Friday, 6 January 2017

Wayang Werkudara Raksasa, Calon Ikon Baru Sumedang?

Pengerjaan bagian kepala Bima
Pengerjaan bagian kepala Bima
Wayang Werkudara Raksasa, Calon Ikon Baru Sumedang? - Werkudara, atau lebih akrab di telinga dengan nama Bima, apa yang terlintas di benak sobat ketika mendengar nama salah satu anggota Pandawa Lima ini? Tubuh tinggi besar? Kekuatan maha dahsyat? Ya, itulah yang seringkali digambarkan dalam masyhur cerita dewa-dewi dari negeri hindustan, begitu pun dalam cerita pewayangan di Indonesia, yang memang diadaptasi darinya.

Tentu kita mafhum, Pandawa Lima terdiri dari lima orang bersaudara yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Di Indonesia sendiri, entah kenapa, Bima dan Arjuna seperti lebih menonjol, lebih banyak diidolakan, lebih banyak dikenal dibanding tiga anggota Pandawa yang lain. Apa Sobat setuju? Arjuna dengan ketampanannya, dan Bima dengan kekuatannya, mungkin itu jadi salah satu yang mudah diingat.

Pandawa Lima dengan tokoh-tokohnya, banyak menginspirasi seniman dan budayawan di dunia, termasuk di Indonesia. Banyak karya, entah itu patung, lukisan, lagu, film, dan karya fenomenal lainnya, yang intinya mengambil jalur cerita dari epic Mahabrata tersebut. Dan Sumedang sendiri, dengan kesenian Wayang Golek khas Jawa barat-nya, tak mau ketinggalan. Mengambil ciri khas wayang Purwa, adalah Drs. Andi Sukandi, yang berkeinginan membuat patung wayang ikonik dari salah seorang anggota Pandawa Lima, Bima.

Drs. Andi Sukandi, atau akrab dipanggil pak Jajang, seniman asal Kecamatan Pamulihan ini kini tengah menggarap pembuatan wayang golek Bima dengan ukuran yang sangat besar, di kediamannya di Dusun Cimasuk, Pamulihan. Sampai sekarang, proses pembuatan wayang raksasa tersebut baru mencapai sekitar 40%-an. Adapun yang sudah digarap adalah bagian kepala.

Demi mewujudkan ide wayang Bima yang terlintas sejak Februari 2016 ini, sampai saat ini pak Jajang sudah merogoh dana sebesar delapan juta rupiah, murni dari kantongnya sendiri. Ketika admin bertanya, akan jadi sebesar apa wayang Bima ini nantinya? Sepertinya akan jadi satu dua dengan Patung Pangeran Kornel VS H.W Daendels, bahkan lebih besar, katanya.

“Tinggi wayang Wrekodara-nya sendiri sembilan meter, dengan dedasar empat meter, jadi total tingginya adalah tiga belas meter,” Ujarnya sembari memperlihatkan sketsa/gambaran, akan seperti apa wayang ini kelak jika sudah selesai.

Wayang Bima Super Besar, Sumedang
Gambaran wayang jika sudah selesai
Adapaun kenapa Bima tokoh Pandawa yang dipilih tuk dibuat wayang raksasa-nya, Pak Jajang mengatakan bahwa Bima dipilih karena memang lebih akrab dengan imajinasi kebanyakan orang Indonesia, Bima begitu mudah dipersonifikasi kala dibayangkan. Apalagi jelas pula ciri khasnya dalam wayang golek.

“Tubuh tinggi besar, kuku Pancanaka, ular naga Pasa (ular melingkar di leher Bima – wayang golek), semua begitu akrab sebagai bayangan seorang Bima, di kebanyakan benak kita,” Jelasnya.

Itu semua, lanjutnya, juga mengandung banyak filosofi ;

“Badan tinggi besar, menggambarkan kita harus punya cita-cita luhur, juga kuat sebagai individu, punya semangat mengerjakan kebajikan untuk kemaslahatan orang banyak. Bima juga jujur, nyatria (bersifat satria, tidak pengecut), pemberani, tak pernah mundur perjuangkan kebenaran,” Ungkapnya.
Selain itu, tambahnya lagi, kuku Pancanaka merupakan ciri, pengingat, bahwa kita harus memegang yang lima waktu (shalat), dan rukun Islam (yang lima). Sedang ular naga Pasa yang melingkar di leher jadi rambu-rambu, apa yang kita perbuat akan kembari ke diri kita sendiri.

“Barangsiapa mengerjakan keburukan/kejahatan, itu akan kembali pada dirinya sendiri, ular akan mematuk/menggigit pada si empunya, tamiang meulit kana bagia, atau senjata makan tuan,” Terangnya lagi.

Masih berkaitan dengan filosofi, lanjutnya, Bima pada wayang golek juga menggunakan samping (sarung, bawahan)  Bintruaji dengan warna kotak-kotak papan catur. Itu gambaran kehidupan, dimana kebaikan dan keburukan sebenarnya saling melengkapi dan tak bisa dipisahkan dari hidup manusia.

Lain dengan wayang golek yang biasanya menggunakan bahan dari kayu, wayang Bima raksasa ini dibuat menggunakan fiber glas/resin untuk membentuk tampilan wayangnya, sedang rangka dalam menggunakan besi behel.

“Itu supaya awet, kan rencananya nanti pasti disimpan di luar ruangan/di alam terbuka. Jadi pasti kehujanan dan kepanasan, kalau bahannya dari kayu, tidak akan awet,” Jelasnya.

Namun sekarang, bisa dibilang pak Jajang sedikit kesulitan tuk melanjutkan karya luar biasa ini. Bukan apa-apa, mengingat biaya tuk membeli bahan-bahannya sangat besar, dan berhubung sampai saat ini hanya merogoh saku pribadi, wayang raksasa ini jadi tak bisa “digarap” setiap hari. Pak Jajang menyebutkan, jika ditotal, biaya yang diperlukan tuk selesaikan wayang raksasa ini adalah sekitar Rp. 125 juta-an.

“Kalau dengan biaya sendiri pun sebetulnya bisa, tapi pasti proses (pembuatan) nya akan sangat lama,” Ungkapnya.

Karenanya, pak Jajang sangat mengharapkan donasi dari berbagai pihak agar wayang raksasa yang digarap bisa cepat rampung. Jika sudah selesai, wayang raksasa ini akan jadi kebanggaan masyarakat Sumedang, dan mendukung serta mengukuhkan Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda. Dan tidak mustahil pula, wayang dengan ukuran super besar tersebut akan menjadi ikon baru Kabupaten Sumedang.

Rencananya, jika sudah selesai nanti, wayang Bima ini akan ditempatkan di alun-alun Kecamatan Pamulihan, yang sampai saat ini pembangunannya masih dalam tahap perencanaan. Adapun lokasi alun-alun Kecamatan Pamulihan sendiri, kabarnya akan dibangun di sekitaran daerah Simpang, dekat pertigaan ke arah Parakan Muncang.

“Soal penempatan dan lain-lain, itu sudah dikomunikasikan dengan Pak Camat dan pihak-pihak terkait,” Pungkasnya.

Wal akhir, wayang merupakan ikon nasional yang sudah diakui oleh PBB melalui UNESCO. Sedang wayang golek yang merupakan salah satu jenisnya, adalah ikon Jawa Barat, juga ikon Sumedang dalam skup yang lebih kecil. Tentu akan jadi sebuah kebanggaan jika kita bisa melihat wayang raksasa yang ikonik ini jadi salah satu daya tarik Sumedang. Dan tentu, lebih membanggakan lagi jika kita bisa ikut berpartisipasi dalam pembuatannya, melalui donasi.

Karenanya, jika diantara sobat ada yang ingin ikut berpartisipasi memberi donasi, bahan-bahan yang diperlukan tuk menyelesaikan wayang Bima ini antara lain adalah sebagai berikut ;

  • Besi 6 mm, 8 mm, dan 10 mm
  • Fiber glas/resin,
  • Rhodolsil Silicon Friduc Francis, dan
  • Alat-alat kerja seperti trapo, las listrik, dan lain-lain (karena sampai sekarang pengerjaan masih dilakukan secara manual tradisional, kurang efisien)

Adapun jika ada diantara sobat ada yang ingin berdonasi dalam bentuk barang seperti di atas, bisa dikirim langsung ke alamat pak Jajang, dan ataupun jika ingin berdonasi dalam bentuk uang, bisa mengirimnya lewat nomor rekening, dan jangan lupa mengkonfirmasinya (dalam hal ini lewat BBM). Berikut adalah alamat, nomor rekening, dan kontak BBM untuk donasi wayang Bima raksasa.

Dusun Cimasuk 2 RT 02 RW 03, Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan (depan kantor desa/Puskesmas Pamulihan) Kabupaten Sumedang.

No rekening : BNI 0317042839 atas nama Andi Sukandi


Konfirmasi melalui PIN BBM D073435D,
atau akun Facebook Jas

Sunday, 4 December 2016

Situ Cihayam Hideung, Surga Tersembunyi di Desa Jingkang

Situ Cihayam Hideung By IG @tajulapuy
Damai, itu yang pertama terlintas di benak jika kita mengunjungi tempat ini. Tak ada deru kendaraan, tak ada bising khas pinggiran jalan, bahkan di detik-detik tertentu hanya detak jantung sendiri saja yang terdengar disela desiran angin. Adapun suara lain yang menyela, itu khas dari alam dengan nada memanja, sahut-sahutan katak dan cerewetnya burung-burung.

Karenanya, situ (danau) Cihayam Hideung, situ yang terletak di Dusun Jingkang, Desa Jingkang Kecamatan Tanjungmedar ini memang dirasa cocok tuk menenangkan pikiran, merehatkan tegangnya syaraf akibat padatnya rutinitas, bagai surga bagi siapa saja yang merindukan ketenangan. Ya, karena danau ini terhitung masih perawan, masih sangat-sangat jarang yang berkunjung ke tempat ini, termasuk warga Tanjungmedarnya sendiri.

"Jangan sendiri kalau mau ke Cihayam Hideung," demikian nasehat penduduk sekitar ketika admin bertanya tentang situ ini. Itu sempat membuat admin penasaran, tapi ketika admin bertanya "kenapa?" Admin hanya menjawab jawaban simpel "Maklumlah, ini di lembur (pelosok desa), selalu ada saja cerita-cerita," demikian dan tak ada penjabaran lebih lanjut.

Nasehat itu memang multitafsir, tapi kebanyakan dari kita pasti menafsir dan mengkait-kaitkannya dengan hal mistis, begitu bukan? Apalagi nama situ ini "Cihayam Hideung"yang berarti Ayam Hitam. Ayam Hitam, bagi sebagian orang nama ini bisa saja menggiring pikiran ke  arah "klenik". Tapi itu sah-sah saja tergantung individunya, lagipula tempat ini jarang dikunjungi orang,

Hanya ada beberapa rumah saja di sekitaran situ ini, yang lain terpaut jauh terhalang kebun dan hutan. Mereka yang rumahnya dekat dengan situ ini pun siang hari pergi ke sawah atau ladang, sehingga praktis danau yang airnya dialirkan untuk kebutuhan warga ini hampir selalu sepi. Adapun pengunjung hanya mereka yang berniat memancing ikan, selebihnya tak ada yang lain.

Jika keadaan danau dihubungkan dengan nasehat tadi, jangan sendiri ke tempat ini, tentu itu bisa dimaknai agar kita lebih waspada, lebih konsentrasi dan "aya batur pakumaha" jika saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di danau yang selalau sepi ini. Itu lebih rasional.

Lalu soal nama, Cihayam Hideung, itu juga tak ada sangkut pautnya dengan hal mistis. Adapun dinamai demikian, karena memang berada di blok Cihayam Hideung, airnya juga terlihat hitam karena lumut dan tumbuhan air.

Untuk sampai ke danau ini, kita bisa menggunakan akses jalan dari Desa Jingkang ataupun dari Desa Kamal. Sebagian akses jalannya sudah bagus diplitur dan mudah dilalui kendaraan roda dua, tapi memang sebagian jalannya lagi tetap harus ditempuh dengan berjalan kaki dan akan sangat-sangat licin di musim penghujan, jadi memang, jangan sendiri jika ingin ke tempat ini, berbahaya!!

Saturday, 19 November 2016

Buah Khas Sumedang Ramaikan Fruit Indonesia 2016

Presiden Jokowi dalam opening Fruit Indonesia 2016
Buah Khas Sumedang Ramaikan Fruit Indonesia 2016 - Pada tanggal 17-20 November 2016 ini, Indonesia kembali mendunia-kan buah khas Nusantara melalui event Fruit Indonesia 2016 (dulunya bernama Festival Buah dan Bunga Nusantara/FBBN Internasional) yang bertempat di Senayan, Jakarta. Kementan dan Institut Pertanian Bogor, merupakan pihak-pihak yang bekerjasama dalam menyelenggarakan festival ini.

Dalam sambutannya pada gelaran yang menampilkan kekayaan buah Indonesia ini, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menyampaikan pesan agar event yang sedang berlangsung menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia, karena event Fruit Indonesia memang diproyeksikan sebagai ajang untuk meningkatkan nilai ekspor buah-buah segar Nusantara, yang memang semakin bertumbuh dari tahun ke tahun.

Dalam gelarannya, Fruit Indonesia 2016 menjadi salah satu kegiatan pendukung Gerakan Revolusi Oranye yang dicanangkan pemerintah Indonesia. Gerakan Revolusi Orange sendiri merupakan gerakan pengembangan buah Nusantara dalam skala perkebunan, ini dilakukan demi mengurangi ketergantungan akan buah impor dan agar masyarakat makin mencintai buah tropis asli Nusantara.

Berkaitan dengan event Fruit Indonesia 2016 ini, Sumedang sebagai salah satu penghasil buah khas daerah juga ikut andil dalam memeriahkan event tersebut. Melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Sumedang ikut show up potensi buah yang dimiliki.

Buah khas Sumedang yang ikut dipamerkan dalam festival tersebut antara lain adalah sawo Sukatali, buah naga, jeruk Cikoneng, dan jambu batu kristal. Adapun mangga gedong gincu yang telah mendapat sertifikat indikasi geografis tiga daerah mewakili Kabupaten Majalengka sebagai daerah penghasilnya.
Salah seorang pegawai Dinas Pertanian Sumedang,
di Stan buah Jawa Barat

Buah khas Sumedang yang dihadirkan pada event Fruit Indonesia 2016 ini mengambil sampel dari hasil panen kelompok-kelompok tani yang ada, sesuai garapannya, seperti Sawo Sukatali dari Kelompok Tani Sugih, buah naga dari Kelompok Tani Simpay Tampomas, dan jambu batu kristal dari Kelompok Tani Rimba Mulya I.

Dari ketiga buah khas Sumedang yang disebut di atas, ada satu buah yang bagi Sumedang sendiri sebenarnya merupakan "pendatang baru". Yap, buah itu adalah jambu kristal!

Ya, sebelumnya Sumedang sama sekali  tidak dikenal sebagai daerah penghasil jambu kristal atau jambu batu kristal. Adapun jenis jambu yang ditemukan pada tahun 1991 di District Kao Shiung -Taiwan dan diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1991 ini masuk dalam kategori dan diikutsertakan dalam event adalah karena Sumedang memang sedang gencar-gencarnya membudidayakan jambu jenis tersebut. Beberapa daerah yang menjadi sentra pengembangannya adalah Kecamatan Tomo dan Pamulihan, sejak sekitaran tahun 2010.

Dan bagi dua buah lainnya yaitu buah naga dan sawo Sukatali, memang sudah sejak lama menjadi ikon buah unggulan Kabupaten Sumedang. Kisah fenomenal Simpay Tampomas yang berhasil menyulap lahan gersang eks galian tipe C menjadi berdaya guna, seketika melambungkan buah naga hasil garapannya. Sedang sawo Sukatali sudah sejak lama punya kisah yang melegenda. Mudah-mudahan, jambu kristal Sumedang juga bisa ikut menyusul popularitas keduanya.

Dikutip dari bisnis.com, dikatakan beberapa negara yang ikut hadir pada event tersebut meliputi negara-negara ASEAN, Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, negara kawasan Timur Tengah, Australia, Selandia Baru dan dari benua Eropa serta Amerika.

Thursday, 3 November 2016

Cideukeut, Belantara yang Memikat

Cideukeut, Belantara yang Memikat
Cideukeut, Belantara yang Memikat
Cideukeut, menurut admin daerah ini jadi salah satu spot atau titik yang menarik untuk dikunjungi di Kecamatan Paseh. Kenapa demikian? Karena keadaan alamnya berbeda sendiri dengan lingkungan sekitarnya, dimana daerahnya berupa hutan yang berada di tengah pemukiman dan sawah-sawah.

Menarik memang, Cideukeut yang terletak di Desa Cijambe, Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang ini mempunyai vegetasi tumbuhan yang beraneka ragam. Bahkan, banyak diantara pohon-pohonnya menjulang tinggi dan diperkirakan berusia ratusan tahun. Ketika pohon-pohon besar itu berpadu dengam semak, paku-pakuan, dan tumbuhan liar lainnya, itu menciptakan kesan "leuweung geledegan", ia jadi hutan belantara yang berada di tengah-tengah desa.

Tapi tak perlu takut jika ingin datang atau melewati tempat ini, karena meski mempunyai kesan belantara, ia "dibelah" oleh jalan penghubung desa dan diapit oleh rumah serta sawah penduduk. Jalan yang membelah Cideukeut pun bukan jalan mati, ia terus menerus dilewati kendaraan meski tak seramai jalan-jalan yang lain.

Tapi memang, jeda antar kendaraan yang lewat bisa berlangsung lama. Pada saat itulah sobat bisa merasakan sensasi sepi yang benar-benar sepi di sini, bahkan terkadang tanpa suara serangga khas hutan sekalipun. Entah, tapi admin sendiri merasakan aura yang berbeda di tempat ini, tepatnya ketika tak ada seorang pengunjung pun, dan tak ada suara kendaraan yang lewat memecah hening. Kesan itu diperkuat pohon Ki Hujan dan pohon-pohon besar lain yang benar-benar menutup langit dan memberi suasana berbeda, apalagi akar-akar besar menyembul disana-sini.

Di tepi hutan Cideukeut, terdapat kolam-kolam yang seperti tergenang dan tidak mengalirkan air. Admin kurang tahu, ada yang mengatakan kolam yang terdekat dan bersentuhan langsung dengan tepi hutan merupakan sebuah mata air, tapi admin tidak melihat kolam tersebut mengalirkan air ke kolam-kolam lainnya layaknya sebuah mata air. Mungkin, itu saking kecilnya debit air yang keluar dari tempat tersebut.
Menghabiskan waktu dekat mata air Cideukeut
Menghabiskan waktu dekat mata air Cideukeut
Kolam pertama yang katanya mata air itu, tampak sama tergenang seperti yang lain, dengan lumut dan banyak ikan di dalamnya. Selain itu warna airnya juga keruh, tidak seperti mata air kebanyakan yang mengalirkan air jernih.

Jika ada yang datang ke tempat ini, di dekat kolam mata air inilah biasanya mereka menghabiskan waktu dengan berbincang atau melakukan hal lain. Kebanyakan melakukannya di atas sepeda motor dan tak menyengaja duduk-duduk di lokasi. Tak banyak yang menyengaja datang ke tempat ini selain anak sekolah yang menghabiskan waktu dan mereka yang berniat untuk mandi, karenanya tak heran jika Cideukeut ini terkesan sangat sepi.

Admin sempat berbincang dengan Camat Paseh periode terdahulu, bapak M. Wasman. Beliau mengatakan, bahwa kawasan Cideukeut ini sangat-sangat potensial untuk dijadikan semacam daerah wana wisata. Ya, karena dilihat dari letak dan dan keunikannya, Cideukeut sangat memungkinkan untuk menarik minat wisatawan. Tapi memang, perlu upaya lebih dan serius untuk itu, dimana dukungan dari berbagai pihak juga sangat diperlukan.

Situs Cipinang Pait

Situs Cipinang Pait
Situs Cipinang Pait
Situs Cipinang Pait, merupakan salah satu situs yang berada di Kecamatan Ujung Jaya, Kabupaten Sumedang. Berada di Dusun Cipinang Pait, Desa Cibuluh, situs ini terdiri dari beberapa makam yang ditempatkan dalam satu area.

Sejauh ini, dikarenakan kurangnya informasi yang admin dapat, admin belum mengetahui siapa saja yang dimakamkan di situs tersebut dan bagaimana cerita sejarah dibaliknya. Namun salah seorang penduduk setempat mengatakan, situs Cipinang Pait merupakan pindahan atau relokasi dari daerah lain, dimana yang dimakamkan di situs tersebut mempunyai satu ikatan darah atau satu keluarga. Dan memang benar, di papan informasi ada, tertera nama situs "Situs Cipinang Pait, Relokasi dari Situs Sukagalih".

Sobat ada yang mengetahui siapa saja dan bagaimana cerita sejarah dibalik situs ini? Admin tunggu masukannya di kolom komentar.

Monday, 31 October 2016

Mitos Lulut, Ulat Pembawa Keberuntungan

ulat lulut emas
Ulat Lulut Emas
Mitos Lulut, Ulat Pembawa Keberuntungan - Lulut, apa diantara sobat ada yang pernah melihat binatang ini? Sepintas rupanya seperti ulat, ulat jengkal tepatnya, tapi ukuran tubuhnya relatif lebih kecil, mirip belatung. Berdasar pengalaman mereka yang pernah melihat, lulut biasanya muncul pagi hari ketika udara sedang dingin-dinginnya di musim penghujan. Ia biasanya muncul di kebun-kebun, hutan, atau pekarangan rumah yang lembab dan penuh tumbuhan.

Berdasar dari itu, melihat dari bentuk tubuhnya pula, binatang ini sepertinya memang menyukai habitat lembab, gembur, dan basah. Karenanya seiring banyaknya lahan yang beralih fungsi menjadi rumah, jalan, dan lain sebagainya, lulut juga semakin jarang terlihat. Bahkan mereka orang-orang yang termasuk usia sepuh pun mengaku hanya pernah sekali dua kali saja melihatnya. Itu pertanda bahwa binatang yang selalu muncul bergerombol ini memang sudah semakin langka.

Ya, lulut selalu muncul dalam koloni, diperkiran satu gerombol bisa mencapai jumlah ribuan ekor lulut. Entah darimana asalnya tapi ketika mereka menapaki sebuah area, mereka selalu jalan bergerombol seperti mengikuti satu pemimpin. Jika, terusik sedikit saja, mereka akan langsung berpencar seperti rombongan pasukan yang membubarkan diri. Lulut konon terdiri dari dua jenis, yaitu lulut hitam dan lulut emas.

Di tatar Sunda umumnya dan Sumedang khususnya, lulut emas sangat lekat dengan sebuah kepercayaan, dimana kepercayaan tersebut muncul dari kearifan lokal daerah setempat. Kepercayaan yang juga berbalut mitos tentang binatang ini diantaranya adalah sebagai pembawa keberuntungan, Ya, lulut didaulat sebagai binatang pembawa hoki!

Orang tua dulu menyebut, mana saja pekarangan atau kebun yang dilewati binatang ini, akan membawa rejeki. Adapun jika yang dilewati gerombolan lulut tersebut adalah pekarangan rumah seorang pedagang, maka usahanya akan laris manis, dimana pembeli akan berduyun membeli seperti rupa lulut yang selalu berduyun dan bergerombol. Karenannya, siapa saja yang melihat binatang ini sangat-sangat dilarang untuk membunuhnya, pamali!
Segerombol Ulat Lulut Emas
Segerombol Ulat Lulut Emas
Tapi benarkah demikian? Benarkah lulut membawa hoki? Benarkah siapa saja yang melihat dan tidak membunuhnya akan diliputi keberuntungan hidup? Entahlah. Tapi sepintas dari larangan yang disebut orang tua jaman dulu itu terlihat, bahwa dilarang keras untuk membunuh binatang ini. Tentu, itu berdasar pada kasih sayang pada sesama makhluk hidup, manusia akan dicap sangat jahat di alam langit jika berani membunuh ribuan makhluk yang sama sekali tak mengganggu ini.

Mungkin, pesan itulah yang sebenarnya ingin disampaikan. Adapun "membawa keberuntungan" adalah bumbu yang disesuaikan dengan zamannya. Lagipula memang suatu keberuntungan, jika terhindar dari dosa membunuh ribuan makhluk yang sama sekali tak mengganggu.

Sepintas memang sangat mudah membasmi segerombol lulut karena binatang ini bergerak relatif lambat. Disiram bensin dan dibakar pun mereka yang ribuan jumlahnya akan langsung habis. Atau datangkan ayam ke lokasi kemunculannya, mereka akan langsung habis dimakan. Bukan apa-apa, dorongan untuk membunuh makhluk ini biasanya sangat besar, mengingat rupanya yang menjijikkan bagi sebagian orang dan membuat bergidik. Jadi larangan untuk membunuh lulut, semata-mata hanya untuk melindungi keberadaannya, agar tetap lestari. Karena sekecil apapun makhluk pasti punya andil dalam menjaga keseimbangan ekosistem, apalagi lulut sudah jarang bisa ditemui, termasuk langka.

Sayangnya, banyak yang salah kaprah mengartikan anjuran dan pamali dari karuhun terkait larangan membunuh lulut ini. Dilarang membunuh lulut memang dilaksanakan, tapi embel-embel "akan membawa hoki" membuat sisi tamak manusia terlihat. Seperti misal, lulut yang muncul memang tidak dibunuh, tapi diambil dan disimpan dalam sebuah wadah untuk kemudian dipelihara, diberi pakan. Bukankah itu tetap menyalahi apa-apa yang dianjurkan? Karena sejatinya dilarang untuk membunuh lulut adalah agar binatang ini tidak punah dan bisa berkembang biak di alam bebas.

Lulut, meski sekilas tampak menjijikkan tapi mereka tidak mengganggu. Mereka akan hilang beberapa saat setelah kemunculannya. Gerombolan binatang ini akan raib dengan sendirinya tanpa harus diusir-usir. Adapun jejak yang ditinggalkan biasanya dalah berupa tapak basah berupa lendir yang mudah mengering, mirip tapak keong atau bekicot.

Sekian, semoga bermanfaat.