Sunday, 4 December 2016

Situ Cihayam Hideung, Surga Tersembunyi di Desa Jingkang

Situ Cihayam Hideung By IG @tajulapuy
Damai, itu yang pertama terlintas di benak jika kita mengunjungi tempat ini. Tak ada deru kendaraan, tak ada bising khas pinggiran jalan, bahkan di detik-detik tertentu hanya detak jantung sendiri saja yang terdengar disela desiran angin. Adapun suara lain yang menyela, itu khas dari alam dengan nada memanja, sahut-sahutan katak dan cerewetnya burung-burung.

Karenanya, situ (danau) Cihayam Hideung, situ yang terletak di Dusun Jingkang, Desa Jingkang Kecamatan Tanjungmedar ini memang dirasa cocok tuk menenangkan pikiran, merehatkan tegangnya syaraf akibat padatnya rutinitas, bagai surga bagi siapa saja yang merindukan ketenangan. Ya, karena danau ini terhitung masih perawan, masih sangat-sangat jarang yang berkunjung ke tempat ini, termasuk warga Tanjungmedarnya sendiri.

"Jangan sendiri kalau mau ke Cihayam Hideung," demikian nasehat penduduk sekitar ketika admin bertanya tentang situ ini. Itu sempat membuat admin penasaran, tapi ketika admin bertanya "kenapa?" Admin hanya menjawab jawaban simpel "Maklumlah, ini di lembur (pelosok desa), selalu ada saja cerita-cerita," demikian dan tak ada penjabaran lebih lanjut.

Nasehat itu memang multitafsir, tapi kebanyakan dari kita pasti menafsir dan mengkait-kaitkannya dengan hal mistis, begitu bukan? Apalagi nama situ ini "Cihayam Hideung"yang berarti Ayam Hitam. Ayam Hitam, bagi sebagian orang nama ini bisa saja menggiring pikiran ke  arah "klenik". Tapi itu sah-sah saja tergantung individunya, lagipula tempat ini jarang dikunjungi orang,

Hanya ada beberapa rumah saja di sekitaran situ ini, yang lain terpaut jauh terhalang kebun dan hutan. Mereka yang rumahnya dekat dengan situ ini pun siang hari pergi ke sawah atau ladang, sehingga praktis danau yang airnya dialirkan untuk kebutuhan warga ini hampir selalu sepi. Adapun pengunjung hanya mereka yang berniat memancing ikan, selebihnya tak ada yang lain.

Jika keadaan danau dihubungkan dengan nasehat tadi, jangan sendiri ke tempat ini, tentu itu bisa dimaknai agar kita lebih waspada, lebih konsentrasi dan "aya batur pakumaha" jika saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di danau yang selalau sepi ini. Itu lebih rasional.

Lalu soal nama, Cihayam Hideung, itu juga tak ada sangkut pautnya dengan hal mistis. Adapun dinamai demikian, karena memang berada di blok Cihayam Hideung, airnya juga terlihat hitam karena lumut dan tumbuhan air.

Untuk sampai ke danau ini, kita bisa menggunakan akses jalan dari Desa Jingkang ataupun dari Desa Kamal. Sebagian akses jalannya sudah bagus diplitur dan mudah dilalui kendaraan roda dua, tapi memang sebagian jalannya lagi tetap harus ditempuh dengan berjalan kaki dan akan sangat-sangat licin di musim penghujan, jadi memang, jangan sendiri jika ingin ke tempat ini, berbahaya!!

Saturday, 19 November 2016

Buah Khas Sumedang Ramaikan Fruit Indonesia 2016

Presiden Jokowi dalam opening Fruit Indonesia 2016
Buah Khas Sumedang Ramaikan Fruit Indonesia 2016 - Pada tanggal 17-20 November 2016 ini, Indonesia kembali mendunia-kan buah khas Nusantara melalui event Fruit Indonesia 2016 (dulunya bernama Festival Buah dan Bunga Nusantara/FBBN Internasional) yang bertempat di Senayan, Jakarta. Kementan dan Institut Pertanian Bogor, merupakan pihak-pihak yang bekerjasama dalam menyelenggarakan festival ini.

Dalam sambutannya pada gelaran yang menampilkan kekayaan buah Indonesia ini, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menyampaikan pesan agar event yang sedang berlangsung menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia, karena event Fruit Indonesia memang diproyeksikan sebagai ajang untuk meningkatkan nilai ekspor buah-buah segar Nusantara, yang memang semakin bertumbuh dari tahun ke tahun.

Dalam gelarannya, Fruit Indonesia 2016 menjadi salah satu kegiatan pendukung Gerakan Revolusi Oranye yang dicanangkan pemerintah Indonesia. Gerakan Revolusi Orange sendiri merupakan gerakan pengembangan buah Nusantara dalam skala perkebunan, ini dilakukan demi mengurangi ketergantungan akan buah impor dan agar masyarakat makin mencintai buah tropis asli Nusantara.

Berkaitan dengan event Fruit Indonesia 2016 ini, Sumedang sebagai salah satu penghasil buah khas daerah juga ikut andil dalam memeriahkan event tersebut. Melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Sumedang ikut show up potensi buah yang dimiliki.

Buah khas Sumedang yang ikut dipamerkan dalam festival tersebut antara lain adalah sawo Sukatali, buah naga, jeruk Cikoneng, dan jambu batu kristal. Adapun mangga gedong gincu yang telah mendapat sertifikat indikasi geografis tiga daerah mewakili Kabupaten Majalengka sebagai daerah penghasilnya.
Salah seorang pegawai Dinas Pertanian Sumedang,
di Stan buah Jawa Barat

Buah khas Sumedang yang dihadirkan pada event Fruit Indonesia 2016 ini mengambil sampel dari hasil panen kelompok-kelompok tani yang ada, sesuai garapannya, seperti Sawo Sukatali dari Kelompok Tani Sugih, buah naga dari Kelompok Tani Simpay Tampomas, dan jambu batu kristal dari Kelompok Tani Rimba Mulya I.

Dari ketiga buah khas Sumedang yang disebut di atas, ada satu buah yang bagi Sumedang sendiri sebenarnya merupakan "pendatang baru". Yap, buah itu adalah jambu kristal!

Ya, sebelumnya Sumedang sama sekali  tidak dikenal sebagai daerah penghasil jambu kristal atau jambu batu kristal. Adapun jenis jambu yang ditemukan pada tahun 1991 di District Kao Shiung -Taiwan dan diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1991 ini masuk dalam kategori dan diikutsertakan dalam event adalah karena Sumedang memang sedang gencar-gencarnya membudidayakan jambu jenis tersebut. Beberapa daerah yang menjadi sentra pengembangannya adalah Kecamatan Tomo dan Pamulihan, sejak sekitaran tahun 2010.

Dan bagi dua buah lainnya yaitu buah naga dan sawo Sukatali, memang sudah sejak lama menjadi ikon buah unggulan Kabupaten Sumedang. Kisah fenomenal Simpay Tampomas yang berhasil menyulap lahan gersang eks galian tipe C menjadi berdaya guna, seketika melambungkan buah naga hasil garapannya. Sedang sawo Sukatali sudah sejak lama punya kisah yang melegenda. Mudah-mudahan, jambu kristal Sumedang juga bisa ikut menyusul popularitas keduanya.

Dikutip dari bisnis.com, dikatakan beberapa negara yang ikut hadir pada event tersebut meliputi negara-negara ASEAN, Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, negara kawasan Timur Tengah, Australia, Selandia Baru dan dari benua Eropa serta Amerika.

Thursday, 3 November 2016

Cideukeut, Belantara yang Memikat

Cideukeut, Belantara yang Memikat
Cideukeut, Belantara yang Memikat
Cideukeut, menurut admin daerah ini jadi salah satu spot atau titik yang menarik untuk dikunjungi di Kecamatan Paseh. Kenapa demikian? Karena keadaan alamnya berbeda sendiri dengan lingkungan sekitarnya, dimana daerahnya berupa hutan yang berada di tengah pemukiman dan sawah-sawah.

Menarik memang, Cideukeut yang terletak di Desa Cijambe, Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang ini mempunyai vegetasi tumbuhan yang beraneka ragam. Bahkan, banyak diantara pohon-pohonnya menjulang tinggi dan diperkirakan berusia ratusan tahun. Ketika pohon-pohon besar itu berpadu dengam semak, paku-pakuan, dan tumbuhan liar lainnya, itu menciptakan kesan "leuweung geledegan", ia jadi hutan belantara yang berada di tengah-tengah desa.

Tapi tak perlu takut jika ingin datang atau melewati tempat ini, karena meski mempunyai kesan belantara, ia "dibelah" oleh jalan penghubung desa dan diapit oleh rumah serta sawah penduduk. Jalan yang membelah Cideukeut pun bukan jalan mati, ia terus menerus dilewati kendaraan meski tak seramai jalan-jalan yang lain.

Tapi memang, jeda antar kendaraan yang lewat bisa berlangsung lama. Pada saat itulah sobat bisa merasakan sensasi sepi yang benar-benar sepi di sini, bahkan terkadang tanpa suara serangga khas hutan sekalipun. Entah, tapi admin sendiri merasakan aura yang berbeda di tempat ini, tepatnya ketika tak ada seorang pengunjung pun, dan tak ada suara kendaraan yang lewat memecah hening. Kesan itu diperkuat pohon Ki Hujan dan pohon-pohon besar lain yang benar-benar menutup langit dan memberi suasana berbeda, apalagi akar-akar besar menyembul disana-sini.

Di tepi hutan Cideukeut, terdapat kolam-kolam yang seperti tergenang dan tidak mengalirkan air. Admin kurang tahu, ada yang mengatakan kolam yang terdekat dan bersentuhan langsung dengan tepi hutan merupakan sebuah mata air, tapi admin tidak melihat kolam tersebut mengalirkan air ke kolam-kolam lainnya layaknya sebuah mata air. Mungkin, itu saking kecilnya debit air yang keluar dari tempat tersebut.
Menghabiskan waktu dekat mata air Cideukeut
Menghabiskan waktu dekat mata air Cideukeut
Kolam pertama yang katanya mata air itu, tampak sama tergenang seperti yang lain, dengan lumut dan banyak ikan di dalamnya. Selain itu warna airnya juga keruh, tidak seperti mata air kebanyakan yang mengalirkan air jernih.

Jika ada yang datang ke tempat ini, di dekat kolam mata air inilah biasanya mereka menghabiskan waktu dengan berbincang atau melakukan hal lain. Kebanyakan melakukannya di atas sepeda motor dan tak menyengaja duduk-duduk di lokasi. Tak banyak yang menyengaja datang ke tempat ini selain anak sekolah yang menghabiskan waktu dan mereka yang berniat untuk mandi, karenanya tak heran jika Cideukeut ini terkesan sangat sepi.

Admin sempat berbincang dengan Camat Paseh periode terdahulu, bapak M. Wasman. Beliau mengatakan, bahwa kawasan Cideukeut ini sangat-sangat potensial untuk dijadikan semacam daerah wana wisata. Ya, karena dilihat dari letak dan dan keunikannya, Cideukeut sangat memungkinkan untuk menarik minat wisatawan. Tapi memang, perlu upaya lebih dan serius untuk itu, dimana dukungan dari berbagai pihak juga sangat diperlukan.

Situs Cipinang Pait

Situs Cipinang Pait
Situs Cipinang Pait
Situs Cipinang Pait, merupakan salah satu situs yang berada di Kecamatan Ujung Jaya, Kabupaten Sumedang. Berada di Dusun Cipinang Pait, Desa Cibuluh, situs ini terdiri dari beberapa makam yang ditempatkan dalam satu area.

Sejauh ini, dikarenakan kurangnya informasi yang admin dapat, admin belum mengetahui siapa saja yang dimakamkan di situs tersebut dan bagaimana cerita sejarah dibaliknya. Namun salah seorang penduduk setempat mengatakan, situs Cipinang Pait merupakan pindahan atau relokasi dari daerah lain, dimana yang dimakamkan di situs tersebut mempunyai satu ikatan darah atau satu keluarga. Dan memang benar, di papan informasi ada, tertera nama situs "Situs Cipinang Pait, Relokasi dari Situs Sukagalih".

Sobat ada yang mengetahui siapa saja dan bagaimana cerita sejarah dibalik situs ini? Admin tunggu masukannya di kolom komentar.

Monday, 31 October 2016

Mitos Lulut, Ulat Pembawa Keberuntungan

ulat lulut emas
Ulat Lulut Emas
Mitos Lulut, Ulat Pembawa Keberuntungan - Lulut, apa diantara sobat ada yang pernah melihat binatang ini? Sepintas rupanya seperti ulat, ulat jengkal tepatnya, tapi ukuran tubuhnya relatif lebih kecil, mirip belatung. Berdasar pengalaman mereka yang pernah melihat, lulut biasanya muncul pagi hari ketika udara sedang dingin-dinginnya di musim penghujan. Ia biasanya muncul di kebun-kebun, hutan, atau pekarangan rumah yang lembab dan penuh tumbuhan.

Berdasar dari itu, melihat dari bentuk tubuhnya pula, binatang ini sepertinya memang menyukai habitat lembab, gembur, dan basah. Karenanya seiring banyaknya lahan yang beralih fungsi menjadi rumah, jalan, dan lain sebagainya, lulut juga semakin jarang terlihat. Bahkan mereka orang-orang yang termasuk usia sepuh pun mengaku hanya pernah sekali dua kali saja melihatnya. Itu pertanda bahwa binatang yang selalu muncul bergerombol ini memang sudah semakin langka.

Ya, lulut selalu muncul dalam koloni, diperkiran satu gerombol bisa mencapai jumlah ribuan ekor lulut. Entah darimana asalnya tapi ketika mereka menapaki sebuah area, mereka selalu jalan bergerombol seperti mengikuti satu pemimpin. Jika, terusik sedikit saja, mereka akan langsung berpencar seperti rombongan pasukan yang membubarkan diri. Lulut konon terdiri dari dua jenis, yaitu lulut hitam dan lulut emas.

Di tatar Sunda umumnya dan Sumedang khususnya, lulut emas sangat lekat dengan sebuah kepercayaan, dimana kepercayaan tersebut muncul dari kearifan lokal daerah setempat. Kepercayaan yang juga berbalut mitos tentang binatang ini diantaranya adalah sebagai pembawa keberuntungan, Ya, lulut didaulat sebagai binatang pembawa hoki!

Orang tua dulu menyebut, mana saja pekarangan atau kebun yang dilewati binatang ini, akan membawa rejeki. Adapun jika yang dilewati gerombolan lulut tersebut adalah pekarangan rumah seorang pedagang, maka usahanya akan laris manis, dimana pembeli akan berduyun membeli seperti rupa lulut yang selalu berduyun dan bergerombol. Karenannya, siapa saja yang melihat binatang ini sangat-sangat dilarang untuk membunuhnya, pamali!
Segerombol Ulat Lulut Emas
Segerombol Ulat Lulut Emas
Tapi benarkah demikian? Benarkah lulut membawa hoki? Benarkah siapa saja yang melihat dan tidak membunuhnya akan diliputi keberuntungan hidup? Entahlah. Tapi sepintas dari larangan yang disebut orang tua jaman dulu itu terlihat, bahwa dilarang keras untuk membunuh binatang ini. Tentu, itu berdasar pada kasih sayang pada sesama makhluk hidup, manusia akan dicap sangat jahat di alam langit jika berani membunuh ribuan makhluk yang sama sekali tak mengganggu ini.

Mungkin, pesan itulah yang sebenarnya ingin disampaikan. Adapun "membawa keberuntungan" adalah bumbu yang disesuaikan dengan zamannya. Lagipula memang suatu keberuntungan, jika terhindar dari dosa membunuh ribuan makhluk yang sama sekali tak mengganggu.

Sepintas memang sangat mudah membasmi segerombol lulut karena binatang ini bergerak relatif lambat. Disiram bensin dan dibakar pun mereka yang ribuan jumlahnya akan langsung habis. Atau datangkan ayam ke lokasi kemunculannya, mereka akan langsung habis dimakan. Bukan apa-apa, dorongan untuk membunuh makhluk ini biasanya sangat besar, mengingat rupanya yang menjijikkan bagi sebagian orang dan membuat bergidik. Jadi larangan untuk membunuh lulut, semata-mata hanya untuk melindungi keberadaannya, agar tetap lestari. Karena sekecil apapun makhluk pasti punya andil dalam menjaga keseimbangan ekosistem, apalagi lulut sudah jarang bisa ditemui, termasuk langka.

Sayangnya, banyak yang salah kaprah mengartikan anjuran dan pamali dari karuhun terkait larangan membunuh lulut ini. Dilarang membunuh lulut memang dilaksanakan, tapi embel-embel "akan membawa hoki" membuat sisi tamak manusia terlihat. Seperti misal, lulut yang muncul memang tidak dibunuh, tapi diambil dan disimpan dalam sebuah wadah untuk kemudian dipelihara, diberi pakan. Bukankah itu tetap menyalahi apa-apa yang dianjurkan? Karena sejatinya dilarang untuk membunuh lulut adalah agar binatang ini tidak punah dan bisa berkembang biak di alam bebas.

Lulut, meski sekilas tampak menjijikkan tapi mereka tidak mengganggu. Mereka akan hilang beberapa saat setelah kemunculannya. Gerombolan binatang ini akan raib dengan sendirinya tanpa harus diusir-usir. Adapun jejak yang ditinggalkan biasanya dalah berupa tapak basah berupa lendir yang mudah mengering, mirip tapak keong atau bekicot.

Sekian, semoga bermanfaat.

Thursday, 27 October 2016

Monumen Long March Siliwangi & Sumedang Sebagai Jogja Ke 2

Monumen Long March Siliwangi di Darongdong Buahdua
Monumen Long March Siliwangi di Darongdong Buahdua
Antara Monumen Long March Siliwangi & Sumedang Sebagai Jogja Ke Dua – Darongdong, adalah nama sebuah tempat di Desa Buahdua, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Selintas, tidak ada yang menonjol dari dusun yang berlokasi tidak jauh dari kantor Camat Buahdua ini, dimana pemandangan khas desa tersaji sejauh mata memandang.

Kecamatan Buahdua sendiri merupakan salah satu kecamatan yang berjarak cukup jauh dari pusat kota Sumedang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Indramayu. Dari ilustrasi tersebut tentu sobat bisa bayangkan, tentang bagaimana Darongdong sebagai suatu daerah yang berada di perbatasan wilayah.

Tapi tahukah sobat, Darongdong yang termasuk wilayah “pasisian” Sumedang tersebut mempunyai temali sejarah yang kuat dengan sebuah daerah istimewa di negara ini, Jogjakarta. Dan tentu, juga menjadi bagian tak terpisahkan dari mewujudnya Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan. Saking kuatnya ikatan sejarah yang ada, dulu Sumedang mendapat julukan Jogja ke dua dalam bingkai negara NKRI.

Bahkan untuk mengenang peristiwa tersebut, di Darongdong dibangun sebuah monumen yang sangat megah seperti monumen Bandung Lautan Api. Namun karena berada di pelosok desa, kemegahan monumen tersebut terlihat kontras dengan suasana sekitarnya. Dan karena kurang terekspose monumen yang ada jadi terasa kurang monumental, seperti julukan Sumedang sebagai Jogja ke 2, tak banyak yang tahu tentang hal tersebut.

Lalu bagaimana ceritanya, bagaimana sejarahnya Sumedang bisa disebut sebagai Jogja ke dua? Kenapa pula Darongdong berperan penting dalam keutuhan Indonesia sebagai negara kesatuan? Berikut akan coba admin ceritakan kembali sejarah dibalik itu semua, dari beberapa litelatur yang admin baca ;

***

Kita tentu sudah mengetahui, bahwa secara gampangnya, negara Indonesia dulunya dibentuk oleh daerah-daerah, kerajaan-kerajaan, yang memutuskan untuk bersatu dan membentuk sebuah negara baru karena memiliki pengalaman yang sama, dijajah Belanda. Atau dengan kata lain NKRI terbentuk dari daerah jajahan Belanda yang menyatukan diri, dan menghilangkan sekat-sekat kedaerahan. Itu tercantum dalam Sumpah Pemuda.
Tapi dalam perjalanannya, bentuk negara Indonesia sempat berubah menjadi negara Serikat yaitu Republik Indonesia Serikat (RIS). Dalam Republik Indonesia Serikat, Republik Indonesia hanya menjadi salah satu negara bagian, yang beribukota di Jogjakarta. Saat itu, 90% daerah Indonesia lain kembali jatuh ke tangan Belanda dalam bentuk negara boneka. Hanya RI yang beribukota di Yogyakarta lah yang benar-benar berdaulat.

Perubahan bentuk negara tersebut merupakan buah dari perjanjian Renville (17 Januari 1948) yang sangat merugikan Indonesia. Dikutip dari wikipedia, isi perjanjian tersebut secara garis besar adalah ;
  1. Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia. (Ada pula sumber yang menyebutkan wilayah Republik Indonesia meliputi Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Kedu, Madiun, sebagian keresidenan Semarang, Pekalongan, Tegal bagian selatan dan Banyumas)
  2. Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dengan daerah pendudukan Belanda
  3. TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan Jawa Barat dan Jawa Timur.

Dengan ditandatanganinya Perjanjian Renville yang merupakan kelanjutan dari perselisihan (Indonesia - Belanda) atas Perjanjian Linggarjati tersebut, wilayah Republik Indonesia jauh menyusut dari yang asalnya membentang dari Sabang sampai Merauke. Dan sesuai point ke 3, pasukan bersenjata RI yaitu TNI yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Timur (yang saat itu bukan lagi bagian dari Republik Indonesia) harus ditarik ke negara bagian Republik Indonesia (Jogja dan sekitarnya).

Namun belum lama perjanjian Renville berjalan, pihak Belanda melakukan pelanggaran dengan menyerang Yogyakarta. Serangan ini dikenal dengan Agresi Militer Belanda II. Peristiwa ini kemudian menyulut perlawanan, pasukan bersenjata RI kembali pulang ke daerahnya untuk menduduki kantong-kantong perlawanan di daerah (termasuk Jawa Barat).

Atas intruksi Panglima Besar angkatan bersenjata, mereka yang hijrah ke Jogja kembali pulang ke daerah yang ditinggalkan. Salah satunya pointnya adalah sebagai bentuk perlawanan atas pelanggaran perjanjian. Dari sini lahirlah gerakan Long March Siliwangi, yaitu peristiwa pindahnya Tentara Nasional Indonesia dari Jawa Tengah dan Yogyakarta ke Jawa Barat pada 4 Februari 1949.

Ya, pecahnya Agresi Militer II menjadi pintu gerbang pasukan asal Jawa barat untuk kembali ke daerah asalnya. Peristiwa ini sangat bersejarah, dimana dalam Long March Siliwangi seluruh personel berjalan kaki menuju daerah asal untuk menancapkan kembali Merah Putih di bumi pertiwi, bersama istri dan anak-anaknya. Kenapa dengan istri dan anak-anaknya? Sebab pada saat TNI hijrah ke Jogja, mau tak mau istri dan anak harus menyusul karena satu dan lain hal.

Long March Siliwangi dilaksanakan banyak Brigade dengan menempuh berbagai rute. Dan, Long March Siliwangi Brigade XIII yang dipimpin Kolonel Sadikin sukses mencapai daerah yang telah ditentukan, Buahdua Sumedang. Tapi sudah bukan rahasia, di perjalanan banyak sekali anggota Long March yang gugur karena berbagai sebab. Tidak sedikit pula anggota Long March (TNI) yang kehilangan anggota keluarganya. Mulai dari medan yang ekstrim, jebakan musuh, pemberontakan, semua menghilangkan banyak nyawa dari mereka.

Hingga pada akhirnya, pada tanggal 10 November 1949, bertempat di lapang Darongdong yang ketika itu masih berupa sawah atau tegalan, dilakukan Upacara Kemerdekaan Penyematan Bintang Gerilya, pada tentara Siliwangi yang hijrah dari Jogjakarta ke Buahdua. Itu pertama kalinya dilakukan Republik Indonesia setelah kurang lebih 5 tahun bergelut dalam revolusi fisik. Turut hadir dalam peristiwa tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono IX serta komandan tertinggi Terotorium III Pasukan Siliwangi, Kolonel Sadikin.

***
Monumen Longmarch Siliwangi Darongdong buahdua
Peresmian Monumen Long March Siliwangi di Darongdong Buahdua
Karena rentetan peristiwa tersebutlah, Buahdua khususnya, dan Sumedang umumnya mendapat julukan Jogja dua. Dimana setelah revolusi berakhir, Indonesia kembali dalam bentuk negara kesatuan. Hingga saat ini, Napak Tilas Siliwangi yang dihadiri kalangan sipil dan militer dari berbagai kesatuan rutin dilakukan di tempat tersebut setiap tahunnya.

Monumen Long March Siliwangi begitu megah, dengan relief-relief mengisah perjuangan dan perlawanan atas penjajah pada dinding-dindingnya. Adapun teks yang tertera pada bagian tengahnya adalah sebagai berikut ;

Esa Hilang Dua Terbilang
Siliwangi Abdi Abadi Ampera

Amanat Panglima Besar Sudirman Tahun 1946
Tentara kita jangan sekali-kali menyerah kepada siapapun juga yang akan menjajah dan menindas kita kembali

Amanat Panglima Besar Sudirman Tahun 1949
Satu-satunya milik nasional Republik Indonesia yang masih tetap utuh tidak berubah-ubah meskipun harus menghadapi segala macam soal dan perubahan adalah TNI

Prinsip pejuang
Lebih baik mati berkalang tanah daripada menghianati perjuangan Bangsa Indonesia

Para pahlawan yang gugur

Mayor Abdulrahman Natakusumah
Komandan Batalyon II/Tarumanegara

Kapten Edi Soemadipradja
Komandan Kompi II Batalyon II Tarumanegara

Sersan Sobur

Kopral Karna

Sersan Roni

Prajurit Saleh

Sersan Darsono

Sersan Dahlan
Anak Buah kapten Rivai

Soemawidjadja
Kepala Desa Cibubuan

Tirta
Masyarakat Dusun Lencang Cibubuan

Suwita
Pemuda Dusun Sampora – Cibubuan

Dan para pahlawan tak dikenal

Sekian, semoga bermanfaat. Mohon dikoreksi jika terdapat kesalahan pada alur sejarah di atas.
Monumen Longmarch Siliwangi Darongdong buahdua
Monumen Long March Siliwangi di Darongdong Buahdua Dengan Landscape Gunung Tampomas