Dengan debit air yang besar, gemuruhnya air di dasar air terjun akar terdengar lebih melenakan, ataupun jika air terjunnya berbatu-batu, maka benturan air pada batu-batu tersebut akan lebih banyak membuat cipratan, dimana selanjutnya, itu akan lebih mudah juga memunculkan pelangi pada saat-saat tertentu.

Berbicara tentang air terjun yang berbatu-batu, atau air terjunnya turun menyusur bebataun dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, di Sumedang ada air terjun yang serupa dengan ilustrasi tersebut, Curug Cipelah namanya. Curug Cipelah, berlokasi di Desa Bangbayang, Kecamatan Situraja, merupakan curug atau air terjun yang airnya tidak jatuh tercurah secara langsung seperti air terjun pada umumnya. Dari ketinggian sekitar dua puluh meter, air curug ini jatuh menyusur bebatuan yang disusun rapi oleh alam.

Mau menaiki bebatuan itu satu persatu hingga sampai ke atas, ke puncak air terjun? Mungkin bisa saja kalau sobat berani, tapi admin sarankan jangan lakukan itu, karena sangat berbahaya. Meski sepintas terlihat mudah, batu-batu yang ada tentunya sangat licin, berlumut, itu membahayakan keselamatan. Selain itu, dengan menaikinya bukan tidak mustahil pondasi batu yang ada bisa rusak, yang itu berarti akan merusak keindahan curug itu sendiri.

Sobat berminat datang ke lokasi? Rutenya cukup mudah, dari arah kota, dari jalan utama menuju Kecamatan Situraja, sebelum sampai ke pusat kecamatan sobat akan menemukan belokan ke arah kanan, belokan tersebut jadi jalan ke Ambit, hingga ke Desa Bangbayang. Patokannya, belokan tersebut menjadi tempat mangkal ojek, jalannya sedikit menanjak. Setelah sampai Desa Bangbayang, untuk memastikan sobat bisa bertanya dulu pada warga dimana letak Curug Cipelah.

Menuju air terjun yang dimaksud, setelah sampai Desa Bangbayang sobat terus saja melanjutkan perjalanan hingga jalan yang bisa dilalui kendaraan mentok. Nanti akan ada dua jalan, ke kanan ke arah Cikidang, sedang yang ke kiri ke Curug Cipelah. mengambil jalan ke arah kiri, nanti akan ada jembatan, dan jalannya sedikit berbukit, itu (jembatan dan sedikit berbukit) bisa kita jadikan patokan. Jika sobat menemukan ciri tersebut berarti jalan yang diambil sudah benar.

Sepeda motor atau kendaraan yang sobat gunakan bisa dititipkan di rumah-rumah warga terakhir yang bisa ditemui, selanjutnya tinggal melanjutkan dengan berjalan kaki sekitar dua puluh menit, maka sobat akan sampai di lokasi. Pesan admin, karena air terjun ini masih jarang ada yang mengunjungi, banyak-banyaklah bertanya pada warga tentang akses jalannya.

Bagaimana, sobat? Tertarik untuk berkunjung ke Curug Cipelah di Desa Bangbayang ini? Jika iya bolehlah langsung dijajal, tapi jangan lupa sopan santun pada alam dan penduduk sekitar, jangan dirusak dan dikotori, kita jaga bersama keindahan alam Sumedang ini sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan pemilik semesta alam. Jangan corat-coret, jangan buang sampah sembarangan, kalaulah tak mau dibilang kampungan.

*special thanks to instagram @pancacitranugraha