Sunday, 11 September 2016

Mak Yayah Sang Tabib Cacing

Mak Yayah di kediamannya, bersama beberapa gelas jus cacing 
yang sudah dihabiskan pasien, juga yang siap dibawa pulang
Mak Yayah Sang Tabib Cacing Sumedang - Cacing, apa yang pertama terlintas di pikiran sobat ketika mendengar nama binatang yang satu ini? Geli? Kenyal? Kotor? Itu tidak sepenuhnya salah, karena rasanya memang itulah gambaran yang paling umum. Tapi sudah bukan rahasia juga, cacing, binatang yang tak pernah berhenti menggeliat ini juga seringkali dijadikan obat alternatif bagi banyak penyakit. Ia dipercaya bisa mengobati berbagai keluhan kesehatan.

Untuk pengobatan alternatif, banyak yang mencoba mengolahnya sendiri, ada juga yang membuka “praktek” pengobatan menggunakan binatang yang sepintas tak memiliki tangan, kaki, mata, dan anggota tubuh lainnya ini. Di Sumedang sendiri, ada yang serupa. Di daerah Gending, terdapat seorang (katakanlah) Tabib yang menggunakan cacing sebagai media pengobatannya. Mak Yayah, begitulah ia biasa dipanggil, beralamat di Jalan Gending No. 18 yang sangat dekat dengan lapangan parkir Gending Futsal, mengaku telah lama membuka praktek pengobatan yang terbilang unik tersebut.

“Emak juga tidak ingat persisnya kapan (memulai praktek pengobatan), tapi kalau tidak salah sih dari sekitar tahun 90-an, jauh sebelum krismon,” Ujarnya. Ibu paruh baya berusia 59 tahun itu mengatakan, sejak saat itu sampai sekarang, selalu ada saja orang yang datang ke rumahnya untuk melakukan pengobatan.

“Tiap hari Alhamdulillah ada saja, paling lama kosong dua hari,” Katanya sembari menerangkan bahwa ia mendapat keahlian pengobatan unik itu dari kakeknya, seperti ilmu yang diwariskan.

Menurutnya, selama ini di Sumedang bukan satu dua yang coba meniru cara pengobatannya, tapi semua gagal. “Alhamdulillah mungkin masih rejeki saya,” Ujarnya sambil menerangkan bahwa ada wirid-wirid tertentu yang selalu ia amalkan untuk menjaga khasiat jus cacingnya.

Mak Yayah menerangkan, banyak penyakit yang bisa diobati menggunakan cacing (seperti yang dipraktekannya), sebut saja lambung, panas, tifus, radang tenggorokan, kolesterol, wasir, sampai diabetes. Cara mengolahnya pun sederhana, dimana cacing segar dihaluskan dan dicampur bersama rempah-rempah untuk menghilangkan bau amisnya.

“Bentuk obatnya sendiri nantinya jadi seperti jus, dijamin tidak pahit atau amis karena ditambah rempah-rempah dan madu,” Terangnya.

Jus cacing buatan Mak Yayah ini tidak bisa didiamkan terlalu lama, kebanyakan mereka yang berobat meminumnya di tempat, adapun jika dibawa pulang, ia hanya bisa bertahan kira-kira 10 jam (pagi-malam) jika disimpan di lemari pendingin. Sejauh ini, menurut pengakuannya, sudah banyak yang merasakan manfaat dari jus cacingnya, dimana mereka yang berobat bukan hanya datang dari Sumedang saja, tapi juga dari Majalengka hingga Bandung, dimana kebanyakan tahu tentang praktek pengobatannya melalui berita dari mulut ke mulut.

Mak Yayah yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu menjelaskan, bahwa cacing yang digunakan dalam pengobatannya adalah cacing kalung yang berukuran besar. Ia juga menegaskan, cacing yang digunakan dijamin bersih dan segar sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

“Tentu cacingnya segar karena tangkapan langsung dari alam. Cara mengolahnya pun seapik mungkin (sehingga dijamin bersih). Cacing yang dipakai (sebelum diolah) harus mulus dan utuh, tidak boleh luka apalagi putus,” Terangnya.

Untuk satu gelas jus cacing, Mak Yayah mematok harga Rp. 30.000. Harga itu dirasa tidak terlalu mahal karena mencari cacingnya pun sulit. Menurutnya, cacing-cacing yang dipakai sama sekali tidak bisa dipelihara atau disimpan terlalu lama. Sehingga untuk stok cacingnya, setiap tiga hari sekali ia minta tolong pada seseorang untuk mencarikan cacing di sawah-sawah dan di tempat-tempat lainnya.

“Ya tentu saja dengan imbalan (menyuruh seseorang mencari cacing). Dalam tiga hari, satu ember cacing Alhamdulillah selalu habis,” Ujarnya. Ia juga menambahkan, jika akan meminum jus cacingnya harus ada jeda sekitar dua jam jika sebelumnya telah meminum obat-obatan kimia.

Ia mengisahkan, mereka yang datang tidak hanya dari itikad sendiri, tapi banyak juga yang dirujuk, atau diarahkan langsung dari rumah sakit tempat pasien pernah dirawat sebelumnya. Hal tersebut diamini oleh salah satu pasien Mak Yayah, Neng, yang kebetulan sedang berkunjung/berobat ke rumah Mak Yayah.

“Iya, saya kemarin bolak-balik dirawat di RS karena tifus dan harus terus check up. Kemarin, ada salah satu petugas kesehatan di RS yang menyarankan datang kesini, jadi mungkin pengobatan Mak Yayah ini memang recomended,” Ucap Neng sambil menyeruput jus cacingnya, wajah pucat pasi masih terlihat jelas di wajah ibu asal Sukatali itu.

“Kalau memang begitu ya Alhamdulillah, berarti terpakai dan (ilmu ini) memang berguna. Semoga yang datang ke sini lekas menemukan kesembuhan,” Pungkas Mak Yayah.

Friday, 19 August 2016

Membaca Gratis Bersama Sapedah Baca

Sapedah Baca, Lapak Baca Mulai Disiapkan
Sapedah Baca, Lapak Baca Mulai Disiapkan
Membaca Gratis Bersama Sapedah Baca - Sapedah Baca, yang dalam bahasa Indonesia berarti sepeda baca, sobat akan menemukan sepeda ini jika berkunjung ke Car Free Night atau Car Free Day di sekitaran alun-alun Sumedang pada Sabtu sore dan Minggu pagi. Sapedah baca tentu bukan sepeda yang bisa dijadikan tempat untuk membaca, karena sepedanya sendiri terparkir, bersandar di pagar atau di tempat lain, dekat dengan buku-buku yang semula dibawanya. Adapun buku-buku yang semula jadi muatan sepeda, sudah tersusun rapi dengan alas sederhana, mirip lapak milik pedagang kaki lima, di salah satu sudut alas buku itu terpampang sebuah lipatan kertas bertuliskan "Membaca Gratis".

Ipul Saepulloh, atau biasa dipanggil Ipul, adalah sosok yang menghadirkan buku-buku tersebut untuk dibaca para pengunjung CFN dan CFD Sumedang. Agar buku-bukunya bisa sampai ke depan mata pengunjung, ia mengayuh sepeda penuh muatan buku setiap Sabtu sore dan Minggu pagi dari arah Talun Kec. Sumedang Utara menuju Alun-alun Sumedang di Kec. Sumedang Selatan. Itu mulai dilakukannya sejak hari-hari pertama di bulan Ramadhan 2016 kemarin, dimana awalnya, niatan untuk membuka lapak baca mulai terbersit, ketika dirinya melihat banyak anak usia sekolah di sekitaran kontrakannya bermain begitu saja sepulang sekolah.

"Daripada pulang sekolah main-main enggak jelas, kan lebih baik membaca buku. Dulu pas Ramadhan, awalnya saya membuka lapak Sabtu dan Minggu sore, saya namain kegiatannya ngabuburead," Ujar Ipul ketika ditanya kapan ia mulai membuka lapak Sapedah Baca-nya.

Yang mengagumkan, jika kebanyakan orang membuka lapak di CFN dan CFD untuk membidik koin-koin dan lembar-lembar rupiah yang berkeliaran, maka tidak demikian dengan pemuda yang satu ini. Dengan judul "Membaca Gratis" di lipatan kertas yang sesekali bergoyang diterpa angin itu, tentu tak ada sedikitpun pundi-pundi rupiah yang masuk ke kantongnya, ia berderma dengan apa yang ia bawa. Datang ke CFD hanya untuk berolahraga, bersepeda, tapi sekalian saja membawa buku supaya bisa berbagi dengan yang lain, begitu katanya.

"Enggak, enggak mikir kesitu (ikut berjualan di CFD), uang mah bisa dicari lagi (dengan cara yang lain), disini berbagi saja dulu," Begitu Ipul yang kerap mengenakan iket kepala itu menjawab. Jawaban itu menegaskan, ia yang juga berwirausaha itu sama sekali tidak keberatan membagi waktu yang sebetulnya bisa ia pergunakan untuk usaha/bekerja.
Lapak Baca Mulai Ramai Didatangi Pengunjung CFD
Lapak Baca Mulai Ramai Didatangi Pengunjung CFD
Ketika ditanya darimana datangnya ide atau konsep "Sapedah Baca" untuk mengajak pengunjung CFD agar rajin membaca, ia menjawab itu berawal dari keinginan membuka sebuah taman baca di kontrakannya, tapi karena saat itu  jumlah buku dan perlengkapan lainnya masih sangat kurang, maka Sapedah Baca menjadi pilihan untuk menyambung keinginan tersebut. Dan sejak saat itu mulailah ia membawa buku-buku koleksi pribadi, ditambah beberapa buku baru yang sengaja dibeli, untuk dihadirkan ke tengah riuhnya hari libur di Alun-alun Sumedang.

"Mulanya ya dari melihat anak-anak yang bermain sepulang sekolah itu, sayang waktunya dihabiskan untuk bermain. Saya pikir sepertinya bagus kalau membuat semacam taman baca, karena banyak anak-anak di sana. Tapi sekarang mah sudah ada (taman baca) walau sederhana, namanya Panti Baca Ceria. Bertempat di daerah Talun," Ungkapnya saat menjelaskan bahwa saat ini keinginannya membuka sebuah taman baca sudah mulai terwujud. Dan sekarang, Sapedah Baca justru menjadi bagian dari kegiatan taman baca Panti Baca Ceria yang dibuatnya itu.

Ketika ditanya kenapa tetap "melapak" walau taman baca yang diimpikannya sudah mulai terwujud, untuk tetap berbagi keceriaan di CFD, karena dari CFD juga donasi buku-buku mulai berdatangan, begitu ia yang gemar ngabolang itu menjawab. Dengan tetap setia meluangkan waktu untuk Sapedah Baca dan Panti Baca Ceria, makin kesini makin banyak yang mendonasikan buku, sehingga buku yang bisa dibawa menggunakan Sapedah Baca pun semakin bertambah.

Bahkan, menurut jejaka yang juga akrab dipanggil Ipul Newgelo itu, mereka yang mendonasikan buku bukan hanya dari Sumedang saja, tapi juga dari luar Sumedang. Sekarang, sekitar 100 buku ia bawa ke gelaran CFN dan CFD setiap minggunya. Sayang, semangatnya untuk berbagi kurang bersambut di setiap gelaran dimaksud.

"Kalau dilihat-lihat sih, antusiasme pengunjung (untuk ikut membaca) masih kurang. Tapi respon dari sekitar sejauh ini cukup bagus. Lagipula ini kan baru permulaan," Jawabnya dengan senyum menyirat rasa optimis.

****

Sebaik-baik manusia adalah ia yang memberi manfaat bagi orang lain, bagi sesama, bagi lingkungan sekitar, begitu sabda baginda Muhammad SAW, begitu pula kata pepatah. Seperti yang Kang Ipul lakukan, untuk demikian tentu bisa kita lakukan dengan berbagai cara, dengan apa yang kita mampu, dengan apa yang kita bisa, untuk menjadi sebaik-baik manusia.

Bagi sahabat yang ingin ikut mendonasikan buku guna mendukung Sapedah Baca dan Panti Baca Ceria, donasi bisa dikirim ke alamat di bawah ini dengan terlebih dahulu menghubungi email atau nomor kontak yang tertera. Donasi yang diterima hanya dalam bentuk buku.

Gang Perikanan No.08 RT07 RW03, Kel. Talun, Kec. Sumedang Utara
Email : sapedahbaca@gmail.com - Ponsel : 085340802892

Monday, 15 August 2016

Festival Kuda Renggong se-Jawa Barat 2016

Salah satu Atraksi dalam
Festival Kuda Renggong 2016 Sumedang (by IG @sfn_suherman)
Festival Kuda Renggong Sumedang – Pada hari Minggu 14 Agustus 2016 kemarin, Kabupaten Sumedang mengadakan  Festival Kuda Renggong se-Jawa Barat. Festival tersebut digelar di Lapangan Pacuan Kuda Yayasan Pangeran Sumedang yang berada di daerah Sindang Raja, Sumedang Utara. Walaupun festival baru digelar menjelang siang, penonton tampak antusias berduyun mendatangi tempat dimaksud sejak pagi, cuaca mendung nampak tidak menghalangi antusiasme mereka.

Sebanyak 25 grup Seni Kuda renggong dari 5 kabupaten/kota di Jawa Barat tampil pada helaran tersebut. Grup-grup seni Kuda Renggong tersebut berasal dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Subang, Majalengka, dan Sumedang selaku penyelenggara. Kesenian Kuda Renggong sendiri merupakan kesenian asli asal Kabupaten Sumedang yang seiring waktu menyebar ke seluruh daerah di Jawa Barat.

Dalam gelaran tersebut, juga sekaligus mensosialisasikan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX yang akan diselenggarakan beberapa minggu lagi, dimana Kabupaten Sumedang bertindak sebagai salah satu tuan rumah. Dalam kegiatan ini pula, melihat antusiasme pengunjung, utamanya kaula muda yang datang, diharapkan Pemerintah Kabupaten Sumedang dapat meningkatkan sarana dan prasarana yang ada di Pacuan Kuda Sumedang sebagai pusat pembinaan para atlet dan seniman kuda Sumedang. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan berkesinambungan dan regenerasi tetap terjaga, apalagi festival ini sudah menjadi agenda rutin tiap tahunnya.

Pewarisan kesenian tradisional Kuda Renggong memang harus secara intens dilakukan agar kesenian tersebut dapat dipertahankan dan dilestarikan, apalagi, dewasa ini gempuran budaya dari luar begitu merajalela dan selera generasi pun sudah bergeser. Dan festival yang diselenggarakan Paguyuban Kuda Renggong Kabupaten Sumedang (Paskures) serta Pordasi Jabar ini menunjukan bahwa ada upaya semua pihak untuk melestarikan dan memelihara kesenian tradisional ini

Yang membanggakan, berdasarkan informasi dari harian Pikiran Rakyat, kesenian Kuda Renggong sejak Mei 2015 sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pemberian sertifikat penetapan bernomor 1539908 dari perwakilan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan-nya sendiri dilaksanakan pada acara Festival Seni Kuda Renggong se-Kabupaten Sumedang pada Mei 2015 lalu. Dengan demikian, generasi muda, khususnya generasi muda Sumedang harus bisa lebih menjaga dan memelihara Kesenian Kuda Renggong ini.

Friday, 12 August 2016

Lekatkan Kasih di Tanjung Duriat

Salah satu view Tanjung Duriat (By Instagram @aivarhiev)
Waduk Jatigede, jauh sebelum pengerjaannya dimulai kembali sekitar tahun 2000-an, Pemkab Sumedang sudah memproyeksikannya sebagai salah satu objek wisata andalan Kabupaten Sumedang. Dan sekarang setelah waduk digenangi, itu terbukti. Walau belum diresmikan sebagai objek wisata, keberadaannya sudah menjadi daya tarik baru bagi Sumedang, dimana setiap harinya waduk yang jika sudah terisi penuh akan menjadi waduk terbesar ke dua di Indonesia ini selalu ramai dikunjungi para pelancong.

Melihat antusiasme pengunjung, sepertinya apa-apa yang ditargetkan mulai tercapai, waduk yang pembangunannya memakan waktu hingga lebih dari setengah abad ini menjadi objek wisata baru yang menyedot banyak wisatawan. Tak hanya itu, waduk yang limpahan airnya digunakan untuk mengembangkan sektor pertanian di daerah Pantura ini juga memunculkan objek-objek wisata baru di pinggirannya, bagai jamur di musim penghujan. Salah satu tempat wisata seperti yang dimaksud adalah Wisata Tanjung Duriat di Desa Pajagan, Kecamatan Cisitu.

Desa Pajagan sendiri merupakan daerah yang berada di pinggiran Waduk Jatigede. Namun berbeda dengan Cisema yang juga menjadi objek wisata di sekitaran waduk, kontur tanah di Tanjung Duriat jauh lebih tinggi dari area genangan, ini menjadikan keduanya mempunyai daya tarik yang berbeda. Jika di Cisema kita ditawarkan sensasi "wisata air" seperti berperahu, memancing, dan sejenisnya, di Tanjung Duriat kita lebih ditawarkan konsep wisata alam dengan pemandangan berupa landscape Waduk Jatigede sebagai daya tarik utamanya.

Lihat : Berwisata Ke "Pantai" Cisema

Lokasi Tanjung Duriat tidak bersentuhan langsung dengan bibir genangan, karenanya kita bisa menikmati pemandangan Waduk Jatigede dari sudut yang berbeda. Jangan bayangkan udara waduk yang panas, tempat wisata yang berdiri di lahan Perum Perhutani dan merupakan kerjasama antara Perhutani KPH Sumedang dengan LMDH Desa Pajagan ini berada di sebuah bukit dengan vegetasi tumbuhan yang menyejukkan, tempat ini lebih menawarkan nuansa hutan/alam.

Tempat wisata yang masih dalam tahap pembenahan/renovasi ini berada di lokasi yang nyaman dan strategis, dimana panasnya udara waduk tidak terasa tapi keindahan waduknya sendiri bisa dilihat dengan jelas. Tentu, itu membuatnya sangat potensial untuk terus dikembangkan. Dan memang, kedepan, juga akan dibuat camping ground, taman dan lainnya di Tanjung Duriat ini. Untuk memasukinya, kita hanya harus membayar tiket masuk sebesar Rp.5000 ditambah biaya parkir Rp.2000 untuk sepeda motor dan Rp.5000 untuk mobil. Tentu ini menjadi alternatif wisata yang sangat terjangkau di Sumedang.

Tanjung Duriat, unik ya namanya? Orang Sunda mungkin akan mesem-mesem mendengar nama ini, Duriat sendiri dalam bahasa Sunda berarti asmara, kasih sayang. Lalu darimana awal mula tercetusnya nama Tanjung Duriat untuk tempat wisata ini? Ternyata nama ini diambil dari posisi atau letak geografis tempat wisata yang bersangkutan dimana daratannya menjorok ke arah waduk, karenanya ia disebut Tanjung, sama dengan daratan yang menjorok ke lautan.

Sedangkan kata Duriat diambil dari keromantisan yang bisa kita rasakan di tempat ini, ya, karena di sini kita bisa melihat berbagai keindahan, mulai dari terbit sampai terbenamnya bulan dan matahari dengan latar badan bendungan secara utuh, pelangi dikala hujan, sampai pemandangan indah di setiap penjuru tanjung berupa bentangan alam waduk dan pegunungan. Tentu semua keindahan yang ada sangat cocok bagi sepasang kekasih untuk makin merekatkan hubungan mereka. Dari situlah nama Tanjung Duriat terbentuk, tanjung dan duriat menjadi padanan pas untuk mendeskripsikan ciri khas dari tempat wisata ini.

Wednesday, 10 August 2016

Enam Cabang Olahraga PON XIX Akan Dilaksanakan di Sumedang

Kegiatan Paralayang di Batudua, berlatar Waduk Jatigede
Kegiatan Paralayang di Batudua, berlatar Waduk Jatigede (by IG aries.rahmat7)
Kabar PON XIX Sumedang - Dari informasi yang berkembang, jumlah cabang olahraga di Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XIX Jawa Barat yang akan dipertandingkan di wilayah Kabupaten Sumedang terus menerus mengalami perubahan. Awalnya, Sumedang  berkeinginan menjadi tuan rumah dari tiga cabang olahraga yaitu Sepak Takraw, Paralayang, dan BMX (balap sepeda).

Dari ketiga cabang olahraga tersebut, balap sepeda BMX yang tadinya direncanakan akan dilakukan di Sirkuit Batu Korsi nyatanya tidak jadi dilaksanakan di Sumedang. Namun demikian, jumlah cabang olahraga yang akan dipertandingkan di wilayah Sumedang ternyata kembali ditambah oleh olahraga Pencak Silat dan Golf, sehingga total ada empat cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Sumedang.

Dan menurut informasi terakhir, jumlah cabang olahraga yang akan dipertandingkan di wilayah Sumedang kembali bertambah menjadi enam cabang olahraga. Ke-enam cabang olahraga tersebut adalah Paralayang, Gantole, Golf, Pencak Silat, Futsal, dan Tenis Meja. Khusus untuk Paralayang akan diadakan di dua tempat yaitu di Batu Dua Kecamatan Cisitu dan Kampung Toga Kecamatan Sumedang Selatan, sementara Gantole hanya akan dilaksanakan di Batu Dua Cisitu.

Sementara itu, sisa empat cabang olahraga lainnya akan dilaksanakan di daerah Kecamatan Jatinangor. Rinciannya, cabang olahraga Golf akan dilakukan di lapangan golf Bandung Giri Gahana, cabang olahraga Pencak Silat dilaksanakan di Graha Satria ITB Jatinangor, cabang olahraga Futsal bertempat di lapang fursal  ITB Jatinangor, dan tenis meja dipertandingkan di GOR 3 ITB Jatinangor.

Semua tempat yang akan dipakai untuk gelaran tersebut sudah dibenahi secara maksimal, dan telah di uji coba dipakai dalam event-event olahraga pra-PON. Dengan itu, diharapkan, PON XIX Jawa barat yang akan dilaksanakan tanggal  17-29 September 2016, dimana Sumedang bertindak sebagai salah satu tuan rumah, akan menemui kelancaran hingga gelaran usai.

Sumber : ciburuan.wordpress.com

Monday, 8 August 2016

Sumedang di Tiga Zaman

Suasana rapat, Sumedang tempo dulu
Suasana rapat, Sumedang tempo dulu
Sumedang tempo dulu, atau dalam ejaan lama ditulis Soemedang tempoe doeloe, yang seringkali diidentikkan dengan Sumedang pada masa penjajahan - kemerdekaan, sampai sekarang tidak banyak yang terpublikasikan dari masa-masa tersebut. Adapun beberapa yang masih dapat diakses (dilihat/diketahui) oleh umum diantaranya adalah foto-foto lama yang tersebar di beberapa web/blog, atau juga akun-akun media sosial, yang itu pun sebetulnya berasal atau hasil meng-copy dari web-web luar negeri seperti Tropenmuseum dan KITLV.

Adapun teks-teks berupa cerita (sejarah) Sumedang pada masa itu pun juga mengalami hal yang serupa, ia luput begitu saja, hampir tak ada sumber bacaan yang menceritakan perjuangan rakyat Sumedang pada masa penjajahan sampai kemerdekaan. Uniknya, tentang Sumedang, masa yang jauh lebih ke belakang, yaitu masa-masa zaman kerajaan, justru lebih banyak tercatat, lebih banyak ditulis, tidak sulit jika kita ingin mencari tahu bagaimana Sumedang di masa kerajaan, bukan begitu?

Ya, tidak seperti daerah-daerah lain seperti Bandung, Surabaya, dan lain-lain yang cerita sejarah menjelang kemerdekaan (Indonesia)-nya begitu mengharu biru dan menasional, Sumedang menjadi salah satu daerah yang "padam", seolah tidak terlibat dalam kejadian demi kejadiannya. Sangat sedikit riwayat yang menceritakannya kalaulah tidak mau dibilang tak terdengar sama sekali. Adapun jika ada, itu hanya cerita dari mulut ke mulut di daerah Sumedang sendiri.

Padahal, banyaknya peninggalan Belanda dan Jepang di Sumedang berupa senjata-senjata berat/altileri sampai benteng-benteng pertahanan dan benteng serang menjadi bukti bahwa Sumedang menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan dan dijaga super ketat oleh penjajah. Pada masa menjelang kemerdekaan pun demikian, tiap daerah di Sumedang tentu menjadi kantong-kantong bambu runcing sama seperti yang lainnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, admin mendapat kiriman dari akun Facebook Desa Nagrak tentang Sumedang tempoe doeloe yang terdokumentasikan dalam beberapa buah foto. Sedikit banyak foto tersebut memberikan gambaran bagaimana Sumedang di jaman penjajahan dan kemerdekaan. Baiklah, kita langsung saja, yang pertama adalah stempel tiga masa/zaman yang pernah berlaku di Sumedang ;
Stempel tiga zaman, Soemedang tempoe doeloe
Stempel tiga zaman, Sumedang tempo dulu
Dari kiri ke kanan secara berurutan merupakan specimen stempel tiga zaman yang pernah berlaku di Sumedang. Yang pertama atau yang paling kiri adalah stempel yang digunakan pemerintah daerah Sumedang pada zaman penjajahan Belanda. Bergeser ke tengah, merupakan stempel yang digunakan pemerintah daerah Sumedang pada zaman penjajahan Jepang. Dan yang terakhir yang berada paling kanan adalah stempel yang digunakan pemerintah daerah Sumedang pada masa-masa awal kemerdekaan.

Stempel sendiri merupakan alat untuk melakukan pengesahan, baik itu suatu data, catatan, berkas, atau surat keterangan resmi. Sebetulnya ia bisa dipergunakan seluruh kalangan mulai dari toko, sekolah, kantor, dinas pemerintah, dan instansi lainnya. Dan dengan stempel dari tiga zaman ini, menunjukkan bahwa Sumedang telah eksis menjadi sebuah daerah yang memiliki keteraturan hukum pada masanya. Adapun logo yang ada pada stempel, disesuaikan dengan pihak yang sedang berkuasa pada saat itu.

Foto Sumedang tempo dulu lainnya, memperlihatkan suasana pertemuan di sebuah ruangan. Tidak ada keterangan resmi tentang apa yang sedang dilakukan orang-orang dalam foto, namun menurut keterangan admin Desa Nagrak, foto ini memperlihatkan suasana rapat konsolidasi di gedung pemerintahan Sumedang pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Berikut beberapa diantaranya ;
Suasana rapat, Sumedang tempo dulu
Suasana rapat, Sumedang tempo dulu
Suasana rapat, Sumedang tempo dulu
Suasana rapat, Sumedang tempo dulu
Anak-anak muda sekarang mengatakan, salah satu cara untuk eksis adalah dengan berfoto dan rajin mengunggah foto-foto tersebut ke dunia maya. Karenanya, lewat mengunggah foto Sumedang tempo dulu yang special (karena belum pernah dipublikasikan lebih luas) ini dalam blog, semoga bisa menunjukkan, bahwa pada masa-masa yang sedikit sekali terceritakan itu, Sumedang juga telah eksis sebagai sebuah daerah yang ikut terlibat dalam kejadian demi kejadiannya.